BSFF #9: Festival Kuliner Kota Batu yang Disetel sebagai Strategi, Bukan Sekadar Pesta
Festival Gastronomi Kota Batu adalah sebuah festival kuliner Kota Batu yang sengaja dirancang untuk menghubungkan petani, pelaku usaha, chef, hotel, restoran, dan wisatawan dalam satu ruang pertemuan, sehingga kuliner lokal naik kelas dari sekadar jajanan jalanan menjadi bagian strategi ekonomi kreatif pangan jangka panjang. Batu Street Food Festival (BSFF) #9 resmi dibuka Wali Kota Batu Nurochman pada Kamis, 17 September 2026, dan digelar selama tiga hari di Balai Kota Among Tani sebagai agenda unggulan HUT Kota Batu. Event yang berlangsung sejak 2018 ini sudah berjalan sembilan tahun dan kini tidak lagi diperlakukan sebagai acara seremonial rutin. Intinya: pemerintah kota sedang menguji satu gagasan penting – apakah festival bisa diubah menjadi mesin ekosistem gastronomi lokal yang terukur.
Empat Puluh Tenant dan Ekosistem Gastronomi Lokal: Mengapa Kurasi Lebih Penting daripada Keramaian
BSFF #9 menghadirkan 40 tenant: 10 booth sponsor dan 30 booth kuliner berstandar hotel dan restoran berbintang. Ini bukan angka asal ramai, tetapi sinyal bahwa kurasi mulai ditempatkan di depan euforia. Dengan komposisi tersebut, festival kuliner Kota Batu ini diarahkan menjadi etalase gastronomi, bukan pasar tumpah yang sulit dibedakan dengan bazar biasa. Wali Kota menegaskan bahwa BSFF “bukan hanya tempat menjual makanan”, melainkan ruang yang mempertemukan petani, chef, pelaku usaha, UMKM, komunitas, dan wisatawan untuk menumbuhkan ekosistem gastronomi Kota Batu. Dikombinasikan dengan agenda live cooking kepala daerah di pembukaan, festival ini sengaja didesain sebagai panggung pengalaman rasa sekaligus narasi—sebuah cara halus untuk mengajarkan bahwa kuliner lokal layak disejajarkan dengan standar nasional, bahkan internasional.
Dari Event ke Aset: HAKI, Warisan Ladu, dan Ambisi Kota Gastronomi
Langkah paling berani dari strategi ini adalah upaya menjadikan BSFF sebagai kekayaan intelektual kota. Wali Kota meminta panitia segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) melalui portal OSS agar festival ini memiliki kepemilikan merek yang kuat dan siap dipromosikan ke tingkat nasional sebagai ikon kuliner Kota Batu. Kepala dinas pariwisata menegaskan, selama sembilan tahun, BSFF sudah tumbuh sebagai intellectual property kolektif yang membutuhkan payung hukum supaya tidak mudah diklaim daerah lain dan siap dikembangkan hingga level internasional. Momentum ini bersinggungan dengan pengakuan jajanan Ladu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari kementerian terkait pada 2026, yang memperkuat klaim sektor gastronomi kota. Pesannya jelas: festival bukan “acara pinjaman” yang bisa diganti kapan saja, melainkan aset gastronomi kota yang perlu dilindungi dan dikelola.
Mengincar UNESCO: Festival sebagai Laboratorium Ekonomi Kreatif Pangan
BSFF tidak berdiri sendirian; ia menjadi argumen utama dalam lobi Kota Batu menuju jaringan kota kreatif UNESCO di bidang gastronomi. Pemerintah kota sudah mempresentasikan diri di kementerian ekonomi kreatif dan disebut telah melewati seleksi nasional tahap awal untuk nominasi kota kreatif gastronomi 2027. Di sini festival kuliner Kota Batu berfungsi sebagai laboratorium ekonomi kreatif pangan: hasil bumi tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk kuliner bernilai dan pengalaman wisata. Bagi warga dan pelaku usaha, dampaknya konkret: ada panggung rutin untuk menguji produk, membangun jaringan dengan hotel dan restoran, sekaligus mengasah cerita brand. Bagi kota, BSFF menjadi portofolio hidup—bukti bahwa ekosistem gastronomi lokal bukan slogan di dokumen perencanaan, melainkan praktik yang bisa dilihat, dicicipi, dan dihitung.
Mendorong Kuliner Lokal ke Level Nasional: Apa yang Harus Dijaga Berikutnya
Secara garis besar, BSFF #9 menunjukkan bagaimana festival terstruktur bisa menjadi platform yang mendorong kuliner lokal menembus pasar nasional. Dengan perlindungan HAKI, festival ini lebih mudah diposisikan sebagai brand kota yang konsisten tampil di berbagai kanal promosi dan jejaring luar daerah. Namun tantangan berikutnya jauh lebih taktis: menjaga kualitas kurasi tenant, memastikan keterhubungan dengan petani dan pemasok lokal, dan menghindari jebakan sekadar mengejar ramai pengunjung tanpa nilai tambah. Kota Batu sudah punya fondasi—BSFF sebagai aset gastronomi, pengakuan Ladu sebagai WBTB, dan proses menuju kota kreatif gastronomi. Kini yang dibutuhkan adalah disiplin: memperlakukan festival bukan sebagai acara tiga hari, melainkan mekanisme berulang yang tiap tahun meng-upgrade kapasitas pelaku, memperkaya narasi, dan mempertebal identitas kuliner kota.






