Patriotisme yang dibuktikan lewat kepedulian
Patriotisme pemuda adalah kesediaan mengabdi kepada bangsa melalui tindakan yang melindungi masyarakat, persatuan, dan alam sebagai ruang hidup bersama. Karena itu, cinta tanah air tak cukup dinyatakan dalam upacara atau slogan: ia perlu tampak dalam cara generasi muda merawat lingkungan yang menopang kehidupan sehari-hari. Pesan itu ditegaskan Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, setelah memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Semarang pada 28 Oktober 2026. Ia mengaitkan kecintaan kepada Indonesia dan karakter tangguh dengan kontribusi nyata, termasuk kepedulian pada lingkungan. Sudut pandang ini penting di tengah tantangan zaman yang terus berubah: generasi muda bukan hanya penerima masa depan, melainkan ikut menentukan kualitasnya. Patriotisme yang berhenti pada kebanggaan simbolis terlalu sempit; kepedulian terhadap alam dan sesama membuatnya berarti bagi kehidupan bersama.
Sumpah Pemuda diterjemahkan menjadi aksi
Ajakan untuk bergerak juga datang dari Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri). Dalam Youth Talk Take Action ke-7, yang digelar daring pada 2 November 2026, kementerian mengajak anak muda memaknai semangat Sumpah Pemuda melalui aksi nyata: memakai ruang digital secara positif, membangun kolaborasi lintas komunitas, serta ikut menjaga dan melaporkan ancaman terhadap hutan dan satwa liar. Makna ikrar 1928 dapat dibawa ke kebiasaan hari ini: satu tanah air berarti menjaga hutan sebagai ruang hidup bersama; satu bangsa berarti bekerja melintasi perbedaan; satu bahasa berarti mengisi ruang digital dengan informasi jujur dan santun. Perangkat dan jaringan memberi anak muda cara baru untuk mengabdi, tetapi teknologi bukan tujuan. Nilainya ditentukan oleh apakah informasi dibagikan secara bertanggung jawab dan mendorong tindakan yang bermanfaat.
Anak muda sebagai mata dan telinga penjaga hutan
Menjaga hutan bukan pekerjaan yang bisa diserahkan kepada petugas saja. Polisi kehutanan Johan Prasetyo mengingatkan bahwa jumlah personel terbatas, sementara kawasan yang harus diawasi sangat luas. Karena itu, warga dan generasi muda dapat membantu sebagai mata dan telinga tambahan dengan melaporkan indikasi pembakaran hutan atau perdagangan satwa liar melalui kanal resmi. Inilah bentuk aksi pemuda yang konkret: mengenali tanda bahaya, tidak menyebarkan tuduhan tanpa dasar, lalu menyampaikan laporan melalui jalur yang tepat. Peran tersebut tidak mensyaratkan semua orang menjadi ahli kehutanan. Pengalaman Abdullah Syahira Antoni, yang berlatar pendidikan bahasa Inggris dan kemudian terlibat dalam kegiatan pelestarian, menunjukkan bahwa komunikasi, pendidikan, penelitian, dan keahlian teknis dapat saling melengkapi. Patriotisme tumbuh menjadi kerja bersama ketika orang dengan kemampuan berbeda berkontribusi pada tujuan yang sama.
Kebiasaan sehari-hari menentukan kelanjutan
Pelestarian lingkungan tidak hanya berlangsung di hutan atau saat bencana menjadi perhatian. Sumarno menekankan pentingnya membangun kepedulian sejak dini melalui kebiasaan menjaga kebersihan, melindungi alam, dan bertanggung jawab atas kondisi sekitar. Tindakan sehari-hari ini mungkin tampak kecil, tetapi membentuk sikap yang membuat kepedulian lebih konsisten daripada respons sesaat setelah kerusakan terjadi. Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 juga menjadi dorongan bagi anak muda untuk meningkatkan kapasitas, berani menyampaikan gagasan, bekerja keras, dan terlibat dalam kegiatan sosial maupun pembangunan. Kampanye “Genries Bergerak, Hutan Terjaga!” menempatkan ajakan itu dalam rangkaian kegiatan yang mendorong kontribusi berkelanjutan. Harapannya bukan satu hari penuh semangat, melainkan komitmen yang berawal dari lingkungan terdekat dan terus berkembang.
Kesimpulannya, patriotisme pemuda paling kuat ketika persatuan dan cinta tanah air menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan: lingkungan lebih terjaga, ancaman terhadap hutan lebih cepat dilaporkan, dan masyarakat lebih peduli pada alam. Semangat Sumpah Pemuda layak dirawat bukan hanya sebagai ingatan sejarah, melainkan sebagai ajakan untuk bertindak. Anak muda dapat memulainya sekarang—dengan kebiasaan baik, kolaborasi, dan keberanian melindungi hutan.






