AI yang berangkat dari kebutuhan nyata
NovaSight adalah aplikasi AI untuk tunanetra yang membantu siswa mengakses materi visual, mencatat proses penyelesaian soal, dan belajar matematika secara lebih mandiri. Empat mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (Unikom)—Ratuayu Nurfajar, Regia Qolbu Rivita Atmowidjaja, Mohamad Zaki Zakiran, dan Damar Fikri Haikal—mengembangkan aplikasi ini bersama dosen pendamping Dian Dharmayanti. Tim I-SEUNG diumumkan sebagai juara pertama kategori D3/D4/S1 Samsung Solve for Tomorrow 2026 di Jakarta pada 29 Oktober 2026. Kemenangan ini penting bukan semata karena teknologi yang digunakan, melainkan karena gagasannya berangkat dari hambatan belajar yang konkret. Tim melakukan riset dan wawancara dengan siswa serta guru di SLB Negeri A Citeureup, Cimahi. Mereka menemukan kesulitan memahami grafik dan diagram, serta mencatat langkah perhitungan—bagian matematika yang kerap bergantung pada representasi visual.
Masalah tersebut layak mendapat perhatian lebih besar: tim mengutip data Kemendikdasmen yang mencatat 4.229 siswa tunanetra bersekolah di SLB, meski periode data itu tidak dirinci. Angka ini menunjukkan bahwa aksesibilitas bukan fitur tambahan untuk segelintir pengguna, melainkan kebutuhan pendidikan yang nyata. Keunggulan NovaSight terletak pada upayanya merancang solusi dari pengalaman calon pengguna, bukan berasumsi tentang apa yang mereka butuhkan. Pendekatan itu juga menjadi pengingat bagi pengembang teknologi pendidikan bahwa akses setara mesti dirancang sejak awal.
Lima fitur untuk mendukung proses belajar
NovaSight AI menggabungkan lima fitur yang menargetkan hambatan berbeda dalam pembelajaran. Annoter mengubah materi, termasuk grafik dan diagram, menjadi uraian teks yang bisa dibacakan pembaca layar. Scriber membantu siswa mencatat tahapan penyelesaian soal melalui keyboard yang dirancang ramah tunanetra. Clarifier berperan sebagai asisten tanya jawab berdasarkan materi, sementara Quizzer membantu guru menyusun soal dan kunci jawaban. Evaluaizer menganalisis jawaban beserta langkah perhitungan untuk menemukan kesalahan. Pembagian fungsi ini lebih meyakinkan daripada menjadikan AI sebagai satu kotak percakapan serbaguna: aplikasi mencoba mendukung siswa sekaligus pekerjaan guru.
Tim membangun aplikasi menggunakan Flutter dan Azure OpenAI, dengan dukungan pembaca layar TalkBack. Dalam uji coba yang dipaparkan tim, seorang siswa tunanetra menjawab benar empat dari lima soal matematika dalam 15 menit tanpa pendampingan guru. Hasil awal ini memberi alasan untuk optimistis, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa aplikasi siap digunakan secara luas. Pengujian lebih besar tetap dibutuhkan untuk menilai konsistensi jawaban AI, kemudahan penggunaan, serta kecocokannya dengan kebutuhan belajar yang beragam.
Pengalaman pengguna harus menjadi ukuran keberhasilan
Satu pelajaran penting muncul ketika tim menguji rancangan keyboard. Desain awal yang mereka anggap nyaman ternyata tidak familier bagi siswa tunanetra, sehingga perlu diperbaiki setelah tim kembali ke lapangan dan merujuk pada pedoman aksesibilitas. Ini menunjukkan mengapa riset pengguna tidak bisa berhenti pada tahap pencarian ide. Teknologi yang berfungsi di atas kertas belum tentu praktis dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Irman, siswa tunanetra kelas XI di SLB Negeri A Citeureup, mengatakan NovaSight membantunya memahami grafik dan diagram serta mengerjakan soal dan mencatat langkah penyelesaian dengan lebih mandiri. Kesaksian ini memberi gambaran tentang manfaat yang dituju: bukan menggantikan guru, melainkan mengurangi ketergantungan pada pendampingan terus-menerus. Tim masih perlu memperluas pengembangan dan pengujian agar kemampuan, kenyamanan, serta konsistensi aplikasi dapat dipastikan. Mereka juga menyatakan kemenangan ini menjadi motivasi untuk menyempurnakan NovaSight agar menjangkau lebih banyak siswa.
Kompetisi yang menilai dampak, bukan sekadar teknologi
Samsung Solve for Tomorrow menjadi panggung bagi NovaSight sekaligus proyek lain yang mencoba menjawab persoalan sosial dan lingkungan melalui STEM. Kompetisi inovasi mahasiswa dan pelajar ini menerima lebih dari 4.000 pendaftar; peserta juga mengikuti lokakarya design thinking dan pelatihan AI sebelum tahap penjurian akhir. Besarnya partisipasi menunjukkan minat pada inovasi, tetapi kualitas gagasan pada akhirnya perlu diukur dari kebutuhan yang ditangani dan bukti manfaatnya.
Di kategori SMA/SMK/MA, tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta meraih juara pertama lewat AeroSpora, rancangan sistem pemurnian udara berbasis lumut yang memadukan sensor, IoT, dan AI. Berbeda dari NovaSight yang berfokus pada akses pendidikan, AeroSpora menanggapi persoalan kualitas udara. Kehadiran kedua proyek memperlihatkan luasnya ruang penerapan teknologi, tetapi NovaSight menonjol karena menempatkan kemandirian siswa sebagai tujuan yang bisa dirasakan langsung. Penghargaan ini merupakan awal, bukan bukti akhir: manfaat jangka panjang akan bergantung pada uji lanjut, perbaikan bersama pengguna, dan akses nyata di sekolah.






