Kesehatan Keluarga yang Dimulai dari Rumah
Di Aula Aisyiyah, Jl KH Ahmad Dahlan No. 33, Beji Timur, Kota Depok, terselenggara sebuah kajian kesehatan yang fokus pada tema “PHBS dalam Keluarga: Menjaga Kesehatan Dimulai dari Rumah bersama Enzim”.
Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian Pilot Project Kajian Kesehatan yang akan digelar di wilayah Jabodetabek, hasil kolaborasi Majelis Kesehatan PP Aisyiyah dengan Enzim Indonesia dan media partner Langit 7.
Acara diawali dengan pembukaan oleh MC, menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Aisyiyah, lalu laporan dari Ketua Majelis Kesehatan PDA Kota Depok selaku ketua panitia.
Sambutan sekaligus pembukaan resmi acara disampaikan oleh Ketua PDA Kota Depok, Dra. Nurhayati, M.Pd., disusul sambutan dari General Manager Enzim Indonesia, drg. Alice Tampubolon.
Sebagai narasumber hadir Dr. dr. Pitut Aprilia Savitri, MKK (Majelis Kesehatan PPA) dan drg. Nini Nadya (Enzim) yang bersama-sama mengangkat pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di keluarga sebagai fondasi kesehatan jangka panjang.
Suasana Kajian: Interaktif dan Penuh Antusias
Kajian berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif, dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai majelis di PDA Kota Depok serta pimpinan dan anggota majelis kesehatan cabang dan ranting se-Kota Depok.
Peserta mengikuti pemaparan materi dengan antusias, terutama saat narasumber menjelaskan contoh nyata penerapan 10 indikator PHBS yang bisa dilakukan setiap hari di rumah.
Beberapa praktik sederhana yang ditekankan antara lain:
Menjaga pola makan bergizi seimbang
Memelihara kebersihan diri dan lingkungan
Merawat kesehatan gigi dan mulut secara teratur
Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga diajak membayangkan bagaimana kebiasaan-kebiasaan kecil di rumah bisa menjadi benteng utama melawan berbagai penyakit.
Gizi Seimbang: Pondasi PHBS Keluarga
Dalam sesi paparan, Dr. dr. Pitut Aprilia Savitri menekankan bahwa salah satu indikator penting PHBS keluarga adalah kecukupan gizi seimbang untuk anak yang mencakup makronutrien dan mikronutrien.
Mikronutrien mungkin hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Kekurangan zat besi, misalnya, dapat menyebabkan defisiensi zat besi pada anak yang berpengaruh pada tumbuh kembang dan kesehatan secara menyeluruh.
Karena itu, disarankan untuk:
Mengonsumsi makanan atau produk yang diperkaya zat besi
Memilih sumber zat besi yang mudah diserap tubuh anak
Memanfaatkan susu pertumbuhan dengan kandungan zat besi yang cukup
Mengombinasikannya dengan vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi
Gizi yang baik bukan hanya mengenyangkan, tetapi membangun daya tahan tubuh sejak dini.
Kebersihan Diri, Gigi, dan Mulut: Kunci PHBS yang Sering Terlupakan
Pitut juga menegaskan bahwa kebersihan dan kesehatan diri, termasuk gigi dan mulut, merupakan pondasi utama dalam penerapan PHBS di keluarga.
Selama ini, pembahasan PHBS lebih sering fokus pada kebiasaan mencuci tangan untuk mencegah infeksi saluran pernapasan dan pencernaan.
Namun, ada satu aspek yang kerap terabaikan: kesehatan gigi dan mulut.
Apa yang disampaikan Pitut menguatkan paparan sebelumnya dari drg. Nini Nadya. Nini mengulas secara detail mengapa kita harus memperhatikan kesehatan gigi dan mulut bukan hanya saat sakit atau ketika keluhan sudah muncul.
Menurut Nini, mulut yang tidak terjaga kebersihannya bisa menjadi pintu masuk berbagai penyakit:
Bakteri dari gusi dapat masuk ke aliran darah dan memicu endokarditis (penyakit jantung)
Infeksi pada gusi dapat memperburuk kadar gula darah
Masalah di rongga mulut berpotensi mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan
Senyum sehat ternyata bukan hanya soal estetika, tetapi juga berhubungan erat dengan kesehatan organ vital.
