Akses stasiun harus mengikuti perubahan perjalanan
Penataan kawasan Stasiun Karet-Sudirman adalah upaya mengatur jalur, fasilitas, dan ruang sekitar stasiun agar perpindahan penumpang lebih mudah sekaligus memungkinkan kawasan berfungsi sebagai ruang publik. KAI melanjutkan pembenahan Stasiun Karet dan Stasiun BNI City atau Sudirman Baru setelah layanan KRL dialihkan dari Karet ke Sudirman Baru pada 1 September 2026. Perubahan itu membuat penyesuaian akses bukan sekadar pekerjaan kosmetik: jalur menuju moda lanjutan perlu jelas, aman, dan nyaman bagi penumpang dengan kebutuhan berbeda. Aktivitas keluar-masuk gerbang KRL Sudirman Baru mencapai 646.411 pada September, naik dari 190.060 pada Agustus. Kenaikan ini mempertegas perlunya akses yang mampu mengikuti perubahan arus perjalanan. Namun, angka tersebut menunjukkan perubahan aktivitas bulanan, bukan bukti bahwa fasilitas baru telah menyelesaikan semua kendala. Ukuran keberhasilan tetaplah kemudahan yang dirasakan pengguna sehari-hari.
Travelator dan koridor sebagai sambungan perjalanan
Rencana fasilitasnya mencakup satu travelator datar sepanjang 20 meter dan dua travelator vertikal, serta koridor pejalan kaki, penataan lanskap, area penurunan penumpang, eskalator akses, dan kanopi selasar. Kombinasi ini masuk akal karena perjalanan tidak berhenti di pintu gerbang: penumpang perlu berpindah dari kereta ke kendaraan lanjutan atau berjalan kaki tanpa terputus oleh akses yang membingungkan. Travelator stasiun dapat membantu mengurangi beban berjalan, sementara koridor pejalan kaki yang tertata memberi arah lebih tegas dan perlindungan dari cuaca. Tetapi fasilitas tidak otomatis menjamin aksesibilitas. Lebar jalur, petunjuk yang mudah dipahami, pemeliharaan, dan pengaturan arus orang sama pentingnya dengan pembangunan fisik. KAI menjadwalkan pekerjaan hingga 31 Desember 2026 dan menyatakan pelaksanaannya bertahap sesuai kebutuhan pelanggan serta kondisi kawasan. Tahap demi tahap sebaiknya disertai informasi yang jelas agar pekerjaan tidak menambah kebingungan pengguna.
Ruang publik hidup ketika warga ikut mengisinya
Infrastruktur yang baik membuat stasiun lebih mudah dilalui; kegiatan warga dapat membuat ruang di sekitarnya lebih bermakna. Daop 1 Jakarta membuka peluang kolaborasi kegiatan masyarakat yang bermanfaat di ruang publik KAI, dengan syarat keselamatan, ketertiban, kebersihan, dan kelancaran operasional tetap terjaga. Contohnya, pameran instalasi “Saling Sangga” berlangsung di Taman Stasiun Manggarai hingga 31 Oktober 2026, melibatkan Komunitas Seni Ngakarya, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, dan Dewan Kesenian Jakarta. Dalam rangkaian itu, Kelas Kanvas menyediakan kegiatan menggambar gratis bagi anak-anak RW 02 Manggarai, memberi mereka ruang untuk mengenal seni dan mengekspresikan gagasan. Contoh dari Manggarai ini bukan bukti bahwa program serupa sudah berlangsung di kawasan Karet-Sudirman, tetapi menunjukkan peluang yang bisa dipertimbangkan. Ruang publik stasiun dapat menampung kegiatan kreatif jika penjadwalan dan lokasinya tidak mengganggu arus penumpang.
Kenyamanan dan fungsi transportasi harus berjalan bersama
Tantangan KAI bukan memilih antara kelancaran transportasi dan kegiatan publik, melainkan merancang keduanya agar saling mendukung. Jalur pejalan kaki yang jelas membantu mobilitas harian, sementara ruang yang dikelola dengan baik bisa menjadi tempat bertemu, belajar, dan berkegiatan. Namun, stasiun tetap memiliki fungsi utama sebagai fasilitas transportasi; kegiatan warga harus terkoordinasi dan mematuhi aturan. Karena itu, ruang acara perlu dibedakan dari jalur utama, kapasitas pengunjung diperhitungkan, dan kebersihan serta keselamatan dijaga. Penataan bertahap hingga akhir Desember memberi KAI kesempatan untuk menilai kebutuhan lapangan sebelum fasilitas digunakan. Keterbukaan terhadap masukan pengguna dan warga akan menentukan apakah perubahan ini sekadar mempercantik kawasan atau benar-benar meningkatkan pengalaman bersama. Pada akhirnya, Stasiun Karet-Sudirman akan lebih berhasil bila nyaman untuk dilalui, mudah diakses, dan tetap memberi ruang bagi kegiatan masyarakat tanpa menghambat perjalanan.






