Ribuan Pelari Serbu Borobudur, UMKM Ketiban Berkah
Gelaran lomba lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2025 kembali mengguncang kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Event tahunan ini sukses menyedot 11.500 pelari dari 38 negara, sekaligus mengukuhkan statusnya sebagai ajang berlabel elite dari World Olympic.
Bukan cuma jadi panggung prestasi pelari, hajatan lari jarak jauh ini juga jadi mesin penggerak ekonomi Jawa Tengah, terutama di sekitar Borobudur.
Dari penginapan, transportasi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), semuanya ikut merasakan dampaknya.
Homestay Laris Manis Berkat Borobudur Marathon
Salah satu yang kecipratan rezeki dari ramainya Borobudur Marathon 2025 adalah pengelola homestay Sandyakala di Dusun Brongkol, Desa Tanjungsari, Kecamatan Borobudur, Unfa Agustia.
Ia mengakui, event lari ini membawa angin segar bagi usahanya dan warga sekitar.
Menurutnya, masyarakat sangat terbuka dan menyambut baik penyelenggaraan lomba lari ini karena efek ekonominya terasa nyata.
Unfa bercerita, kehadiran Borobudur Marathon menjadi salah satu pemicu utama perkembangan homestay-nya.
Pada pertengahan 2023, ia mulai membangun usaha penginapan dengan tiga kamar deluxe.
Saat itu bangunan masih setengah jadi, tapi menjelang Borobudur Marathon 2023, sudah ada antrean tamu yang memesan kamar bahkan enam bulan sebelum lomba.
Situasi itu memaksa mereka ngebut menyelesaikan pembangunan.
Kalau tidak ada dorongan dari event tersebut, bisa jadi homestay itu belum rampung hingga sekarang.
Sejak itu, homestay Sandyakala sudah tiga kali ikut mengakomodasi tamu pada penyelenggaraan Borobudur Marathon hingga tahun 2025.
Bagi pelaku usaha penginapan, event seperti ini bukan sekadar keramaian, tapi momentum penting untuk naik kelas.
UMKM Kuliner, Kerajinan, dan Fesyen Ikut Terkerek
Tak hanya penginapan, pelaku UMKM juga dilibatkan secara langsung dalam perhelatan ini.
Direktur Utama Bank Jateng, Irianto Harko Saputro, menjelaskan bahwa ajang Borobudur Marathon 2025 merangkul puluhan pelaku UMKM di area penyelenggaraan.
Mereka terwadahi dalam program Bank Jateng Pawone dan Berdikari, yang berisi pelaku usaha:
Kuliner lokal
Kerajinan tangan
Produk fesyen
Total terdapat 46 UMKM Berdikari dan 20 UMKM Pawone yang disatukan dalam event ini.
Tujuannya jelas: dampak Borobudur Marathon bukan hanya untuk pelari, tetapi juga untuk masyarakat Jawa Tengah, khususnya Magelang.
Harapannya, setiap gelaran lomba lari ini mampu menciptakan efek ekonomi berganda bagi warga sekitar.

Peserta Naik, Perputaran Ekonomi Ikut Melejit
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengungkapkan bahwa jumlah peserta Borobudur Marathon 2025 naik sekitar 1.000 orang dibanding tahun 2024 yang diikuti 10.500 pelari.
Dengan lonjakan peserta itu, perputaran ekonomi diprediksi akan menembus angka di atas Rp73,9 miliar, yang pernah tercapai pada 2024.
Ia menegaskan, pemerintah daerah ingin mendorong agar perputaran ekonomi di kawasan Borobudur terus meningkat lewat event ini.
Prediksi tersebut bukan tanpa dasar, melainkan mengacu pada tren data perputaran ekonomi Borobudur Marathon dari tahun ke tahun:
2017: Rp1,5 miliar
2018: Rp26,5 miliar
2019: Rp30,5 miliar
2023: Rp61,6 miliar
2024: Rp73,9 miliar
Dengan partisipasi peserta yang terus bertambah, harapannya tahun 2025 bisa melampaui semua capaian sebelumnya.
Lari Marathon, Wisata, dan Ekonomi: Trio Andalan Borobudur
Borobudur Marathon 2025 membuktikan bahwa lomba lari marathon bukan cuma soal kecepatan dan ketahanan fisik.
Di balik garis start dan finish, ada denyut ekonomi yang ikut berlari kencang.
Pelari datang, penginapan penuh.
Wisatawan meningkat, kuliner lokal laris.
Event selesai, UMKM tetap dapat pelanggan baru.
Inilah kekuatan sport tourism: olahraga jadi pintu masuk, ekonomi lokal jadi pemenang sebenarnya.
Bagi pelari, Borobudur Marathon adalah kesempatan mencetak personal best.
Bagi warga Magelang dan sekitarnya, ini adalah momen memaksimalkan peluang usaha.
Dan bagi Jawa Tengah, event seperti ini adalah etalase bahwa marathon bisa menjadi festival ekonomi yang berkelanjutan.






