Angka agregat memberi alasan untuk tenang, bukan lengah
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode, yang diukur melalui perubahan Indeks Harga Konsumen dan dapat bergerak berbeda pada tiap kelompok pengeluaran. Untuk Oktober 2026, Bank Indonesia (BI) menilai inflasi tetap berada dalam sasaran, sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tekanan pada beberapa komponennya masih perlu dicermati.
IHK naik 0,22% secara bulanan, sedangkan inflasi tahunannya tercatat 3,23%, turun dari 3,28% pada bulan sebelumnya. BI menyebut capaian itu terjaga berkat sinergi bank sentral dengan pemerintah pusat dan daerah, konsistensi kebijakan moneter, serta penguatan ketahanan pangan. Angka keseluruhan memang memberi ruang bagi optimisme: sasaran inflasi BI untuk 2026 dan 2027 adalah 2,5% dengan rentang toleransi satu poin persentase ke atas atau ke bawah, yakni 1,5–3,5%.
Namun, penilaian BI tentang inflasi terkendali tidak berarti seluruh sumber tekanan mereda. BPS melaporkan inflasi inti dan harga diatur pemerintah sama-sama meningkat secara tahunan, sedangkan inflasi bergejolak menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perbedaan ini penting: angka agregat yang berada di sasaran dapat hidup berdampingan dengan kenaikan pada komponen tertentu.
Inflasi inti naik dibanding tahun lalu, tetapi melandai dari September
Inflasi inti Oktober mencapai 2,56% secara tahunan, naik dari 2,36% pada Oktober 2025. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, angka tahunan itu turun dari 2,84%. Ukuran bulanan pun relatif stabil: 0,12% pada Oktober, berbanding 0,10% pada September. Jadi, kata “naik” perlu dibaca dengan pembanding yang jelas. Tekanannya bertambah dibanding setahun lalu, tetapi laju tahunannya lebih rendah daripada bulan sebelumnya.
BPS mencatat komponen inti memberi andil inflasi terbesar, yakni 1,64 poin persentase secara tahunan. Emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop atau notebook, serta pelumas mesin termasuk komoditas yang berkontribusi. BI mengaitkan perkembangan inflasi inti dengan tekanan eksternal yang berlanjut, sementara ekspektasi inflasi tetap terjaga dalam sasaran. Kombinasi itu mendukung pandangan bahwa situasi belum lepas kendali, tetapi kenaikan tahunan pada komponen inti tetap layak dipantau.
Harga yang diatur pemerintah menjadi titik perhatian
Perubahan paling tajam dibanding tahun lalu tampak pada harga diatur pemerintah. Inflasi kelompok ini mencapai 3,24% secara tahunan pada Oktober 2026, meningkat dari 1,45% pada Oktober 2025 dan memberi andil 0,63 poin persentase. Secara bulanan, kelompok tersebut mencatat inflasi 0,09%, setelah tidak mengalami kenaikan pada September.
Bensin, tarif angkutan udara, rokok kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang utama dalam kelompok ini. Pergerakan tersebut menjelaskan mengapa gambaran inflasi keseluruhan yang masih sesuai sasaran tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa semua tekanan harga telah surut. Inflasi tahunan IHK justru turun, tetapi komponen yang dipengaruhi harga-harga yang diatur pemerintah mencatat laju lebih tinggi daripada setahun sebelumnya. Ini bukan kontradiksi; keduanya mengukur hal berbeda dan menunjukkan bagian mana yang perlu diawasi.
Pangan mereda secara bulanan, risiko pasokan tetap ada
Kelompok pangan bergejolak mencatat inflasi bulanan 0,77% pada Oktober, lebih rendah daripada 1,46% pada September. Namun, inflasi tahunannya mencapai 5,81%, meningkat dari 5,03% pada bulan sebelumnya, meski masih di bawah 6,59% pada Oktober 2025. Cabai merah dan cabai rawit menjadi pendorong tekanan bulanan, seiring penurunan produksi di sejumlah daerah sentra. BPS juga menyebut beras, daging ayam ras, daging sapi, dan tomat sebagai komoditas yang turut menyumbang inflasi pangan bergejolak.
BI menyatakan akan terus memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah serta pelaksanaan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera. Upaya itu mencakup pengendalian inflasi pangan dan antisipasi gangguan cuaca ekstrem El Niño terhadap pasokan serta harga bahan pangan. Fokus tersebut tepat: selama risiko pasokan masih dapat menggerakkan harga pangan, menjaga inflasi dalam sasaran membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan moneter.
Kesimpulannya, inflasi Oktober 2026 memang terkendali menurut ukuran agregat dan masih berada dalam sasaran BI. Namun, kenaikan tahunan inflasi inti dan harga diatur pemerintah menunjukkan bahwa kestabilan itu tidak merata. Penilaian BI masuk akal, asalkan dibarengi kewaspadaan terhadap komponen yang meningkat dan koordinasi pangan yang konsisten.






