Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Produksi Panas Bumi Pertamina Melonjak: Dari Listrik Bersih ke Inovasi Pupuk

Produksi Panas Bumi Pertamina Melonjak: Dari Listrik Bersih ke Inovasi Pupuk
Minat|Asia Tenggara

Panas Bumi Bukan Sekadar Listrik: Inti Transformasi PGE

Produksi panas bumi adalah pemanfaatan energi panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik bersih sekaligus mendukung aktivitas ekonomi lain, mulai dari pengelolaan limbah organik sampai inovasi pupuk geothermal organik yang mampu meningkatkan hasil pertanian dan mengurangi biaya produksi bagi masyarakat sekitar wilayah kerja. Dalam beberapa tahun terakhir, Pertamina Geothermal Energy (PGE) tampil sebagai salah satu pemain utama yang tidak hanya fokus pada pembangkit listrik, tetapi juga pada pertumbuhan sektor energi yang terhubung langsung dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini layak dibaca sebagai perubahan paradigma: energi terbarukan Indonesia tidak berhenti di panel indikator pembangkit, melainkan masuk ke lahan kubis, kebun kopi, dan ladang kentang. Di sinilah keunggulan PGE dibanding banyak pelaku energi lain yang masih berpikir semata-mata soal kilowatt dan megawatt.

Ekspansi Produksi Panas Bumi: Lumut Balai dan Proyek Baru

Pertumbuhan PGE sebagai tulang punggung energi terbarukan Indonesia tercermin dari agresifnya ekspansi produksi panas bumi. Percepatan pembangunan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim dengan kapasitas masing-masing 55 MW menunjukkan orientasi jangka panjang untuk pasokan listrik bersih yang andal. Setelah Final Investment Decision untuk Unit 3 dikantongi pada kuartal I, pengeboran sumur LMB 19-3 dimulai 8 Juli, disusul LMB-19.4 pada 17 September. Masuknya proyek ini ke Green Book Kementerian PPN/Bappenas memberi akses pendanaan, tetapi yang lebih penting adalah sinyal politik: panas bumi ditempatkan sebagai prioritas ketahanan energi. Di luar Lumut Balai, proyek Lahendong Low Pressure 15 MW, co‑generation 230 MW yang membidik PPA kuartal IV, dan Gunung Tiga Ulubelu yang menargetkan COD 2029, mempertegas bahwa pertumbuhan sektor energi sedang digerakkan oleh kapasitas terpasang yang stabil, bukan sekadar wacana transisi.

GeO-Fert: Ketika Energi Bersih Menjadi Pupuk Organik

PGE tidak puas hanya mengirim listrik ke jaringan; mereka membawa panas bumi langsung ke sawah. Melalui pupuk geothermal organik GeO-Fert, ekses uap PLTP Kamojang bersuhu 60–70 derajat Celsius dipakai untuk mengeringkan pupuk organik, memangkas waktu dari sekitar 14 hari menjadi hanya 12 jam. Ini bukan eksperimen kecil: sekitar 30 ton GeO-Fert diaplikasikan pada lahan 1,2 hektare kubis varietas Granova di Kamojang, menghasilkan panen sekitar 70 ton dengan beberapa tanaman mencapai bobot 6 kg per buah, dua kali kubis lokal biasa. "Panen Kelompok Tani Hutan Cikondang menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta dan menghemat biaya pupuk sekitar Rp20 juta," kata PGE dalam keterangannya resmi. Inovasi ini secara terang menunjukkan bahwa produksi panas bumi bisa menjawab dua isu sekaligus: pengelolaan limbah dan peningkatan pendapatan petani.

Dampak Nyata ke Petani: Efisiensi Biaya dan Lonjakan Hasil

Manfaat GeO-Fert paling mudah dibaca dari kalkulator petani. Di Kamojang, penggunaan pupuk ini bukan hanya mendongkrak hasil kubis, tetapi juga menghemat biaya pupuk sekitar Rp20 juta pada satu siklus panen. Pada budidaya kentang di lahan sekitar 4.200 meter persegi, GeO-Fert mengangkat hasil dari sekitar 4.525 kg menjadi 7.581 kg dan menurunkan biaya produksi dari sekitar Rp73,1 juta menjadi Rp49,5 juta per tahun—efisiensi sekitar Rp23,5 juta per tahun. Di tengah mahalnya input pertanian, penghematan seperti ini adalah perbedaan antara bertahan dan bangkrut. Lebih menarik lagi, warga terlibat menyuplai limbah organik untuk proses produksi pupuk, sehingga rantai ekonominya bersifat lokal dan inklusif. Program Desa Energi Berdikari Kanyaah yang memadukan GeO-Fert dengan PLTS mandiri memperlihatkan model desa energi bersih yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, bukan hanya target kapasitas teknis.

Dari TJSL ke ESG: PGE Menguji Masa Depan Energi Terbarukan

PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, terdiri dari 727 MW yang dioperasikan langsung dan 1.205 MW melalui Kontrak Operasi Bersama. Skala ini setara sekitar 70 persen kapasitas nasional dan berpotensi mengurangi emisi sekitar 10 juta ton CO₂ per tahun. Namun angka besar saja tidak cukup; arah strateginya yang menentukan. Dengan menempatkan GeO-Fert dan fasilitas seperti Geothermal Dry House sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan untuk memperluas manfaat energi bersih, PGE sedang menguji bentuk baru praktik ESG yang nyata, bukan seremonial. Proyek co‑generation dan pengembangan Gunung Tiga pun akan dinilai bukan hanya dari megawatt tambahan, tetapi dari seberapa jauh listrik bersih mengangkat ekonomi lokal. Jika model ini konsisten, produksi panas bumi bisa menjadi tulang punggung energi terbarukan Indonesia sekaligus alat pemberdayaan desa. Konklusinya sederhana: masa depan energi bersih akan dimenangkan oleh pemain yang berani menyambungkan turbin dengan ladang, bukan oleh yang berhenti di laporan keuangan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!