Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Rumah Belajar dan Pelatihan Guru: Strategi Universitas Menguatkan Literasi dan Numerasi di Daerah

Program Rumah Belajar dan Pelatihan Guru: Strategi Universitas Menguatkan Literasi dan Numerasi di Daerah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Rumah Belajar dan Pelatihan Guru: Jawaban Konkret atas Krisis Literasi

Program rumah belajar desa dan pelatihan guru SMP adalah bentuk pengabdian masyarakat pendidikan yang secara sengaja dirancang universitas untuk memperkuat literasi numerasi siswa sekaligus kompetensi pendidik di daerah, melalui pendampingan belajar terstruktur bagi anak dan pengembangan kapasitas guru agar mampu merancang asesmen, modul ajar, serta praktik pembelajaran yang lebih bermakna dan berkelanjutan. Inisiatif seperti ini penting karena krisis literasi dan numerasi tidak akan selesai hanya dengan kurikulum baru; ia membutuhkan kehadiran nyata perguruan tinggi di tengah masyarakat, bukan sekadar seminar sekali datang lalu hilang. Ketika universitas turun langsung ke desa dan kabupaten, pendidikan tidak lagi menjadi urusan sekolah semata, tetapi proyek bersama lintas institusi yang menempatkan anak dan guru sebagai pusat perubahan.

Program Rumah Belajar di Desa Banyuajuh: Laboratorium Literasi Numerasi Berbasis Komunitas

Program Rumah Belajar di Desa Banyuajuh adalah contoh jelas bahwa peningkatan literasi numerasi siswa bisa dimulai dari ruang belajar sederhana di kampung, bukan dari gedung megah di kota. Mahasiswa PGSD Universitas Trunojoyo Madura melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui program kerja ini sebagai upaya langsung mendukung kemampuan belajar anak, khususnya dalam bidang literasi dan numerasi. Rumah Belajar dirancang sebagai wadah pendampingan belajar dengan kegiatan menyenangkan, interaktif, dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta, sehingga anak tidak merasa “disekolahkan ulang” setelah pulang sekolah. Sebelum berjalan, mahasiswa melakukan koordinasi dan sosialisasi dengan SD/MI sekitar untuk memperkenalkan program dan meminta izin pelaksanaan; respons positif sekolah menunjukkan bahwa kolaborasi universitas sekolah dapat tumbuh jika pihak kampus datang dengan sikap mendengar, bukan menggurui. Dampaknya, anak-anak mendapat ruang aman untuk bertanya, berdiskusi, dan menyelesaikan tugas dengan cara yang lebih menarik, sementara orang tua melihat bahwa belajar di luar sekolah bisa sama seriusnya dengan di kelas. Melalui program ini, diharapkan motivasi belajar meningkat dan kemampuan literasi serta numerasi anak-anak Desa Banyuajuh berkembang, sekaligus menegaskan bahwa pengabdian masyarakat pendidikan yang konsisten jauh lebih berharga daripada seremonial bantuan sesaat.

Program Rumah Belajar dan Pelatihan Guru: Strategi Universitas Menguatkan Literasi dan Numerasi di Daerah

Pelatihan Guru SMP UPI–MGMP: Menguatkan Literasi Asesmen dari Ruang Kelas

Jika Rumah Belajar menyasar anak, pelatihan guru SMP oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bersama MGMP Bahasa Inggris di Kabupaten Bandung Barat dan Pangandaran menyasar jantung kualitas pembelajaran: guru dan asesmen mereka. Kegiatan pengabdian ini bertajuk “Pelatihan Eksplorasi Keselarasan Literasi Asesmen Bahasa dan Pengembangan Modul Ajar: Inovasi Konstruktif untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Praktik menuju Pembelajaran Mendalam”, dan telah berlangsung sejak April 2026 secara daring dan luring, diikuti oleh 30 hingga 60 guru per sesi dari 30 hingga 40 sekolah di berbagai gugus MGMP. Fakta bahwa puluhan guru mau meluangkan waktu mengikuti rangkaian seminar, lokakarya, dan pendampingan modul ajar menunjukkan kesadaran bahwa pelatihan guru SMP tidak boleh berhenti pada teori. Menurut Dr. Fazri Nur Yusuf, pentingnya keselarasan literasi asesmen dengan praktik lapangan menjadi alasan utama desain pelatihan yang fokus pada penyusunan instrumen asesmen bahasa dan modul ajar yang benar-benar aplikatif di kelas. Kutipan kuncinya tegas: “Minat guru-guru MGMP terhadap pelatihan ini sangat tinggi. Ini juga menjadi upaya kami menyambut kebijakan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di jenjang SD pada 2027 mendatang, sehingga guru-guru Bahasa Inggris di jenjang SMP dapat lebih siap menghadapi perubahan tersebut”. Dengan pendampingan langsung, guru tidak hanya menambah pengetahuan konseptual, tetapi belajar merancang asesmen dan modul ajar kontekstual sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam yang tengah didorong kebijakan pendidikan nasional.

