Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Berita Buruk Menggerus Kesehatan Mental dan Cara Melindungi Diri

Mengapa Berita Buruk Menggerus Kesehatan Mental dan Cara Melindungi Diri
Minat|Kesehatan Mental

Berita Buruk, Timeline Tanpa Henti, dan Beban Emosional yang Nyata

Dampak berita buruk terhadap kesehatan mental adalah tekanan emosional dan kelelahan psikologis yang muncul ketika seseorang mengonsumsi berita negatif secara terus-menerus, terutama lewat media sosial yang menghadirkan arus informasi tanpa henti sehingga pikiran sulit beristirahat dan emosi terasa terkuras. Paparan berita buruk secara terus-menerus memang dapat membuat seseorang lelah secara emosional. Timeline yang hampir setiap hari berisi tragedi membuat dada sesak dan kepala pusing, hingga banyak orang merasa burnout media sosial hanya gara-gara scrolling. Istilah doomscrolling digunakan untuk menggambarkan kebiasaan terus mengonsumsi informasi negatif, dan penelitian mengaitkannya dengan tekanan psikologis. Kesehatan mental digital menuntut kita mengakui hal ini sebagai masalah, bukan sekadar ketidaknyamanan kecil. Jika setiap notifikasi adalah pintu menuju bencana, konflik, dan penderitaan, maka tidak mengatur batas konsumsi berita negatif sama dengan membiarkan diri tenggelam dalam arus yang melelahkan.

Mengapa Berita Buruk Menggerus Kesehatan Mental dan Cara Melindungi Diri

Mindfulness, Privilege, dan Batas antara Berita Buruk dan Realitas Orang Lain

Mindfulness sering diiklankan sebagai obat mujarab untuk menghadapi berita buruk, seolah semua orang bisa mematikan notifikasi dan fokus pada hal positif saat kepala penat. Padahal kontroversi seputar ajakan “ambil jarak dari bad news” menyingkap fakta pahit: tidak semua orang punya kemewahan yang sama untuk mengambil jarak dari masalah. Kalimat “being able to step away from the news is itself a privilege” menjadi relevan ketika bad news di layar kita adalah bad reality bagi orang lain. Perawat, ibu yang bergantung pada info bantuan lewat grup pesan, mahasiswa dengan tekanan ekonomi—mereka tidak bisa mematikan notifikasi tanpa konsekuensi. Mindfulness bukan berarti denial atau menolak peduli. Ada perbedaan penting antara mindfulness dan sekadar menilai sesuatu secara positif; Ellen Langer membedakan mindfulness dari positive evaluation. Artinya, mindfulness tidak menuntut seseorang untuk merasa baik sepanjang waktu; kesedihan dan ketakutan tetap dapat hadir dalam pengalaman mindful.

Ketika Kesehatan Mental Digital Berhadapan dengan Empati Sosial

Nasihat “jangan kebanyakan konsumsi berita negatif” ada benarnya, tetapi menjadi masalah ketika berubah jadi sikap anti-ketidaknyamanan. Di balik kata “banjir” ada rumah yang terendam, di balik “gempa” ada orang yang kehilangan tempat tinggal, di balik “erupsi” ada warga yang harus mengungsi. Ketika sebuah berita muncul di layar ponsel selama tiga puluh detik, bagi orang lain peristiwa tersebut bisa menjadi pengalaman yang mengubah hidup. Menghindari berita buruk untuk menjaga kesehatan mental digital boleh; mengatur batas informasi adalah hal yang wajar. Tetapi menjaga mental tidak sama dengan mematikan empati. Burnout media sosial bukan alasan untuk menganggap bencana sebagai gangguan terhadap kenyamanan belaka, atau menyebut korban terlalu banyak mengeluh. Mindfulness dan berita seharusnya membuat kita lebih sadar: kita bisa menutup aplikasi, sedangkan mereka tidak bisa menutup kenyataan. Kalau kesehatan mental menjadi tameng untuk mengabaikan penderitaan orang lain, yang bermasalah bukan beritanya, tetapi sikap kita.

Mengenali Burnout Media Sosial dan Mekanisme Psikologis di Baliknya

Burnout media sosial muncul ketika seseorang terus-menerus terekspos pada konten negatif tanpa filter atau batasan, sampai tubuh dan pikiran merespons dengan kelelahan, sinisme, atau mati rasa. Rasanya hampir setiap hari timeline berisi tragedi yang bikin dada sesak dan kepala pusing; wajar kalau akhirnya kita merasa butuh break. Pesan bahwa ketika arus informasi mulai mengganggu kondisi psikologis, seseorang dapat mengambil jarak untuk menjaga kesehatan mentalnya, penting untuk diakui. Mengambil jarak dari informasi dapat menjadi strategi yang sehat bagi seseorang yang mengalami kelelahan akibat paparan berita. Di level psikologis, doomscrolling mengunci kita dalam siklus waspada terus-menerus: otak mencari lebih banyak ancaman, sementara energi emosional terus terkuras. Kalau dibiarkan, kita kehilangan resiliensi emosional, lebih mudah marah, cemas, dan pada titik tertentu memilih mati rasa sebagai mekanisme bertahan. Itu berbahaya, karena mati rasa terhadap berita negatif bisa merembet menjadi mati rasa terhadap manusia di balik berita itu.

Strategi Melindungi Mental tanpa Mematikan Kepedulian

Kabar baiknya, menjaga kesehatan mental digital tidak harus berarti menutup mata dari realitas. Pertama, batasi waktu konsumsi berita negatif: kita boleh membatasi konsumsi berita agar kesehatan mental tetap terjaga, dan mengatur batas informasi adalah hal yang wajar. Kedua, pilih sumber informasi yang lebih terpercaya dan tidak mengeksploitasi tragedi sebagai umpan keterlibatan; ini membantu menurunkan overload emosional. Ketiga, kembangkan resiliensi emosional lewat mindfulness yang tepat: bukan memaksa diri berpikir positif, tetapi meningkatkan kesadaran terhadap pengalaman dan membangun hubungan yang lebih adaptif dengan pikiran serta emosi. Kalau kepala sudah penuh, istirahatlah; kalau mental sudah capek, tutup layar. Lalu, setelah energi pulih, tanyakan: “Setelah gue tahu semua ini sedang terjadi, apa hal kecil yang bisa gue lakukan?” Sesederhana menyebarkan informasi donasi yang valid atau lebih berempati pada orang sekitar. Menjaga diri dan menjaga kepedulian bukan dua kubu yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari kedewasaan emosional.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!