KuybeliKuybeli

Mencintai Sepak Bola Indonesia yang Kusut: Dari Medali Emas hingga Jersey Sobek

Mencintai Sepak Bola Indonesia yang Kusut: Dari Medali Emas hingga Jersey Sobek
Minat|Sepak Bola

Sepak Bola Indonesia: Cinta yang Tak Kunjung Sempurna

Sepak bola Indonesia seolah berputar di tempat. Prestasi di level dunia masih jauh, bahkan di Asia Tenggara pun kita sering tertatih.

Bukan hanya itu, induk organisasi sepak bolanya pun kerap jadi sorotan karena carut-marut pengelolaan. Namun, anehnya, kecintaan publik tak pernah benar-benar surut.

Sepak bola, seperti yang diingatkan Miftakhul F.S. atau Fim, bukan sekadar duel 11 lawan 11 di atas rumput hijau. Begitu peluit dibunyikan, seluruh lapisan masyarakat ikut terseret dalam emosi yang sama. Inilah olahraga yang menjelma menjadi lingua franca dunia, melampaui batas etnis, agama, budaya, hingga ideologi.

Buku yang ia tulis merangkum kisah-kisah dari pinggir lapangan, menghadirkan potret sepak bola Indonesia dari jarak dekat—hangat, getir, dan apa adanya.

Kisah dari Pinggir Lapangan

Fim, yang berlatar belakang wartawan olahraga, menyusun cerita-cerita dalam buku ini dengan bahasa yang ringan, detail, dan sangat visual. Pembaca seakan diajak duduk di tribun, mencium bau rumput, dan ikut menahan napas di momen-momen krusial.

Setiap tulisan memotret sisi berbeda dari sepak bola Indonesia. Bukan hanya soal skor dan trofi, tetapi juga tentang stadion kusam, pemain yang kikuk soal seragam, hingga mitos dan ritual yang masih dipercaya banyak orang.

Kekuatan buku ini ada pada kedekatannya dengan realitas: ia tidak bicara dari menara gading, melainkan dari tepi lapangan, tempat di mana sepak bola terasa paling jujur.

Rindu Emas yang Tak Kunjung Pulang

Salah satu cerita pembuka yang menonjol berjudul “Rindu dan Kenangan yang Masih Basah”. Di sini, Fim mengajak pembaca menengok kembali 4 Desember 1991.

Di Stadion Rizal Memorial, Manila, Indonesia menorehkan sejarah: meraih medali emas SEA Games 1991 di luar negeri untuk pertama kalinya. Sebelumnya, emas juga pernah diraih pada SEA Games 1987 di Jakarta, ketika Indonesia menang dramatis atas Thailand 4–3 lewat adu penalti.

Sudirman, salah satu pahlawan lapangan malam itu, menggambarkan betapa kemenangan tersebut tak terlupakan. Stadionnya biasa saja, tetapi momentumnya istimewa.

Kini, Rizal Memorial berubah kusam. Kaca-kaca jendelanya tak lagi bening, bau pesing menyengat, dan suasananya jauh dari megah. Gambaran ini mengingatkan pada beberapa stadion di tanah air yang bernasib sama: lapangan dipenuhi rumput liar, tribun kotor, dan fasilitas minim.

Simbolnya jelas: ketika infrastruktur diabaikan, jangan heran prestasi ikut terseok. Bagaimana mungkin klub bisa berkembang jika tempat latihan saja tak layak?

Namun, apa pun kondisinya, stadion itu tetap menyimpan makna besar bagi sejarah sepak bola Indonesia—juga bagi rindu publik yang tak pernah padam terhadap gelar juara.

Juara yang Menyisakan Noda

Cerita lain yang menggelitik berjudul “Juara yang Ternoda”. Di sini, Fim menyinggung sebuah gelar yang datang dengan cara tak biasa.

Indonesia dinyatakan sebagai juara setelah Libya, lawan di partai puncak, memutuskan untuk tidak melanjutkan pertandingan alias walk out (WO). Pelatih Libya, Gamal Adeen Abun Nowara, mengaku dipukul oleh salah satu ofisial Indonesia, pelatih kiper Sudarno.

Karena insiden itu, Libya memilih meninggalkan laga.

Di sisi lain, pelatih Indonesia saat itu, Benny Dollo, mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut dan enggan berkomentar soal klaim Libya.

Di tengah kabut kontroversi, satu hal yang diakui banyak orang—termasuk penulis resensi ini—adalah bahwa publik Indonesia tetap haus akan gelar. Pertanyaannya, apakah semua kemenangan pantas dirayakan dengan kebanggaan yang sama?

Dilema moral ini menjadi salah satu lapisan menarik yang diangkat Fim: bahwa trofi tak selalu datang dengan cerita yang bersih.

Drama Kaus, Jersey Sobek, dan Harga Sebuah Seragam

Di bab “Kostum”, Fim menggeser fokus ke hal yang tampak sepele tapi justru memalukan: urusan kaus pemain.

Ia pernah meminta kaus milik Evan Dimas seusai pertandingan. Jawaban Evan cukup menohok: kaus tersebut masih akan dipakai lagi. Bukan karena sentimentil, tapi karena persediaan yang terbatas.

Padahal, dengan adanya sponsor, seharusnya satu pemain minimal memiliki dua kostum yang layak.

Hal serupa dialami Jackson F. Tiago, pelatih asal Brasil. Ia merasa malu karena tidak bisa memberikan jaket timnas untuk ibunya sebagai kenang-kenangan, lantaran jumlah perlengkapan yang terbatas.

