Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Doomscrolling Merusak Kesehatan Mental: Mengapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk

Doomscrolling Merusak Kesehatan Mental: Mengapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk
Minat|Kesehatan Mental

Doomscrolling: Kebiasaan Sepele yang Diam-Diam Menghantam Kesehatan Mental

Doomscrolling adalah kebiasaan terus membaca atau menonton konten negatif di media sosial, meski membuat suasana hati memburuk, yang sering terjadi berulang terutama sebelum tidur dan sulit dihentikan. Ini bukan sekadar rasa ingin tahu, tetapi pola perilaku yang perlahan mengikis kesehatan mental. Niatnya hanya mengecek ponsel sebentar sebelum tidur, namun tanpa sadar satu jam berlalu dengan membaca berita bencana, konflik, hingga kasus kriminal. Pikiran makin cemas, tetapi jari terus menggulir layar. Jika pola ini terasa akrab, itu tanda bahaya, bukan kebiasaan normal. Doomscrolling kesehatan mental adalah kombinasi berbahaya: otak lelah, emosi terkuras, tetapi kita tetap terpaku pada berita buruk media sosial. Pertanyaannya bukan lagi apakah kebiasaan ini berbahaya, melainkan seberapa lama kita mau membiarkannya menguasai hidup.

Doomscrolling Merusak Kesehatan Mental: Mengapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk

Sains di Balik Doomscrolling: Otak yang Haus Ancaman dan Kepastian Semu

Doomscrolling bekerja karena otak manusia memang dirancang waspada terhadap ancaman. Informasi negatif lebih mudah menarik perhatian karena otak cenderung fokus pada bahaya. Kita merasa dengan terus membaca berita buruk media sosial, kita akan lebih siap menghadapi dunia. Padahal, membaca berita membuat kita merasa lebih siap, tetapi informasi berlebihan justru bisa memicu kecemasan baru. Di era digital, media sosial menjadi salah satu sumber informasi yang mudah diakses oleh masyarakat, terutama Generasi Z. Kemudahan akses ini membuat kecemasan digital Generasi Z meledak: notifikasi tak berhenti, timeline penuh krisis, dan otak tidak pernah diberi kesempatan istirahat. Kebiasaan doomscrolling kesehatan mental ini bukan sekadar konsumsi informasi; ini adalah pola ketergantungan pada rasa takut dan ketidakpastian yang terus dipelihara.

Generasi Z, Kecemasan Digital, dan Gangguan Tidur dari Scrolling

Generasi Z paling rentan terhadap doomscrolling karena tumbuh dengan akses mudah ke media sosial dan paparan informasi krisis berkelanjutan. Penelitian terhadap 330 partisipan berusia 18–29 tahun menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kecemasan serta menjelaskan 18,4% variasi tingkat kecemasan partisipan. Artinya, hampir seperlima naik-turunnya kecemasan mereka berkaitan dengan kebiasaan ini. Data survei pendahuluan lain menunjukkan 24 dari 30 calon partisipan mengaku kesulitan menghentikan doomscrolling dan mengalami peningkatan kecemasan terkait masa depan maupun kestabilan hidup. Kebiasaan ini meningkatkan kecemasan, menimbulkan kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan, dan memperburuk gejala depresi melalui paparan berita negatif tanpa jeda. Lebih parah lagi, doomscrolling juga dapat mengganggu kualitas tidur; kebiasaan membaca berita negatif secara terus-menerus dapat memicu kecemasan dan menyebabkan kesulitan tidur atau insomnia.

Ketika Berita Buruk Menguasai Hidup: Dampak Nyata pada Keseharian

Dampak doomscrolling kesehatan mental terasa jelas dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang terus membaca berita tentang bencana atau konflik dapat merasa takut dan khawatir meskipun peristiwa tersebut tidak terjadi secara langsung di sekitarnya. Siswa yang terus membaca berita tentang sulitnya mencari pekerjaan dapat merasa pesimis ketika memikirkan masa depannya dan lebih berfokus pada ketakutan daripada mempersiapkan diri. Paparan berita negatif secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya stres, kecemasan, dan menurunnya kesejahteraan psikologis. Kebiasaan ini juga dapat menimbulkan pikiran negatif, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan meningkatkan risiko kesulitan tidur. Gangguan tidur dari scrolling membuat otak tidak sempat pulih, sehingga hari berikutnya diisi kelelahan, sulit konsentrasi, dan mood buruk. Meskipun mencari informasi penting, membaca berita buruk secara berulang tidak selalu membuat seseorang lebih memahami suatu peristiwa dan sering hanya menambah beban mental.

Cara Menghentikan Doomscrolling: Batas Waktu, Notifikasi, dan Aktivitas Penenang

Menghentikan doomscrolling bukan soal niat kuat semata, tetapi soal strategi konkret. Dengan demikian, membatasi waktu penggunaan media sosial serta memilih informasi dari sumber tepercaya merupakan langkah penting untuk membantu menjaga kesehatan mental. Pengguna media sosial perlu menentukan batas waktu membaca berita, memilih sumber informasi yang tepercaya, dan berhenti sejenak ketika mulai merasa cemas. Cara menghentikan doomscrolling yang efektif antara lain: menetapkan batas waktu layar harian, mematikan notifikasi yang memicu kecemasan, dan mengganti doomscrolling dengan aktivitas menenangkan seperti membaca buku ringan, menulis jurnal, atau latihan pernapasan. Membatasi penggunaan media sosial sebelum tidur merupakan langkah bijak untuk menjaga kualitas istirahat dan kesehatan mental. Intinya, memperoleh informasi tetap penting, tetapi kesehatan mental juga harus menjadi prioritas; penggunaan media sosial secara seimbang diharapkan dapat membantu seseorang terhindar dari kebiasaan doomscrolling yang berlebihan dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!