Mendengar siswa adalah langkah pencegahan
Edukasi kesehatan mental di sekolah adalah proses terencana yang membantu siswa mengenali emosi, mencari bantuan, dan membangun hubungan aman sekaligus mencegah perundungan dalam kegiatan belajar sehari-hari. Nilainya bukan pada banyaknya materi yang disampaikan, melainkan pada apakah siswa merasa aman untuk bicara dan tahu ke mana harus meminta pertolongan. Contohnya terlihat dalam Gerakan Remaja Peduli Kesehatan Mental (GAUL) yang digelar LKC Dompet Dhuafa Jawa Barat di SMP Nurul Ihsan, Subang, pada 14 Oktober 2026. Kegiatan bertema “Pengalaman Hidup Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata” itu diikuti 44 siswa. Siswa diajak memahami kesehatan mental, menyampaikan perasaan, dan lebih peduli pada persoalan teman sebaya. Mereka juga mengikuti edukasi pencegahan perundungan dan skrining kesehatan jiwa menggunakan kuesioner SRQ. Kolaborasi dengan sekolah, pemerintah setempat, dan tenaga kesehatan membuat pendekatan ini lebih bermakna daripada kampanye sesaat. LKC berharap edukasi dan pemantauan dapat berlangsung berkala untuk memperkuat kepedulian serta pencegahan perundungan.

Mengenali emosi membantu menghentikan bullying
Program anti-bullying pelajar akan lebih berguna ketika anak bukan hanya diminta bersikap baik, tetapi juga dibekali cara memahami perasaan dan merespons kejadian. Mahasiswa magang Fakultas Psikologi Universitas Airlangga bersama Bagian Psikologi Biro SDM Polda Jawa Timur mengadakan psikoedukasi “Kenali Emosi, Hentikan Bullying” untuk siswa kelas VI SD Negeri Tambak Sumur. Materinya mencakup lima emosi dasar—senang, sedih, marah, takut, dan jijik—serta cara mengelolanya dengan sehat. Siswa juga belajar membedakan candaan dari perundungan dan memahami langkah yang bisa dilakukan: mengatakan tidak, mendukung korban, atau melapor kepada guru. Permainan Bingo, lagu, tanya jawab, serta tes sebelum dan sesudah kegiatan membuat siswa terlibat aktif. Pendekatan praktis seperti ini penting karena pencegahan perundungan sekolah perlu diterapkan dalam interaksi sehari-hari, bukan berhenti sebagai slogan. Program ini turut mendukung SDGs 3, 4, dan 16 melalui kesejahteraan mental, pendidikan yang inklusif, dan perlindungan anak dari kekerasan.

Ruang aman juga berarti ruang untuk bercerita
Pendidikan kesehatan mental perlu memberi anak kesempatan untuk bersuara, bukan hanya meminta mereka menghafal definisi perundungan. Pada 11 Oktober 2026, mahasiswa UBSI Tegal mengadakan kegiatan pengabdian tentang kesehatan mental dan anti-bullying di Panti Pelayanan Sosial Anak Suko Mulyo. Kegiatan yang menjadi bagian dari pembelajaran Pendidikan Pancasila itu diikuti 34 anak tingkat SD dan SMP. Peserta membahas bentuk perundungan verbal, fisik, dan digital serta dampaknya terhadap kondisi psikologis korban. Sesi “Curahan Hati” anonim menggunakan catatan tempel memberi mereka cara untuk menyampaikan perasaan dan harapan tanpa harus langsung berbicara di depan kelompok. Unsur ini patut ditiru: dukungan psikologis siswa dimulai dengan mendengarkan tanpa menghakimi. Kegiatan interaktif dapat membuka percakapan, tetapi sekolah dan lembaga pendamping tetap perlu menyediakan tindak lanjut ketika cerita anak menunjukkan bahwa ia membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Pertolongan awal perlu hadir di lingkungan sekolah
Ketika anak mengalami tekanan, krisis, atau trauma, dukungan yang datang cepat dan penuh empati dapat membantu mereka merasa aman untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Puskesmas Ganding mengadakan edukasi First Aider P3LP bagi murid SDN Gadu Barat 1 pada 21 Oktober 2026. Kegiatan itu bertujuan membekali siswa dengan pemahaman tentang pertolongan psikologis awal bagi anak yang mengalami krisis, stres berat, atau trauma. Kepala puskesmas juga menekankan pentingnya kepekaan guru dan orang di sekitar siswa terhadap perubahan perilaku maupun kondisi emosional mereka. Pelatihan seperti ini memperluas dukungan psikologis siswa di luar ruang konsultasi: orang di lingkungan sekolah dapat mengenali kebutuhan awal dan merespons dengan empati. Namun, pertolongan teman sebaya bukan pengganti pendampingan tenaga yang sesuai. Jika sekolah ingin menjadi tempat yang aman dan nyaman, edukasi harus disertai jalur bantuan yang jelas. Itulah ukuran keberhasilan inisiatif lokal: siswa lebih berani mencari pertolongan, dan orang dewasa siap mendengarkan serta menindaklanjutinya.






