Lebih dari Sekadar Film Remaja Nakal: Menggugat Cara Kita Melabeli Anak
Film ‘Yang Disebut Nakal’ adalah sebuah drama keluarga Indonesia bergenre drama komedi yang menyorot kehidupan remaja berlabel nakal, dengan menempatkan program pembinaan remaja sebagai panggung utama untuk membongkar akar perilaku anak salah paham dan mengajak orang tua serta pendidik melihat kembali cara mereka memaknai kenakalan. Di bawah arahan Benni Setiawan, film remaja nakal ini tidak berhenti pada kisah anak bermasalah, melainkan mengkritik cara masyarakat memberi cap tanpa memahami konteks emosional di balik perilaku tersebut. Sikap film ini jelas: istilah “nakal” lebih sering lahir dari persepsi orang dewasa yang enggan mendengar cerita lengkap. Alih-alih memposisikan remaja sebagai objek hukuman, film ini mendorong penonton melihat mereka sebagai subjek yang sedang berjuang, yang butuh ruang aman untuk diarahkan, bukan dihakimi.

Program Pembinaan 21 Hari: Realita Keras yang Dibalut Hangat
Inti cerita ‘Yang Disebut Nakal’ berpusat pada sekelompok remaja dari beragam latar belakang yang diwajibkan mengikuti program pembinaan selama 21 hari di sebuah kawasan terpencil. Di ruang jauh dari zona nyaman ini, disiplin, tanggung jawab, dan aturan bukan sekadar alat penertib, tetapi pintu untuk mengungkap luka keluarga, rasa kehilangan, dan konflik yang selama ini disimpan rapat oleh para remaja. Menariknya, lokasi pembinaan yang diangkat ke layar lebar bukan fiksi belaka; jenis tempat seperti ini memang ada dan kerap digunakan perusahaan untuk melatih calon karyawan baru. Ketika film drama keluarga Indonesia ini memindahkan format pembinaan tersebut ke konteks remaja, pesan yang muncul menjadi lebih tajam: sistem yang selama ini dipakai untuk membentuk orang dewasa ternyata bisa juga menjadi cermin betapa minimnya ruang aman bagi anak untuk belajar mengelola emosi dan relasi.
Perilaku Anak Salah Paham: Dari Rumah ke Label Nakal
Film ini tegas menyatakan bahwa remaja yang dianggap bermasalah belum tentu berniat buruk; mereka sering sedang menghadapi badai persoalan hidup yang tidak dipahami orang dewasa di sekelilingnya. Di sini, ‘Yang Disebut Nakal’ menyentuh inti isu parenting modern: perilaku anak salah paham adalah cermin dari kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi di rumah. Menurut Fatih Unru, perilaku membangkang seorang anak umumnya merupakan pemantulan dari situasi dan kebutuhan emosional yang tak terpenuhi di dalam rumah. Pernyataan ini seharusnya menjadi alarm bagi orang tua dan pendidik. Alih-alih sibuk memadamkan gejala di sekolah atau di ruang publik, film ini mengingatkan bahwa akar masalah sering berawal dari pola komunikasi, kehangatan, dan kehadiran emosional di keluarga. Label “nakal” dalam film remaja nakal ini tampak lebih seperti stempel malas pikir, bukan diagnosis yang membantu anak tumbuh.
Drama Komedi Keluarga: Cara Lembut Mengajak Dialog Orang Tua dan Pendidik
Pilihan genre drama komedi keluarga bukan sekadar strategi hiburan; ini adalah cara cerdas menyampaikan pesan moral tanpa terasa menggurui. Kehadiran aktor senior seperti Donny Damara, komedian lintas generasi Aming dan Boris Bokir, serta jajaran talenta muda membuat dinamika program pembinaan remaja terasa hidup dan dekat dengan keseharian. Aming menegaskan bahwa spirit program pembinaan dalam film ini diambil dari tempat-tempat yang memang sudah ada untuk membina anak-anak, dengan tujuan memberi pengarahan yang lebih baik, bukan menghukum. Di tangan para pembina, remaja tidak diposisikan sebagai “masalah” melainkan sebagai individu yang butuh bimbingan untuk memahami esensi hubungan antarmanusia. Inilah yang membuat drama keluarga Indonesia ini relevan dengan tantangan keluarga masa kini: ia mengajak orang tua dan guru duduk satu meja, tertawa, lalu pelan-pelan bercermin pada cara mereka selama ini menanggapi kenakalan.
Menuju Rilis 2027: Saatnya Mengubah Cara Kita Menyebut ‘Nakal’
Proses pengambilan gambar ‘Yang Disebut Nakal’ dijadwalkan berlangsung selama 23 hari di Purwakarta, dengan target tayang serentak di bioskop pada tahun 2027. Jadwal ini memberi waktu bagi orang tua, pendidik, dan pemerhati isu remaja untuk menyiapkan diri bukan sekadar menonton, tetapi menjadikan film ini bahan diskusi keluarga. Film drama keluarga yang penuh kehangatan ini jelas memosisikan dirinya sebagai pemicu percakapan tentang pembinaan remaja, bukan sebagai tontonan yang menghakimi generasi muda. Ketika layar menampilkan anak-anak yang selama ini sering disalahpahami, penonton didorong untuk berempati dan mempertanyakan ulang kebiasaan memberi label negatif. Pada akhirnya, film ini mengajak kita mengubah pertanyaan dari “seberapa nakal anak ini?” menjadi “apa yang sedang ia coba sampaikan lewat perilakunya?”. Jika pertanyaan bergeser, cara mendidik pun ikut berubah.






