Ayah Bukan Figuran: Kesehatan Keluarga Dimulai dari Pendampingan Sejak Kehamilan
Peran ayah dalam kesehatan keluarga adalah keterlibatan aktif laki-laki sebagai suami dan orang tua dalam menjaga kesehatan reproduksi pasangan, mendukung pendampingan kehamilan ayah, ikut mengambil keputusan sadar terkait KB pascapersalinan, serta hadir dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak sehingga tercipta program keluarga tangguh yang kuat secara fisik, emosional, dan sosial. Di banyak rumah tangga, ayah masih dianggap cukup dengan memberi nafkah. Padahal, data dan pengalaman lapangan menunjukkan: ketika ayah hadir sejak garis start—kehamilan—hingga pascapersalinan dan pengasuhan, kualitas keluarga naik drastis. Inilah arah baru kebijakan kesehatan keluarga: menjadikan keterlibatan ayah kesehatan bukan pelengkap, melainkan prasyarat lahirnya generasi yang sehat dan berkarakter.
Magelang: Kelas SAHABAT Menjadikan Ayah Mitra Strategis dari Hamil hingga KB Pascapersalinan
Peluncuran Kelas SAHABAT (Sinergi Ayah dan Ibu untuk Anak Tumbuh Hebat) di Kabupaten Magelang adalah pesan politik kesehatan yang tegas: ayah wajib duduk di bangku edukasi, bukan hanya di kursi kepala keluarga. Program ini dirancang sebagai ruang belajar bersama pasangan untuk meningkatkan pendampingan kehamilan ayah sampai keputusan KB pascapersalinan yang sadar, sukarela, dan bertanggung jawab. Menurut Bella Pinarsi, Total Fertility Rate (TFR) Magelang pada 2025 berada di angka 2,12, selaras dengan target nasional, didukung layanan KB gratis di 66 fasilitas kesehatan di 21 kecamatan. “Hingga pertengahan 2026, peserta KB mencapai 77,71 persen, melampaui target 72,14 persen,” kata Bella. Angka ini bukan sekadar capaian teknis; ini bukti bahwa ketika ayah diajak masuk ruang keputusan reproduksi, efektivitas program kesehatan reproduksi dan perlindungan ibu-anak menguat.
Dari Angka ke Ketahanan: Ayah Terlibat dan Munculnya Keluarga Tangguh
Kelas SAHABAT di Magelang menggabungkan Kelas Ayah Idaman dan Kelas Ibu Hamil, lalu mengikat keduanya dengan pendampingan desa, kader, dan fasilitas kesehatan yang menarget ibu nifas hingga 42 hari serta edukasi kepada ibu hamil dan suami sejak awal kehamilan. Di level desa, kepala desa Kerincing menegaskan, “Ketika ayah terlibat, dari ibu hamil sampai pascakelahiran, tentunya akan menjadi keluarga yang kuat”. Pernyataan ini sejalan dengan gagasan program keluarga tangguh: kesehatan bukan lagi urusan individu perempuan, tapi proyek bersama seluruh anggota keluarga. Capaian KB pascapersalinan yang mencapai 89,8 persen dan melampaui target 87,19 persen menunjukkan bahwa kebijakan yang menempatkan ayah sebagai mitra kesehatan keluarga berdampak nyata pada keberlanjutan perencanaan keluarga dan pencegahan masalah seperti kehamilan tidak direncanakan maupun stunting.
GATI dan Pesan "Ayah Wajib Hadir": Mengubah Mandat Ayah dalam Pengasuhan
Di kota lain, Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) membawa narasi serupa dengan cara berbeda: lewat Seminar Pembangunan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga bertema “Ayah Wajib Hadir” yang dibuka Sekda Kota Banjarmasin Ichrom Muftezar pada 18 Agustus 2026. Fokusnya jelas: memperkuat peran ayah dalam pengasuhan untuk mewujudkan keluarga tangguh dan berkualitas. Ichrom mengingatkan, hadir bukan hanya fisik, tetapi juga dalam tumbuh kembang, komunikasi, kasih sayang, dan keteladanan. Ia menyoroti tantangan era gawai dan media sosial, ketika anak lebih dekat ke layar daripada ke orang tua. Di sini, peran ayah pengasuhan menjadi garis depan: mengarahkan penggunaan teknologi, menyediakan percakapan bermakna, dan menjadi figur panutan. Pesannya tajam: ayah jangan bersembunyi di balik peran pencari nafkah; satu percakapan dan satu teladan bisa menjadi bekal hidup anak.
Dari Inisiatif Lokal ke Agenda Nasional: Mengapa Ayah Harus Dilibatkan Sejak Hari Pertama
Benang merah antara Kelas SAHABAT dan GATI adalah keberanian menggugat budaya lama yang menempatkan ibu sebagai pusat tunggal kesehatan dan pengasuhan, sementara ayah berdiri di pinggir. Di Magelang, program KB diposisikan sebagai pilar misi “Sehat Wargane”, dan pemerintah meminta desa, kader, serta fasilitas kesehatan berkolaborasi mengedukasi suami sejak awal kehamilan serta memastikan pelayanan KB pascapersalinan. Di Banjarmasin, Sekda berharap GATI menjadi gerakan bersama: dimulai dari keluarga, diperkuat masyarakat, didukung pemerintah, dan dikolaborasikan dengan mitra kerja agar lahir generasi hebat dan masyarakat tangguh. Keduanya menunjukkan arah: keterlibatan ayah kesehatan bukan isu kecil, melainkan strategi pembangunan. Kesimpulannya, jika ingin keluarga tangguh, kebijakan kesehatan harus berhenti memandang ayah sebagai tamu. Ayah harus diakui sebagai aktor utama sejak strip pertama kehamilan hingga pengasuhan panjang anak.






