Dari Label ‘Nakal’ ke Pola Asuh yang Mau Mendengar
Pola asuh mendengarkan anak adalah pendekatan parenting yang menempatkan suara, perasaan, dan alasan di balik perilaku anak sebagai bahan utama pengambilan keputusan, sehingga orang tua tidak buru-buru memberi label perilaku anak nakal dan lebih fokus pada komunikasi orang tua anak yang jujur, dua arah, dan penuh empati. Film terbaru berjudul Yang Disebut Nakal menghadirkan cerita tentang kehidupan remaja yang kerap mendapat label negatif dari lingkungan sekitarnya. Ini bukan sekadar hiburan, tetapi cermin cara orang dewasa menghakimi sebelum memahami. Melalui film ini, penonton diajak melihat bahwa anak yang dicap nakal belum tentu memiliki niat buruk; mereka mungkin sedang membawa beban persoalan pribadi, keluarga, atau kebutuhan emosional yang tidak tertangkap mata orang dewasa. Jika orang tua masih mengandalkan hukuman tanpa dialog, kita hanya menguatkan jarak, bukan membangun kedekatan.

Pelajaran dari ‘Yang Disebut Nakal’: Nakal Itu Soal Persepsi
Cerita film Yang Disebut Nakal berpusat pada sekelompok remaja dari latar belakang berbeda yang harus mengikuti program pembinaan selama 21 hari di sebuah tempat terpencil. Di sana mereka belajar kedisiplinan, tanggung jawab, pertemanan, kehilangan, hingga berani menghadapi persoalan keluarga yang selama ini sulit diungkapkan. Aming menjelaskan bahwa gagasan utama film ini berangkat dari pandangan bahwa sebutan nakal sering kali bergantung pada persepsi seseorang. Artinya, perilaku anak nakal sering lahir dari kacamata orang dewasa yang sempit, bukan dari niat jahat anak. Program pembinaan dalam film ini juga menolak pendekatan hukuman semata. Menurut Aming, para pembina justru punya tanggung jawab memberi arahan dan membantu remaja memahami diri sendiri serta membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Inilah contoh pembinaan remaja efektif: menggali akar masalah, bukan mengunci mereka dalam stigma.
Boris Bokir dan Praktik Parenting Positif Remaja di Rumah
Di luar layar, Boris Bokir mempraktikkan pola asuh mendengarkan anak dalam kehidupan sehari-hari. Komika ini punya cara tersendiri mendidik anak agar tidak terjebak dalam perilaku yang dianggap nakal: ia memilih mendengarkan aspirasi anak terlebih dahulu sebelum menentukan cara mengarahkan mereka. Menurut Boris, anak-anak sering dicap nakal karena orang tua belum memahami keinginan dan alasan di balik perilaku mereka. Pengalaman masa kecilnya yang diwarnai pola didikan satu arah membuat Boris ingin menerapkan parenting positif remaja yang berbeda, dengan memberi ruang bagi anak menyampaikan pendapat sebelum mencapai kesepakatan bersama. Ia menegaskan, orang tua masa kini perlu lebih banyak mendengarkan dulu, baru mencari “formula” agar ada kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak. Pendekatan ini mengubah relasi: anak tidak lagi objek yang diatur, melainkan subjek yang diajak berpikir dan bertanggung jawab.
Kesepakatan Lebih Kuat dari Hukuman: Komunikasi yang Mencegah ‘Kenakalan’
Inti dari pola asuh mendengarkan anak adalah keyakinan bahwa kesepakatan bersama lebih efektif mencegah perilaku anak nakal dibanding pendekatan otoriter. Boris mencontohkan, orang tua sebaiknya memulai dari pertanyaan: “Maunya apa? Maunya bagaimana?” sebelum menetapkan aturan. Dari sana, komunikasi orang tua anak berubah menjadi proses tawar-menawar yang sehat, bukan ancaman satu arah. Menurut Boris, komunikasi dua arah penting untuk membangun hubungan yang kuat antara orang tua dan anak. Ketika anak merasa didengar, mereka lebih mudah menerima batasan dan konsekuensi, karena merasa ikut menyusun aturannya. Sebaliknya, hukuman tanpa dialog hanya memaksa anak patuh di depan, tetapi memberontak di belakang. Parenting positif remaja bukan berarti membiarkan semua keinginan anak, melainkan mengajak mereka ikut merancang aturan yang realistis dan manusiawi.
Membangun Pembinaan Remaja yang Efektif: Mulai dari Mendengar
Program pembinaan remaja efektif, baik di rumah maupun di lembaga, harus berangkat dari pemahaman mendalam atas akar penyebab perilaku, bukan sekadar label “nakal”. Film Yang Disebut Nakal menegaskan bahwa remaja yang dicap nakal bisa jadi sedang menghadapi persoalan pribadi, keluarga, atau kebutuhan emosional yang tidak dipahami orang dewasa. Di Bina Laku Wanareksa, tempat pembinaan karakter dalam film, para pelatih yang diperankan antara lain oleh Boris Bokir, Donny Damara, dan Aming bertugas mengarahkan remaja agar belajar memahami perilaku, membangun empati, serta memperbaiki komunikasi dengan keluarga. Pendekatan ini sejalan dengan pola asuh mendengarkan anak: mendekati, bukan menghakimi. Jika orang tua, guru, dan pembina mau mengadopsi cara ini, label “nakal” akan kehilangan kekuatannya, digantikan dialog yang membuka jalan perubahan.






