BISA PandAI Numerasi: Lebih dari Sekadar Program Bantuan
BISA PandAI Numerasi adalah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan TelkomGroup yang berfokus pada penguatan pembelajaran numerasi dan STEM di sekolah dasar wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui pelatihan guru, perangkat belajar, dan metode interaktif agar matematika dan sains menjadi lebih mudah dipahami serta relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Program ini bukan sekadar penyaluran bantuan, melainkan intervensi terstruktur untuk mengubah cara guru mengajar dan cara murid belajar. Kick-off resmi digelar secara hybrid pada 12 Oktober 2026 di Plasa Telkom Rangkasbitung dan terhubung dengan pendidik di Plasa Telkom Tual, menandai komitmen serius terhadap pemerataan pembelajaran numerasi 3T. Dari awal, pendekatan yang dipilih jelas: guru diposisikan sebagai penggerak perubahan, bukan penerima pelatihan pasif.

Menjangkau 100 Sekolah: Skala Besar, Tantangan Nyata
Dampak program BISA PandAI menjadi terasa ketika melihat skala jangkauannya: 100 sekolah dasar di Kabupaten Lebak, Kabupaten Lombok Utara, dan Kota Tual kini masuk dalam ekosistem pembelajaran numerasi 3T yang lebih terarah. Di Lebak saja, 38 guru hadir langsung saat kick-off, sementara pendidik dari Lombok Utara dan Tual mengikuti secara daring. Ini menunjukkan bahwa akses geografis yang sulit tidak lagi dijadikan alasan untuk menunda peningkatan kualitas pembelajaran matematika. Menariknya, program ini hadir di tengah tren peningkatan numerasi nasional: proporsi siswa SD/MI yang mencapai kompetensi minimum numerasi naik dari 39,04% pada 2022 menjadi 52,48% pada 2024. Angka ini layak dikutip karena menegaskan bahwa intervensi seperti BISA PandAI bukan bekerja di ruang hampa, melainkan memperkuat momentum yang sudah mulai terbentuk.

Pelatihan Guru Matematika: Jantung Transformasi di Kelas
Jika ada satu elemen yang menentukan berhasil tidaknya program ini, itu adalah pelatihan guru matematika dan sains. BISA PandAI Numerasi dirancang selama kurang lebih tiga bulan, dimulai dengan Training of Trainers (ToT) selama 17 hari untuk penguatan kapasitas guru, lalu dilanjutkan penerapan metode di kelas selama dua bulan. Tahapan ini bukan pelatihan kilat; ia memberi waktu bagi guru untuk menguji, merefleksikan, dan menyesuaikan pendekatan interaktif yang mereka pelajari. Metode yang diperkenalkan membantu siswa memahami konsep matematika secara bertahap dan mudah dipahami, mendorong pengalaman belajar yang lebih efektif dan partisipatif. Di sini terlihat pergeseran penting: guru tidak lagi sekadar mengulang rumus, tetapi memfasilitasi proses berpikir logis, kritis, dan pemecahan masalah yang menjadi inti pembelajaran numerasi modern.

STEM di Daerah Terpencil: Dari Lab Kit ke Cara Berpikir
Penguatan STEM di daerah terpencil dalam program BISA PandAI bukan berhenti pada jargon teknologi. TelkomGroup menyediakan STEM lab kit bagi sekolah peserta, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana perangkat ini dipakai untuk proyek sederhana, praktik langsung, dan pemecahan masalah di kelas. Pembelajaran STEM di daerah terpencil diarahkan untuk menumbuhkan cara berpikir kritis dan kreatif siswa, bukan sekadar mengenalkan istilah sains dan teknologi. Pendekatan interaktif dan aplikatif membuat matematika dan sains hadir sebagai pengalaman, bukan materi hafalan. Ketika guru dan murid di ruang kelas 3T mulai bereksperimen, mendokumentasikan perkembangan, dan mengikuti STEM Challenge Day di minggu ke-12, kita melihat bagaimana program BISA PandAI mengubah ruang belajar menjadi laboratorium ide yang hidup. Inilah bentuk nyata STEM yang relevan dengan konteks lokal, bukan paket konsep yang dipaksakan dari luar.
TJSL Bersama Jadi BISA: Mengurangi Kesenjangan, Bukan Menghias Laporan
Sebagai bagian dari payung Bersama Jadi BISA dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, BISA PandAI Numerasi jelas mengambil posisi yang lebih ambisius daripada sekadar memenuhi kewajiban perusahaan. Inisiatif ini secara eksplisit diarahkan untuk mendukung tujuan Pendidikan Berkualitas dalam Sustainable Development Goals, dengan fokus pada penguatan fondasi numerasi dan STEM di wilayah yang selama ini tertinggal. Yang patut diapresiasi adalah keberanian untuk menyasar kesenjangan pendidikan di daerah terpencil, bukan bermain aman di sekolah-sekolah yang sudah mapan. Pendekatan terintegrasi—pelatihan guru, perangkat belajar, dan metode interaktif—menunjukkan bahwa perusahaan digital bisa memilih untuk berkontribusi pada masa depan melalui kelas matematika di desa-desa jauh, bukan hanya melalui produk komersial. Kesimpulannya, jika program ini konsisten dan diperluas, BISA PandAI berpotensi mengubah narasi 3T: dari wilayah tertinggal menjadi wilayah yang punya fondasi kuat untuk melahirkan generasi melek numerasi dan STEM.






