Ekoteologi: Jawaban Saat Sains Saja Tidak Cukup
Krisis iklim hari ini sudah sampai pada titik yang makin mengkhawatirkan. Berbagai cara telah dicoba: sains mengeluarkan data dan peringatan, ekonomi menawarkan skema jual beli karbon, politik melahirkan regulasi pro-lingkungan.
Namun, satu fakta pahit sulit dibantah: kerusakan lingkungan tetap berlanjut.
Kondisi ini memberi sinyal bahwa ada satu ruang yang belum benar-benar tersentuh: dimensi teologis. Di sinilah ekoteologi hadir, mengajak agama turun langsung menjadi kompas moral dalam melawan krisis iklim.
Dengan melibatkan agama sebagai sumber nilai dan dorongan etis, diharapkan semakin banyak orang bukan hanya paham bahwa bumi sedang sakit, tetapi juga tergerak untuk terlibat dalam aksi nyata. Di Indonesia, salah satu motor penyebaran gagasan ini adalah Kementerian Agama (Kemenag) melalui penguatan konsep ekoteologi.
Apa Itu Ekoteologi?
Ekoteologi lahir dari perpaduan tiga kata kunci: “oikos” (lingkungan), “theos” (ketuhanan), dan “logos” (ilmu).
Gabungan ini melahirkan cara pandang baru: isu lingkungan tidak lagi sekadar dilihat sebagai persoalan teknis, fisik, atau ekonomi, tetapi juga sebagai masalah teologis dan etis.
Dengan pendekatan semacam ini, ekoteologi mampu menembus wilayah yang sulit dijangkau oleh narasi saintifik murni, yaitu hati dan keyakinan pribadi. Menjaga alam tidak lagi dipandang hanya sebagai tindakan rasional, tetapi sebagai bagian dari ketaatan kepada perintah agama dan wujud tanggung jawab spiritual.
Penelitian berjudul “The Role of Religion in Shaping the Values of Nature” menunjukkan bahwa agama adalah salah satu instrumen penting dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap alam. Agama bukan sekadar sistem nilai, tetapi bisa berubah menjadi motor penggerak penolakan terhadap perusakan lingkungan.
Narasi saintifik, meski kuat secara data, sering terasa impersonal. Sulit menyentuh emosi banyak orang. Di titik inilah ekoteologi punya posisi unik: ia merangkai logika dan keyakinan, data dan doa, pengetahuan dan penghayatan.
Keunikan Ekoteologi dalam Krisis Iklim
Ekoteologi menawarkan pendekatan yang khas dalam upaya mewujudkan lingkungan hidup berkelanjutan. Sedikitnya ada tiga keunikan yang membuatnya relevan sebagai “puzzle pelengkap” dalam penanganan krisis iklim.
1. Kerangka Moral dan Etis yang Kuat
Dalam ekoteologi, merusak alam dipandang sebagai merusak ciptaan Tuhan.
Dalam Islam, misalnya, konsep ini berkaitan dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim—sifat kasih Tuhan yang meliputi seluruh alam dan orang-orang beriman. Keduanya berakar pada kata rahmah, yang berarti cinta.
Dari sini muncul pemahaman bahwa menjaga alam bukan sekadar soal fungsi ekologis atau kelangsungan hidup manusia, tetapi juga wujud tanggung jawab moral dan religius.
Dengan kata lain, tindakan merawat bumi bukan hanya “baik dilakukan”, tetapi seharusnya dilakukan sebagai bagian dari pengamalan ajaran agama.
2. Menyatukan Hati, Akal, dan Sains
Ekoteologi tidak menempatkan agama dan sains sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Sebaliknya, ia berusaha mengharmonikan hukum alam (kauniy) dengan hukum agama (syar’i).
Kita boleh meyakini adanya mukjizat, tetapi itu tidak menghapus kewajiban untuk berikhtiar secara ilmiah.
Dalam kerangka ini, agama tidak berhenti di ajakan untuk berdoa. Agama seharusnya hadir sebagai penggerak aksi konkret: menanam pohon, merawat ekosistem, dan menghentikan perilaku yang merusak lingkungan.
Seruan untuk menjaga alam sangat mudah ditemukan dalam teks-teks keagamaan. Ayat dan hadis tentang pelestarian hutan, menjaga keseimbangan alam, hingga larangan membuat kerusakan di muka bumi, memberi landasan kuat bahwa kepedulian ekologis adalah bagian dari keberagamaan yang utuh.
3. Potensi Mobilisasi Massa yang Luar Biasa
Lebih dari 2 miliar penduduk dunia memeluk agama. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah potensi mobilisasi sosial yang dahsyat.