PHBS sebagai Program Prioritas Aisyiyah
Dari sisi program organisasi, Pitut menjelaskan bahwa PHBS menjadi salah satu prioritas utama Majelis Kesehatan karena mudah diterapkan di semua level organisasi.
PHBS dapat diintegrasikan di:
Lingkungan rumah tangga
Sekolah
Lingkungan masyarakat
Tempat kerja
Di antara semua itu, PHBS di rumah tangga menjadi program unggulan karena perilaku sehat paling efektif bila dimulai dari keluarga.
Pitut juga menyebutkan bahwa delapan program kesehatan Aisyiyah yang dirumuskan dalam muktamar terakhir mencakup:
Penanggulangan penyakit menular
Penanggulangan penyakit tidak menular
Pencegahan stunting
Peningkatan gizi ibu dan anak
Edukasi perilaku hidup bersih dan sehat
Di antara beragam program tersebut, PHBS menjadi gerakan yang paling masif dijalankan di berbagai wilayah.
Tantangan Mengubah Perilaku Sehari-hari
Dalam praktiknya, seluruh pimpinan wilayah, daerah, cabang, dan ranting telah mengimplementasikan program PHBS.
Kerja sama dengan Enzim dan Langit 7 semakin memperkaya wawasan pengurus dan kader Aisyiyah tentang PHBS keluarga dan cara menggerakkannya di masyarakat.
Pitut mengungkapkan bahwa bahkan bukan hanya Aisyiyah, tetapi juga Muhammadiyah ikut bergerak dalam upaya ini.
Meski demikian, tantangan utamanya ada pada perubahan perilaku masyarakat.
Perilaku sehat:
Tidak bisa dibentuk secara instan
Tidak bisa hanya sekadar diperintah
Harus dibangun melalui kebiasaan yang diulang setiap hari
Berawal dari kesadaran dalam diri masing-masing
Karena itu, sosialisasi perlu berkelanjutan dan konsisten agar pesan PHBS benar-benar meresap dan menjadi gaya hidup.
Strategi: Dari Keluarga hingga Media Sosial
Untuk menjawab tantangan tersebut, Majelis Kesehatan PP Aisyiyah mengandalkan berbagai strategi sosialisasi yang menyentuh banyak lapisan.
Upaya dilakukan melalui:
Lingkungan internal keluarga Aisyiyah–Muhammadiyah
Amal usaha kesehatan seperti rumah sakit
Lembaga pendidikan seperti sekolah
Pemanfaatan media sosial sebagai saluran edukasi yang menjangkau lebih luas
Koordinasi dengan berbagai pihak menjadi kunci agar semua program dapat dijalankan secara efektif.
Komitmen pimpinan juga dijaga dari pusat hingga ranting agar gerakan PHBS tak berhenti di level wacana.
Penggerak utama di lapangan justru ada di cabang dan ranting, karena merekalah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sehari-hari.
Sinergi dengan Pemerintah dan Harapan ke Depan
Dalam pelaksanaannya, dukungan pemerintah dinilai sangat positif, meski tidak selalu berupa dana.
Bentuk dukungan yang sangat membantu antara lain:
Penyediaan tempat kegiatan
Pemberian izin pelaksanaan program
Kehadiran narasumber dari puskesmas atau dinas kesehatan
Kegiatan kajian ini diharapkan menjadi pemicu gerakan positif di tengah masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan keluarga.
Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk brand perawatan gigi Enzim, pesan utamanya menjadi sangat jelas: menjaga kesehatan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang konsisten dilakukan di rumah.
Mulai dari mengatur asupan gizi anak, rutin menyikat gigi dengan benar, hingga menjaga kebersihan lingkungan rumah, semua adalah langkah kecil yang jika dilakukan bersama-sama akan melahirkan perubahan besar.
Keluarga yang membiasakan PHBS sejak dini akan lebih siap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan, dimulai dari rumah, dari kita sendiri.






