Persatuan diuji saat aspirasi berbeda
Hari Sumpah Pemuda adalah peringatan ikrar para pemuda pada 1928 yang menegaskan persatuan sebagai dasar kehidupan bersama di tengah keberagaman pandangan dan latar belakang. Nilai itu terasa nyata ketika Polda Jawa Tengah mengajak masyarakat menjaga persatuan menjelang peringatan pada 28 Oktober 2026, saat sejumlah kelompok merencanakan penyampaian aspirasi di berbagai daerah. Ajakan tersebut penting karena demokrasi membutuhkan ruang untuk berbeda pendapat, tetapi juga kedewasaan agar perbedaan aspirasi tidak berubah menjadi permusuhan. Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Yuliyanto menyampaikan pada 27 Oktober bahwa aspirasi harus disampaikan secara damai, santun, dan bertanggung jawab, seraya menghormati kerukunan serta persaudaraan. Sikap saling menghargai bukan pelengkap bagi kebebasan berbicara; itulah yang memungkinkan suara berbeda tetap hidup tanpa merusak hubungan sosial.
Ruang demokrasi perlu dijaga bersama
Rencana kegiatan di Surakarta dan Banyumas membuat pesan menjaga ketertiban memiliki arti praktis. Aksi Rakyat Banyumas dijadwalkan berlangsung mulai pukul 13.00 WIB di Alun-alun Purwokerto, dengan perkiraan sekitar 1.000 peserta. Di Surakarta, aksi terkait dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran direncanakan berlangsung pukul 15.00–18.00 WIB di kawasan Bundaran Gladag atau Patung Slamet Riyadi. Konvoi simpatik juga dijadwalkan pada pagi hari, sementara audiensi direncanakan di Klaten, Kabupaten Tegal, dan Blora. Polda menyatakan menghormati hak menyampaikan pendapat dan akan mengawal kegiatan secara profesional serta humanis, dengan mengutamakan komunikasi dan pendekatan persuasif. Bagi warga yang beraktivitas di sekitar lokasi, imbauannya sederhana: tetap tenang, ikuti informasi resmi, dan patuhi arahan petugas jika ada pengaturan lalu lintas. Menjaga ketertiban bukan berarti membungkam aspirasi, melainkan melindungi hak semua orang.
Persatuan pemuda harus tampak dalam tindakan
Pada 28 Oktober, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan memimpin upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Lapangan Apel Mapolda Jateng. Upacara dimulai pukul 07.00 WIB dan diikuti pejabat utama serta personel dari berbagai satuan kerja. Dalam amanat Menteri Pemuda dan Olahraga yang dibacakannya, persatuan pemuda dikaitkan dengan tindakan sehari-hari, bukan sekadar seremoni tahunan. Patriotisme, kegigihan, dan empati sosial disebut sebagai karakter yang perlu dibangun: pengabdian yang bermanfaat, ketekunan menghadapi tantangan, dan kepekaan terhadap persoalan orang lain. Penekanan pada empati masyarakat patut diperhatikan, sebab persatuan tidak tumbuh hanya dari kesamaan semboyan. Ia tumbuh ketika orang bersedia memahami dampak tindakannya terhadap sesama, termasuk mereka yang berbeda pandangan atau tidak terlibat dalam aksi.

Menghormati perbedaan adalah inti peringatan
Kedua kegiatan itu menyampaikan pesan yang saling melengkapi: ajakan Polda Jateng menempatkan penyampaian aspirasi secara damai sebagai tanggung jawab bersama, sementara upacara menegaskan bahwa persatuan harus hadir dalam karakter dan tindakan. Keduanya mengingatkan bahwa perbedaan pendapat adalah bagian wajar dari demokrasi, bukan alasan untuk saling merendahkan. Karena itu, makna Sumpah Pemuda tidak selesai ketika bendera diturunkan atau kegiatan publik berakhir. Maknanya tampak saat peserta aksi menjaga ketertiban, petugas mengedepankan dialog, dan warga saling memberi ruang untuk beraktivitas. Kesimpulannya, merawat persatuan bukan tuntutan agar semua orang sepakat, melainkan kesediaan untuk berbeda tanpa memutus persaudaraan. Jika empati menyertai kebebasan berpendapat, perbedaan aspirasi dapat menjadi kekuatan demokrasi, bukan pemicu perpecahan.






