Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kabut Asap Memperpanjang Sekolah Daring, Kebijakan Daerah Berbeda

Kabut Asap Memperpanjang Sekolah Daring, Kebijakan Daerah Berbeda
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Kesehatan siswa menjadi alasan utama

Pembelajaran jarak jauh adalah cara menyelenggarakan kegiatan belajar tanpa kehadiran fisik siswa di sekolah, biasanya melalui kelas daring atau tugas yang disesuaikan dengan akses dan kondisi mereka. Saat kabut asap karhutla menurunkan kualitas udara, kebijakan ini menjadi langkah perlindungan kesehatan—tetapi masa berlaku dan ruang keputusan sekolah berbeda antarwilayah. Palu memperpanjang sekolah daring bagi siswa PAUD, SD, dan SMP negeri maupun swasta mulai Senin, 26 Oktober, sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan itu merespons kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat. Pemantauan BMKG mencatat PM1 sebesar 157 mikrogram, PM2,5 sebesar 150 mikrogram, dan PM10 sebesar 159 mikrogram. Angka tersebut memperjelas bahwa PJJ bukan sekadar urusan pengaturan jadwal: paparan udara buruk dapat menjadikan tatap muka risiko yang tak patut diabaikan. Namun, perlindungan harus disertai pilihan belajar yang tetap bisa dijangkau semua siswa.

Kabut Asap Memperpanjang Sekolah Daring, Kebijakan Daerah Berbeda

Palu dan Parimo memilih ketetapan waktu berbeda

Palu menetapkan pembelajaran daring tanpa batas akhir yang diumumkan, sedangkan Parigi Moutong (Parimo) menetapkan PJJ selama dua hari, pada 29–30 Oktober 2026. Di Parimo, kebijakan mencakup jenjang TK/PAUD, SD, dan SMP, dan dibuat untuk melindungi peserta didik, pendidik, serta tenaga kependidikan dari polusi udara. Perbedaan ini mencerminkan respons administratif yang berlainan, bukan alasan untuk menganggap risiko di satu tempat lebih ringan tanpa melihat datanya. Di kedua daerah, kebijakan perlu tetap berpijak pada pemantauan kualitas udara dan perkembangan asap. Parimo menyatakan akan mengevaluasi PJJ secara berkala dengan mempertimbangkan informasi resmi BMKG dan rekomendasi instansi terkait; kebijakan dapat diperpanjang bila kualitas udara belum membaik. Kepastian durasi membantu keluarga menata kegiatan harian, tetapi keputusan yang terlalu kaku juga berisiko tertinggal dari perubahan kondisi.

Otonomi sekolah mempercepat respons di Kalimantan Timur

Samarinda memperpanjang pedoman PJJ hingga 16 November 2026, tetapi tidak mewajibkan seluruh sekolah langsung mengalihkan pembelajaran. Sekolah dapat menentukan metode berdasarkan kualitas udara di wilayah masing-masing tanpa menunggu edaran baru, setelah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup atau BMKG. Pada tingkat provinsi, sekolah di Kalimantan Timur juga diberi keleluasaan menetapkan PJJ ketika asap menebal dan kualitas udara memburuk. Koordinasi dapat dilakukan melalui telepon atau WhatsApp, bukan hanya surat resmi. Model ini lebih tangkas daripada menunggu instruksi berulang, sebab kondisi udara dapat berubah antarlokasi dan dalam waktu singkat. Namun, otonomi hanya berguna jika sekolah memiliki acuan yang jelas: pemantauan yang dapat dipercaya, komunikasi dengan keluarga, dan koordinasi antarlembaga. Setelah 16 November, Samarinda akan mengevaluasi apakah pedoman perlu diperpanjang atau dihentikan sesuai perkembangan karhutla.

Kabut Asap Memperpanjang Sekolah Daring, Kebijakan Daerah Berbeda

Fleksibilitas harus mencakup akses belajar

Memindahkan kelas ke rumah tidak otomatis membuat pendidikan tetap berjalan bagi semua anak. Palu meminta sekolah menyesuaikan metode dengan kebutuhan dan kemampuan siswa serta menyediakan alternatif bagi yang terkendala akses daring. Parimo mengatur pilihan berupa penugasan mandiri atau metode lain bagi siswa yang tidak memiliki internet atau perangkat digital, tanpa mengharuskan mereka datang ke sekolah. Ini penting: kebijakan kesehatan tidak boleh berubah menjadi beban baru bagi keluarga yang konektivitasnya terbatas. Kualitas udara sekolah sebaiknya menjadi dasar keputusan yang cepat, tetapi kelangsungan belajar juga harus dinilai dari kemampuan murid mengikuti materi. Sekolah perlu menjaga komunikasi guru, siswa, dan orang tua, serta menyesuaikan beban tugas selama PJJ. Ketika udara membaik, evaluasi juga harus menentukan kapan tatap muka aman untuk dimulai kembali.

Perlindungan perlu disertai aturan yang bisa dijalankan

Perbedaan kebijakan daerah menunjukkan tidak ada satu durasi PJJ yang cocok untuk semua wilayah. Palu memilih perpanjangan sampai ada pemberitahuan, Parimo menetapkan dua hari dengan evaluasi berkala, dan Samarinda memperpanjang pedoman sambil menyerahkan keputusan harian kepada sekolah. Pilihan terakhir berpotensi paling responsif, tetapi hanya jika sekolah memiliki informasi kualitas udara yang memadai dan kewenangan itu dipahami keluarga. Sebaliknya, edaran yang berlaku seragam lebih mudah memberi kepastian, namun bisa lamban mengikuti asap yang bergerak. Karena itu, sekolah daring perlu dipandang sebagai langkah perlindungan yang terukur, bukan pengganti permanen pembelajaran tatap muka. Pemerintah daerah perlu memastikan pemantauan, komunikasi, dan pilihan belajar alternatif berjalan bersamaan. Kesimpulannya, keputusan paling bertanggung jawab ialah yang melindungi kesehatan tanpa mengorbankan akses pendidikan, serta dapat berubah ketika data udara berubah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!