Jurang inflasi menandai tekanan yang tidak merata
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu wilayah selama periode tertentu, yang mengurangi daya beli ketika berlangsung lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan. Angka Oktober menunjukkan tekanannya jauh dari seragam antardaerah: BPS mencatat inflasi tahunan tertinggi di Sulawesi Utara sebesar 8,07%, sedangkan DKI Jakarta mencatat yang terendah, 2,52%. Jarak 5,55 poin persentase itu membuat angka nasional saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi setiap daerah. Secara nasional, inflasi tahunan berada di 3,23%, masih dalam sasaran pemerintah dan Bank Indonesia sebesar 1,5% hingga 3,5%, tetapi selisih antardaerah tetap mencolok. Ini bukan sekadar perbedaan peringkat: angka provinsi memperlihatkan bahwa tekanan harga terkonsentrasi dengan intensitas berbeda. Karena itu, membaca inflasi perlu melihat peta daerah dan komoditas pendorong, bukan hanya rata-rata nasional.
Sulawesi Utara jauh di atas Jakarta
Inflasi Sulawesi Utara sebesar 8,07% pada Oktober bukan hanya yang tertinggi, melainkan juga lebih dari dua kali angka nasional 3,23%. Provinsi lain dengan tekanan tinggi mencakup Papua Pegunungan sebesar 7,22%, Papua Barat 6,38%, Maluku Utara 6,18%, Papua Tengah 6,11%, dan Kalimantan Tengah 5,19%. Di ujung bawah, inflasi Jakarta tercatat 2,52%, disusul Kalimantan Utara 2,68% dan Banten 2,76%. Kontras ini mengingatkan bahwa angka nasional yang masih berada dalam rentang sasaran tidak otomatis berarti tekanan harga terkendali merata. Perbedaan sebesar itu layak menjadi perhatian dalam membaca kondisi ekonomi daerah: satu angka rata-rata dapat menutupi kenyataan bahwa sebagian provinsi menghadapi kenaikan harga yang jauh lebih kuat.
Pangan dan transportasi menjadi pendorong utama
BPS menyebut makanan, minuman, dan tembakau; transportasi; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebagai kelompok yang terutama mendorong inflasi tahunan. Pada kelompok pangan, komoditas yang memberi andil antara lain cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, dan daging sapi. Tekanan tidak berhenti pada bahan makanan. Inflasi tahunan kelompok transportasi mencapai 4,87% dengan andil 0,59%, didorong antara lain oleh bensin, angkutan udara, oli mesin, serta biaya pemeliharaan dan servis kendaraan. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 4,52% dengan andil 0,32%; emas perhiasan termasuk pendorongnya. Gambaran ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tersebar di beberapa kebutuhan dan jasa, tetapi gejolak pangan—terutama komoditas segar—tetap menonjol dalam tekanan inflasi.
Makassar menyoroti peran harga cabai rawit
Di Sulawesi Selatan, data BPS provinsi menempatkan Makassar sebagai wilayah dengan inflasi tertinggi, mencapai 4,55%. Catatan komoditasnya memperjelas mengapa pangan patut dicermati: kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan 7,71% dan memberi andil terbesar terhadap inflasi umum Sulawesi Selatan, yakni 2,39%. Harga cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan yang tercatat, dengan andil 0,49%. Setelahnya, emas perhiasan menyumbang 0,25%, daging ayam ras 0,17%, dan bensin 0,15%. Ikan layang atau ikan benggol memberi andil 0,14%, sementara cabai merah dan minyak goreng masing-masing 0,13%. Rincian ini memberi konteks penting bagi inflasi Makassar: tekanan bukan angka abstrak semata, melainkan berkaitan dengan komoditas yang masuk dalam kelompok pangan sehari-hari. Namun, data tersebut tidak merinci perubahan harga per komoditas.
Rata-rata nasional tak boleh menutup peta daerah
Perbandingan Oktober memperlihatkan dua hal sekaligus: inflasi nasional masih dalam sasaran, tetapi tekanan di sejumlah wilayah jauh lebih tinggi. Sulawesi Utara memimpin pada 8,07%, sedangkan DKI Jakarta berada di posisi terendah dengan 2,52%; Makassar, pada 4,55%, menjadi yang tertinggi di Sulawesi Selatan. Pendorong juga berlapis, dari pangan dan transportasi hingga perawatan pribadi, dengan cabai rawit sebagai penyumbang terbesar yang tercatat di Sulawesi Selatan. Karena itu, membaca inflasi hanya melalui angka nasional berisiko mengaburkan ketimpangan tekanan harga antarwilayah. Kesimpulannya, jarak antardaerah dan komposisi komoditas sama-sama penting: angka provinsi menunjukkan seberapa berat tekanannya, sementara rincian komoditas membantu menjelaskan sumbernya.