Ada pula kisah Hargianto yang terpaksa mengenakan jersey bernomor 30 ketika menghadapi Persijap U-21, padahal nomor punggung aslinya adalah delapan. Penyebabnya sepele tapi menyedihkan: jersey sebelumnya robek dan tidak ada cadangan.

Dari sini, Fim mengajak kita melihat betapa hal-hal mendasar seperti kostum saja masih bisa jadi masalah di sepak bola Indonesia. Ini bukan sekadar soal pakaian, melainkan cerminan manajemen yang belum rapi.

Mistisisme, Gado-Gado, dan Dunia Lain di Balik Laga

Sepak bola Indonesia juga tak lepas dari sentuhan “dunia lain”. Dalam cerita “Gado-Gado dan Mistisme Sepak Bola”, Fim mengungkap bagaimana unsur kepercayaan tradisional masih sering menyelinap ke dalam persiapan pertandingan.

Ia pernah diminta pelatih untuk masuk lapangan dari arah tertentu, disesuaikan dengan hitungan Jawa pada hari tersebut. Ada pula yang membawa benda-benda jimat tidak lazim: garam dibungkus kain, minuman yang sudah didoakan untuk kemenangan, hingga ritual wajib makan gado-gado.

Menariknya, ritual bukan hanya monopoli pemain lokal. Banyak pemain asing juga memiliki kebiasaan khusus sebelum berlaga.

  • Neymar, misalnya, selalu melangkahkan kaki kanan lebih dulu saat masuk lapangan, lalu menunduk, menyentuh rumput, dan berdoa.

  • Seorang pemain top lain yang baru bergabung dengan Juventus digambarkan punya ritual sendiri: selalu duduk di bangku paling belakang di bus dan merapikan rambutnya setiap jeda babak pertama.

Bedanya, di beberapa tempat, ritual ini sekadar soal kebiasaan dan psikologis. Di Indonesia, ia sering bersinggungan dengan keyakinan mistis yang kadang justru menutupi pentingnya faktor teknis, taktik, dan sains olahraga.

Euforia Junior yang Terlalu Cepat

Fim juga menyoroti perjalanan timnas muda, khususnya di ajang Piala AFF U-19. Stadion Gelora Delta di Sidoarjo dan Stadion Tri Dharma di Gresik menjadi saksi ketangguhan generasi belia timnas saat itu.

Evan Dimas, jajaran pelatih, ofisial, dan para suporter larut dalam euforia. Selebrasi dilakukan dengan berbagai cara, seolah sebuah era baru telah lahir.

Namun, Fim mengingatkan, kompetisi level junior seharusnya lebih banyak dimaknai sebagai ajang pembinaan, bukan pesta besar-besaran. Ia menyebut jenjang ini sebagai masa “Belum Waktunya Berpesta”.

Pandangan ini sejalan dengan ucapan pelatih asal Australia, Hans Peter Schaller:

Membangun sepak bola sama seperti membangun sebuah rumah. Harus ada pondasinya dulu, bukan langsung memasang atap. Timnas itu bagai atap, sayang dasarnya tidak kuat. Dasar itu berarti membangun sepak bola di daerah. Level amatir dulu, seperti di Eropa.

Lewat kutipan ini, pembaca diajak menatap ke akar permasalahan: selama fondasi pembinaan di daerah rapuh, jangan berharap atap bernama timnas senior bisa kokoh berdiri.

Surat Terbuka untuk Timnas U-23

Di bagian lain, Fim menyisipkan sebuah ‘surat terbuka’ untuk Tim Nasional U-23. Isi utamanya jelas: jangan patah semangat.

Ia membandingkan kiprah timnas U-23 dengan generasi U-19 yang pernah menggemparkan Asia setelah mengalahkan Korea Selatan 3–2 di babak penyisihan grup Piala Asia U-19 di Gelora Bung Karno.

Pesan tersiratnya, perjalanan sebuah tim tidak bisa diukur dari satu turnamen saja. Butuh ketekunan, proses panjang, dan kesabaran untuk membentuk tim yang benar-benar matang.

Harapan Fim pada timnas U-23 bukan sekadar soal trofi, melainkan soal mentalitas: terus berjuang, belajar dari kegagalan, dan tidak larut dalam tekanan publik.

Cinta yang Terlalu Tipis, Harapan yang Terlalu Besar

Bagi pembaca yang masih mencintai sepak bola Indonesia meski sering dibuat kecewa, buku ini terasa seperti teman curhat: isinya dekat, jujur, dan kadang pedih.

Namun, dari sudut pandang penggemar yang haus cerita, buku ini terasa terlalu tipis. Ketika di luar negeri ada buku bertema sepak bola yang bisa mencapai ratusan halaman, kisah tentang sepak bola Indonesia seolah baru menggoreskan permukaan.

Justru karena itu, harapannya jelas:

  • Semoga Fim kembali menulis buku lain tentang sepak bola Indonesia, dengan gaya khasnya yang lincah dan tajam.

  • Semoga semakin banyak penulis yang berani mengangkat sepak bola nasional sebagai tema utama, bukan hanya sebagai selingan.

Sepak bola Indonesia mungkin kusut, tapi cintanya terlanjur dalam. Selama masih ada orang yang mau bercerita, mengkritik, dan berharap, mungkin harapan itu belum benar-benar mati.

Dan buku ini adalah salah satu bukti bahwa cinta itu, meski lelah, belum siap pergi.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!