Melalui jaringan:
Pemuka agama
Tempat ibadah
Lembaga pendidikan berbasis agama
Organisasi kemasyarakatan keagamaan
ekoteologi dapat menjelma menjadi gerakan masif dan terstruktur.
Contoh konkret bisa dilihat dari inisiatif penghijauan di Sumenep, Madura, yang dipimpin oleh seorang tokoh agama, Abdul Basith. Beliau tidak hanya berceramah soal pentingnya menjaga alam, tetapi juga:
Mengajak masyarakat memahami urgensi lingkungan melalui pengajian
Mengadakan pelatihan terkait penghijauan
Menggerakkan aksi nyata: menanam pohon secara langsung
Dampaknya terasa nyata: masyarakat lebih siap menghadapi musim kemarau dan menjadi lebih sadar lingkungan.
Kisah ini menunjukkan bahwa agama bisa bertransformasi dari sekadar sistem nilai menjadi penggerak perubahan sosial yang konkret.
Kemenag dan Misi Mengarusutamakan Ekoteologi
Tiga keunikan di atas menjadikan ekoteologi sangat layak ditempatkan sebagai potongan penting dalam puzzle penanganan krisis iklim.
Namun, agar ide ini tidak berhenti di ruang akademik atau diskursus terbatas, dibutuhkan lembaga yang mampu menyuarakannya secara luas dan konsisten. Di tingkat nasional, peran ini diambil oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Gagasan penguatan ekoteologi berangkat dari pemikiran Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., dan kemudian diformalkan dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 244 Tahun 2025 tentang program prioritas Kemenag RI 2025–2029.
Salah satu poin penting dalam keputusan tersebut adalah penguatan ekoteologi sebagai agenda strategis.
Tak berhenti di tataran konsep, Menag mendorong agar ekoteologi menjadi identitas utama institusi yang ia pimpin. Artinya, ekoteologi tidak dimaksudkan hanya sebagai wacana elitis, tetapi sebagai nilai yang mengalir sampai ke akar rumput.
Sebagai langkah awal, Kemenag telah memulai gerakan menanam pohon di lingkungan kerja dan tempat ibadah. Aksi ini melibatkan CPNS dan PPPK Kemenag sebagai pelaku langsung.
Gerakan ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah simbol sekaligus praktik awal bagaimana ekoteologi diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari.
Selain itu, Kemenag juga menyusun dan menerapkan kurikulum yang mendorong internalisasi nilai-nilai Panca Cinta, dengan salah satu unsurnya adalah cinta lingkungan. Harapannya, lembaga pendidikan tidak hanya mengajarkan konsep, tetapi juga membiasakan peserta didik untuk melihat alam sebagai sesuatu yang harus dikasihi, bukan dieksploitasi.
Serangkaian program yang telah dimulai ini akan menjadi pijakan bagi berbagai inisiatif lanjutan. Target akhirnya jelas: membuat pendekatan ekoteologi semakin dikenal, diterima, dan dipraktikkan secara nyata di tengah masyarakat.
Mengapa Ekoteologi Penting untuk Masa Depan?
Jika sains memberi tahu kita seberapa parah kerusakan bumi, ekoteologi membantu menjawab mengapa kita harus peduli dan bergerak.
Krisis iklim bukan hanya soal kenaikan suhu, gagal panen, atau bencana alam yang makin sering terjadi. Ia juga menyentuh wilayah tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di bumi.
Dengan menggabungkan:
Data ilmiah sebagai dasar memahami realitas,
Ajaran agama sebagai sumber nilai dan motivasi,
Gerakan sosial berbasis komunitas sebagai medium aksi,
ekoteologi menawarkan pendekatan yang lebih utuh dan menyentuh.
Pada akhirnya, menyelamatkan bumi tidak bisa hanya diserahkan pada laboratorium, ruang rapat, atau meja perundingan. Mimbar, majelis taklim, ruang kelas, dan komunitas berbasis iman juga harus menjadi bagian dari perjuangan ini.
Krisis iklim adalah panggilan zaman. Ekoteologi mengingatkan: meresponsnya dengan serius bukan hanya soal masa depan bumi, tetapi juga masa depan kemanusiaan dan kualitas keimanan kita.
Referensi
Ives, Christopher, Jeremy Kidwell, Christopher Anderson, dkk. “The Role of Religion in Shaping the Values of Nature.” Ecology and Society 29, no. 2 (2024).
Northcott, Michael S., Anna M. Gade, Frans Wijsen, dan Zainal Abidin Bagir, ed. Varieties of Religion and Ecology Dispatches from Indonesia. LIT Verlag, 2022.
Umar Nasaruddin, Kuliah Umum Kurikulum Berbasis Cinta di UIN Ponorogo, 14 September 2025.






