Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Intervensi Sumur Tua Pertamina: Lonjakan Produksi 91 Kali

Intervensi Sumur Tua Pertamina: Lonjakan Produksi 91 Kali
Minat|Asia Tenggara

Intervensi Sumur Minyak: Cara Murah Menghidupkan Aset Matang

Intervensi sumur minyak adalah serangkaian tindakan teknis pada sumur yang sudah berproduksi untuk meningkatkan kinerja dan menambah produksi tanpa melakukan pengeboran sumur baru, biasanya mencakup evaluasi ulang reservoir, isolasi zona bermasalah, serta pembukaan kembali lapisan yang masih menyimpan hidrokarbon, sehingga menjadi strategi optimalisasi sumur tua yang jauh lebih hemat dibanding eksplorasi lapangan baru. Well intervention teknik yang diterapkan PT Pertamina EP (PEP) di Sumur BN-38 adalah contoh paling terang bagaimana pendekatan ini bukan sekadar pemeliharaan, tetapi strategi bisnis yang cerdas. Di satu sisi, langkah ini menekan kebutuhan investasi pengeboran baru yang mahal, di sisi lain langsung mengangkat produksi minyak meningkat dalam hitungan hari. Pertamina EP optimalisasi sumur matang di Bunyu menunjukkan bahwa ketika data subsurface dibaca ulang dengan teliti, sumur yang dianggap “tua” masih bisa diubah menjadi mesin produksi yang segar.

BN-38: Dari 8 ke 733 Barel, Bukti Potensi Sumur Matang

Keajaiban BN-38 bukan datang dari pengeboran, melainkan dari keberanian mempertanyakan asumsi lama tentang sumur matang. PEP Bunyu Field berhasil meningkatkan produksi Sumur BN-38 dari sekitar 8 barel menjadi 733 barel setelah dilakukan well intervention. Selain minyak, produksi gas dari sumur yang sama melonjak hingga 0,52 MMSCFD, jauh melampaui target awal 0,10 MMSCFD. Lonjakan 91 kali lipat ini mengirim pesan tegas: mengabaikan sumur tua adalah membuang cadangan yang masih bernilai. Senior Manager Bunyu Field, Ruri Heriandi, menegaskan pencapaian ini adalah hasil evaluasi menyeluruh terhadap kondisi sumur dan reservoir, termasuk membaca kembali data saturasi log untuk memetakan distribusi hidrokarbon. Pernyataannya, “hasil awalnya menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan dan semoga bisa bertahan dalam waktu yang panjang,” bukan sekadar rasa syukur, tetapi sinyal bahwa strategi ini akan terus didorong.

Teknik Water Shut Off dan Perforasi: Inti Well Intervention BN-38

Di balik angka impresif BN-38, ada keputusan teknis yang sangat spesifik. Dari evaluasi subsurface, tim menemukan interval J-72 yang masih menyimpan potensi hidrokarbon dan belum diproduksikan secara optimal. Interval ini dibuka kembali untuk meningkatkan produksi, sekaligus diiringi tindakan disiplin terhadap bagian sumur yang mengganggu. Intervensi sumur minyak dilakukan melalui metode water shut off dengan mengisolasi dan menyemen interval yang terindikasi menghasilkan air. Pada saat yang sama, tim melakukan perforasi pada lapisan top sand untuk membuka peluang produksi minyak sekaligus menekan potensi masuknya air. Inilah well intervention teknik yang seharusnya menjadi standar: bukan sekadar “coba-coba” memompa lebih keras, melainkan rekayasa selektif zona produktif dan nonproduktif berdasarkan data. Pendekatan presisi seperti ini menjelaskan mengapa produksi minyak meningkat drastis, bukan hanya naik sedikit.

Lapangan Matang Bukan Beban, Melainkan Aset Strategis

Lapangan Bunyu digambarkan sebagai salah satu lapangan migas yang telah memasuki fase mature, yang secara tradisional sering dipandang sebagai aset yang menurun nilainya. Keberhasilan BN-38 meruntuhkan pandangan itu. General Manager Zona 10, Darmapala, menekankan bahwa peningkatan produksi dari lapangan migas mature tidak selalu harus dilakukan dengan membuka sumur atau lapangan baru; sumur yang sudah berproduksi masih memiliki peluang untuk dioptimalkan melalui pemahaman reservoir yang lebih presisi serta penerapan teknologi dan inovasi. Pernyataannya, “Keberhasilan well intervention di Sumur BN-38 menunjukkan bahwa optimalisasi aset eksisting dapat memberikan tambahan produksi yang berarti. Upaya seperti ini akan terus kami dorong untuk mengoptimalkan potensi aset yang dimiliki Pertamina,” adalah pergeseran paradigma eksplisit dari budaya bor baru ke budaya reaktivasi cerdas. Dalam kerangka ketahanan energi, sikap ini jauh lebih masuk akal daripada mengejar ekspansi tanpa memeras dulu potensi aset yang sudah ada.

Kesimpulan: Well Intervention Harus Jadi Tulang Punggung Strategi Migas

Kasus BN-38 di Lapangan Bunyu adalah argumen kuat mengapa intervensi sumur minyak dan optimalisasi aset eksisting layak naik kelas menjadi tulang punggung strategi migas nasional, bukan pelengkap. Tanpa bor sumur baru, PEP Bunyu Field mampu mengubah sumur dengan produksi sekitar 8 barel menjadi 733 barel melalui well intervention yang terencana. PEP Bunyu Field juga menyatakan akan terus mengoptimalkan potensi lapangan tersebut guna menjaga keberlanjutan produksi migas sekaligus mendukung ketersediaan dan ketahanan energi nasional. Jika pendekatan data-driven seperti evaluasi interval J-72, water shut off, dan perforasi top sand diadopsi secara sistematis, lapangan-lapangan mature tidak lagi identik dengan senja produksi, melainkan dengan babak baru efisiensi. Pilihannya jelas: terus memburu sumur baru yang mahal, atau mengakui bahwa sumur tua yang direvitalisasi bisa menjadi sumber tambahan produksi yang sangat berarti.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!