Kolaborasi Universitas, Guru, dan Daerah: Pendidikan Sebagai Proyek Bersama

Kekuatan dua program ini bukan hanya pada aktivitasnya, tetapi pada pola kolaborasi universitas sekolah dan pemerintah daerah yang mulai terbentuk. Di Banyuajuh, koordinasi mahasiswa dengan SD/MI sekitar menempatkan sekolah sebagai mitra, bukan objek, sehingga Rumah Belajar menjadi perpanjangan ekosistem pendidikan lokal, bukan saingan lembaga formal. Di Bandung Barat dan Pangandaran, pelatihan UPI digelar bersama MGMP Bahasa Inggris SMP dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga di kedua kabupaten, dengan dukungan pengurus MGMP seperti Hengki Anggra Hermawan, Trisna Kristiana, dan Yusep Saepuloh. Kombinasi perguruan tinggi, organisasi profesi guru, dan pemerintah daerah ini memperlihatkan bahwa pengabdian masyarakat pendidikan yang serius harus menempel pada kebutuhan pengembangan profesi guru secara berkelanjutan, bukan program sekali datang lalu selesai. Penyelenggara bahkan menegaskan bahwa kerja sama UPI, MGMP, dan dinas setempat akan terus berlanjut sepanjang tahun 2026 sebagai komitmen peningkatan kompetensi guru secara berkesinambungan. Sementara itu, Rumah Belajar dikerangkai sebagai pendampingan belajar yang berkelanjutan, bukan kelas tambahan musiman. Di titik inilah kedua inisiatif bertemu: sama-sama menjawab kebutuhan daerah akan peningkatan kualitas pembelajaran dasar dan kompetensi pendidik, dari anak SD/MI di desa hingga guru bahasa Inggris SMP di kabupaten.

Kesimpulan: Dari Desa ke Kabupeten, Universitas Harus Hadir sebagai Mitra

Pelajaran utama dari Program Rumah Belajar di Desa Banyuajuh dan pelatihan literasi asesmen guru SMP di Bandung Barat serta Pangandaran sederhana namun tajam: universitas yang ingin relevan tidak cukup menghasilkan laporan pengabdian; ia harus menyentuh kelas dan kampung. Di Banyuajuh, mahasiswa PGSD UTM menjadikan program rumah belajar desa sebagai wadah nyata peningkatan literasi numerasi siswa, memfasilitasi pembelajaran yang menyenangkan dan terarah bagi anak-anak. Di sisi lain, UPI bersama MGMP Bahasa Inggris SMP menunjukkan bahwa pelatihan guru SMP yang berkelanjutan, terstruktur, dan kontekstual mampu memperkuat kualitas pembelajaran bahasa Inggris serta menyiapkan guru menghadapi kebijakan baru pada 2027. Dua pendekatan ini saling melengkapi: anak membutuhkan pendampingan belajar yang dekat dengan kehidupan mereka, guru membutuhkan ruang belajar profesional yang menantang praktik mereka. Jika pola pengabdian masyarakat pendidikan seperti ini diperluas ke lebih banyak daerah, maka cita-cita memperbaiki kualitas pembelajaran dasar tidak lagi sekadar narasi kebijakan, tetapi pengalaman sehari-hari siswa dan guru di desa serta kabupaten.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!