Numerasi perlu diajarkan, bukan sekadar dihitung
BISA PandAI Numerasi adalah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan TelkomGroup yang menggabungkan pelatihan guru, perangkat belajar, dan praktik langsung untuk memperkuat matematika serta STEM di sekolah dasar wilayah 3T. Inisiatif ini menyasar 100 sekolah dan menempatkan guru sebagai kunci agar konsep numerasi lebih mudah dipahami siswa.
Langkah ini layak mendapat perhatian karena peningkatan capaian belum berarti pekerjaan selesai. Proporsi siswa SD/MI yang memenuhi kompetensi minimum numerasi naik dari 39,04% pada 2022 menjadi 52,48% pada 2024. Angka tersebut menunjukkan kemajuan, tetapi juga menyisakan kebutuhan untuk menjaga penguatan numerasi secara berkelanjutan. Numerasi bukan hanya kemampuan mengerjakan soal; ia menjadi dasar berpikir logis dan memecahkan masalah. Karena itu, program numerasi sekolah akan lebih bernilai jika membantu guru menghubungkan konsep dengan pengalaman yang dapat dikenali anak.

Guru menjadi penggerak perubahan di kelas
TelkomGroup tidak berhenti pada penyediaan perangkat. Program ini juga menguatkan kapasitas guru numerasi melalui pelatihan dan pendampingan, lalu mendorong pembelajaran numerasi interaktif yang aplikatif. Fokus tersebut tepat: alat belajar hanya berguna ketika pendidik mampu memilih cara yang sesuai, membimbing siswa mencoba, dan membantu mereka memahami alasan di balik jawaban.
BISA PandAI Numerasi memadukan perangkat pembelajaran numerasi dan STEM dengan pengalaman langsung di kelas. Pendekatan ini berpotensi membuat matematika dan sains terasa lebih dekat, sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk melatih kreativitas, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. Telkom menyatakan bahwa programnya bukan hanya mendukung perangkat pembelajaran, tetapi juga memperkuat kapasitas guru serta mendorong metode belajar yang interaktif dan aplikatif. Ukuran keberhasilan pada akhirnya bukan banyaknya perangkat yang tersedia, melainkan apakah guru dapat memakainya secara konsisten dalam proses belajar.
Jangkauan luas, tantangan penerapan tetap nyata
Program ini menjangkau Kabupaten Lebak di Banten, Kabupaten Lombok Utara di Nusa Tenggara Barat, dan Kota Tual di Maluku. Peluncurannya dilakukan secara hibrida, berpusat di Plasa Telkom Rangkasbitung dan diikuti secara daring oleh para pendidik di Lombok Utara serta Kota Tual. Cakupan lintas wilayah itu penting, sebab sekolah wilayah 3T membutuhkan dukungan yang dapat menjangkau komunitas pendidikan dengan kondisi berbeda.
Namun, jangkauan 100 sekolah baru menjadi awal. Pendampingan dan praktik di kelas merupakan bagian penting agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Tantangan program seperti ini adalah memastikan metode interaktif dapat digunakan dalam keseharian mengajar, bukan hanya saat pendamping hadir. Materi yang tersedia tidak merinci hasil pelaksanaan di tiap sekolah, sehingga dampak akhirnya belum dapat dinilai. Yang jelas, menggabungkan pengembangan guru dengan pengalaman belajar siswa adalah pilihan yang lebih menjanjikan daripada mengandalkan perangkat semata.
Investasi pendidikan harus terasa bagi siswa
Penguatan numerasi dan STEM juga berhubungan dengan kesiapan generasi muda menghadapi perubahan teknologi. Direktur Human Capital Management Telkom, Willy Saelan, menyebut numerasi sebagai fondasi untuk membantu anak berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengembangkan potensi menghadapi masa depan digital. Sasaran itu menuntut lebih dari sekadar pengenalan istilah STEM: siswa perlu kesempatan untuk mengamati, mencoba, dan menerapkan konsep.
Harapan program ini ialah meningkatnya minat terhadap matematika dan sains serta tumbuhnya kreativitas dan kemampuan menyelesaikan persoalan sejak dini. Itu manfaat yang relevan bagi murid, bukan hanya bagi penyelenggara. BISA PandAI Numerasi menunjukkan arah yang tepat dengan menautkan peningkatan kemampuan guru pada kegiatan belajar yang lebih aktif. Namun, nilai sesungguhnya akan ditentukan oleh seberapa kuat pendekatan tersebut hadir dalam pembelajaran sehari-hari di seluruh sekolah sasaran.






