KuybeliKuybeli

Penyuluh Agama Manfaatkan TikTok Live untuk Layanan Publik

Penyuluh Agama Manfaatkan TikTok Live untuk Layanan Publik
Minat|Aplikasi Ponsel

TikTok Live sebagai Wajah Baru Birokrasi Digital

TikTok Live layanan publik adalah pemanfaatan fitur siaran langsung di TikTok sebagai kanal resmi komunikasi dan pelayanan dari lembaga pemerintah kepada warga, yang menghadirkan interaksi dua arah, informasi transparan, dan akses konsultasi tanpa keharusan datang langsung ke kantor, sehingga kesan birokrasi yang rumit diganti dengan pelayanan yang lebih dekat, cepat, dan berbasis gawai. Di tengah era transformasi digital, KUA Srono tampak berani mengambil posisi sebagai pelopor birokrasi digital Indonesia yang tidak alergi terhadap platform populer anak muda. Alih-alih menunggu warga mengantri di loket, para penyuluh agama Islam mendatangi warga di layar ponsel mereka, mengikis jarak psikologis antara "kantor" dan "masyarakat". Ini bukan sekadar perubahan medium, melainkan pergeseran cara pandang: layanan publik harus hadir di ruang di mana percakapan warga terjadi setiap hari.

KUA Srono Inovasi: Dari Loket ke Layar Ponsel

Pada 23 Juli 2026, Kantor Urusan Agama (KUA) Srono secara terang-terangan mendeklarasikan arah baru pelayanannya melalui pemanfaatan TikTok Live untuk menyapa dan melayani masyarakat secara langsung, cepat, dan interaktif dari genggaman ponsel. Keputusan ini menanggalkan citra klasik birokrasi yang kaku dan lambat, menggantinya dengan model pelayanan yang terasa lebih cair dan akrab. Di sini, KUA Srono inovasi bukan slogan, tetapi praktik nyata: pegawai turun tangan menjadi konten kreator layanan publik, bukan sekadar petugas di balik meja. Menariknya, langkah ini tidak dibangun di platform eksklusif, melainkan di ruang yang sudah akrab bagi pengguna—TikTok—sehingga ambang masuk bagi warga sangat rendah. Warga yang biasanya pasif terhadap informasi layanan keagamaan kini dapat terseret dalam percakapan langsung, melakukan tanya jawab layaknya mengirim komentar di konten hiburan, namun dengan konsekuensi administratif yang resmi.

Iskandar dan Muh. Khoirudin: Penyuluh Agama Sekaligus Host Digital

Di balik transformasi ini, ada dua nama yang menghidupkan birokrasi digital Indonesia versi KUA Srono: Iskandar dan Muh. Khoirudin. Iskandar, melalui akun TikTok @iskandar_penyuluh, menjadikan setiap sesi live sebagai ruang edukasi dan konsultasi wakaf yang sistematis, dari tata cara hingga persyaratan serta hukum perwakafan. Ia tidak berhenti di penjelasan lisan, tetapi membuka jalur tindak lanjut dengan menyediakan kontak personal bagi warga yang ingin mengurus dokumen wakaf secara resmi. Sementara itu, Muh. Khoirudin dengan akun @Irud Blora memfokuskan layanan pada kemasjidan, membimbing takmir dalam proses pendaftaran ID Masjid dan musholla agar terdata resmi di sistem Kementerian Agama. Dua sosok ini mematahkan stereotip bahwa penyuluh agama hanya berceramah di mimbar; mereka tampil sebagai host digital yang membawa urusan administratif ke ruang live streaming, memadukan dakwah, edukasi, dan layanan praktis dalam satu layar.

Memecah Hambatan Birokrasi Lewat Platform yang Familiar

Strategi menggunakan TikTok Live layanan publik memecah hambatan birokrasi tradisional dengan cara yang sangat sederhana: datang ke tempat warga sudah berada, yaitu media sosial. Warga yang memiliki keterbatasan waktu untuk datang langsung ke kantor KUA tetap bisa berdialog, bertanya, dan mendapat penjelasan teknis tanpa perlu mengambil nomor antrian. Komunikasi dua arah tanpa sekat ruang dan waktu menjadikan layanan publik terasa lebih seperti percakapan, bukan pemeriksaan. Menurut perwakilan KUA Srono, “Layanan publik sudah sepatutnya adaptif dengan perkembangan zaman. Kehadiran penyuluh agama di platform media sosial seperti TikTok bukti nyata bahwa negara hadir menyapa warga dengan cara yang lebih ramah, terbuka, dan solutif”. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa pemerintah media sosial bukan ancaman, melainkan peluang untuk membangun kepercayaan, selama kanal digital itu diperlakukan sebagai sarana resmi yang akuntabel.

Media Sosial sebagai Infrastruktur Layanan Publik

Respons positif dari netizen dan warga lokal terhadap inovasi KUA Srono bukan hanya pujian, tetapi indikator bahwa media sosial siap diangkat statusnya dari sekadar hiburan menjadi infrastruktur layanan publik. Informasi layanan keagamaan yang sebelumnya berserakan dalam selebaran dan papan pengumuman kini mengalir dalam format live yang transparan dan mudah diakses. Melalui konsistensi siaran dan interaksi, KUA Srono membuktikan bahwa pemerintah media sosial dapat memanfaatkan algoritma dan budaya digital untuk memperluas jangkauan dan memperdalam relasi dengan warga. Ini mengirim pesan kuat: birokrasi digital bukan proyek aplikasi canggih semata, tetapi keberanian membawa fungsi negara ke ruang yang dianggap non-formal. Kesimpulannya, TikTok Live sebagai kanal resmi layanan publik adalah langkah maju yang layak ditiru, selama setiap jawaban di layar tetap dapat ditindaklanjuti dalam prosedur administrasi yang sah dan terdokumentasi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!