Kerukunan perlu dibina sekaligus dipahami
Moderasi beragama adalah sikap adil dan seimbang dalam menjalankan keyakinan, disertai penghormatan terhadap perbedaan, toleransi, dan kemanusiaan agar orang dapat hidup berdampingan dengan damai. Dua kegiatan penyuluh agama Batam pada akhir Oktober menunjukkan bahwa kerukunan tak cukup dijaga lewat satu cara: ia perlu dibangun melalui perjumpaan sekaligus dipahami dari pengalaman warga. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 09.30 WIB hingga selesai, penyuluh Kementerian Agama Kota Batam menggelar penyuluhan kelompok kolaboratif bertema “Moderasi Beragama: Rukun Itu Indah” di Rutan Kelas IIA Batam, Tembesi. Sehari kemudian, penyuluh agama Kristen melaksanakan survei kerukunan umat beragama di Bengkong Laut. Perbedaan pendekatan ini penting: satu kegiatan membina sikap secara langsung, sedangkan yang lain menghimpun gambaran kehidupan antarumat di lingkungan masyarakat.
Dialog di rutan: kerukunan sebagai tindakan
Penyuluhan di rutan menyasar warga binaan, dengan tujuan pembinaan rohani dan penguatan nilai kerukunan. Materinya menekankan sikap adil, seimbang, menghormati perbedaan keyakinan, serta menjunjung toleransi dan kemanusiaan. Pesan itu lebih bermakna ketika diterjemahkan menjadi perilaku: menjaga perkataan, menghargai orang lain, dan hidup berdampingan tanpa mengorbankan prinsip iman masing-masing. Penyuluh agama Kristen Doli Harjo Sinaga menyampaikan bahwa moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan hidup damai tanpa kehilangan prinsip iman. Pernyataan tersebut membantu menepis salah paham bahwa toleransi menuntut orang meleburkan kepercayaannya. Penyuluhan kolaboratif ini juga mengajak warga binaan melihat perbedaan sebagai kesempatan untuk saling menghargai dan mempererat persaudaraan. Dampak yang diharapkan bersifat personal sekaligus sosial: nilai agama menjadi landasan untuk memperbaiki diri dan membangun hubungan yang lebih baik.
Survei di Bengkong Laut: mendengar sebelum menyimpulkan
Survei kerukunan yang berlangsung Kamis, 29 Oktober 2026, mulai pukul 09.30 WIB, memakai cara berbeda. Penyuluh agama Kristen Kemenag Batam menemui warga Perumahan Bengkong Laut YKB RW 11/RT 03, Kelurahan Bengkong Laut, Kecamatan Bengkong, melalui dialog interaktif dan pengisian instrumen survei. Sasaran utamanya bukan pembinaan warga binaan, melainkan pengukuran indeks kerukunan, pemetaan potensi dinamika sosial, serta penghimpunan aspirasi masyarakat tentang keharmonisan antarumat. Pendekatan ini layak dipandang sebagai langkah mendengar sebelum membuat penilaian: minimnya konflik saja belum cukup untuk menggambarkan mutu hubungan warga. Doli Harjo Sinaga menekankan bahwa kerukunan juga tampak dalam kesediaan untuk saling menghormati, berkomunikasi, dan bekerja sama di tengah perbedaan. Masukan warga diharapkan menjadi bahan untuk memperkuat program kerukunan dan menjaga toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
Dua metode, satu pekerjaan berkelanjutan
Kedua kegiatan saling melengkapi, tetapi tidak bisa saling menggantikan. Dialog di rutan berupaya menumbuhkan pemahaman dan kebiasaan menghormati perbedaan pada kelompok warga binaan; survei di Bengkong Laut mengumpulkan suara warga untuk membaca kondisi serta kemungkinan dinamika kerukunan di tingkat lingkungan. Yang pertama menanamkan nilai, yang kedua membantu memetakan kebutuhan. Bagi masyarakat, manfaatnya bergantung pada keberlanjutan: toleransi perlu hadir dalam cara orang berkomunikasi dan bekerja sama, sementara temuan survei perlu digunakan untuk memperkuat program kerukunan. Harapan penyelenggara agar semangat “Rukun Itu Indah” tumbuh di rutan dan informasi survei mendukung upaya kerukunan menegaskan pekerjaan belum selesai setelah kegiatan berakhir. Kesimpulannya, persaudaraan lebih kuat ketika pembinaan sikap berjalan beriringan dengan kesediaan mendengar pengalaman warga.






