Harga BBM November masih bertahan
Harga BBM Pertamina adalah tarif per liter untuk produk bahan bakar yang dijual Pertamina, mencakup BBM bersubsidi, penugasan, dan nonsubsidi, dengan besaran yang dapat berbeda menurut produk serta wilayah. Per 1 November 2026, Pertamina mempertahankan harga seluruh kategori meski harga minyak dunia meningkat; keputusan ini memberi kepastian bagi konsumen, tetapi tidak menghapus kemungkinan perubahan berikutnya. Harga BBM November tersebut sama dengan tarif Oktober. Pemerintah juga memastikan Pertalite tidak naik hingga 31 Desember 2026, sementara Biosolar tetap tercatat sebagai produk bersubsidi. Bagi pengguna, kabar utamanya jelas: belum ada kenaikan pada awal bulan, tetapi harga yang berlaku perlu dibaca sesuai jenis BBM dan lokasi pengisian.

Daftar harga BBM Pertamina
Berikut daftar harga BBM per liter yang dilaporkan berlaku pada 1 November. Pemisahan kategori penting: Biosolar merupakan BBM bersubsidi, Pertalite adalah BBM penugasan pemerintah, sedangkan Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex merupakan produk nonsubsidi. Dengan begitu, harga Pertamax terbaru tidak sebaiknya disamakan dengan tarif produk subsidi.
| Jenis BBM | Kategori | Harga per liter |
|---|---|---|
| Biosolar | Subsidi | Rp6.800 |
| Pertalite | Penugasan pemerintah | Rp10.000 |
| Pertamax | Nonsubsidi | Rp15.950 |
| Pertamax Green 95 | Nonsubsidi | Rp19.150 |
| Pertamax Turbo | Nonsubsidi | Rp19.600 |
| Dexlite | Nonsubsidi | Rp23.700 |
| Pertamina Dex | Nonsubsidi | Rp25.200 |
Tarif nonsubsidi berbeda menurut wilayah
Angka di atas tidak berlaku seragam di semua daerah. Di Jakarta, Pertamax tercatat Rp15.950 per liter, Pertamax Turbo Rp19.600, Pertamax Green 95 Rp19.150, Dexlite Rp23.700, dan Pertamina Dex Rp25.200. Di Aceh, harga Pertamax Rp16.200, Pertamax Turbo Rp20.000, Dexlite Rp24.200, dan Pertamina Dex Rp25.750 per liter; Pertamax Green 95 tidak tersedia dalam daftar wilayah tersebut. Di FTZ Sabang, Pertamax tercatat Rp14.950 dan Dexlite Rp22.150 per liter, sementara beberapa produk lain ditandai tidak tersedia. Perbedaan tarif antardaerah dikaitkan dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Karena itu, konsumen sebaiknya memeriksa tarif lokal, bukan mengandalkan satu angka nasional.
| Wilayah | Pertamax | Pertamax Turbo | Pertamax Green 95 | Dexlite | Pertamina Dex |
|---|---|---|---|---|---|
| Jakarta | Rp15.950 | Rp19.600 | Rp19.150 | Rp23.700 | Rp25.200 |
| Aceh | Rp16.200 | Rp20.000 | — | Rp24.200 | Rp25.750 |
| FTZ Sabang | Rp14.950 | — | — | Rp22.150 | — |
| Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Papua | Rp16.300 | Rp20.000 | — | Rp24.200 | Rp25.750 |
Pada kelompok wilayah terakhir, Pertamax Pertashop tercatat Rp16.200 per liter. Pertalite tetap Rp10.000 dan Biosolar subsidi Rp6.800 per liter. Tanda “—” menunjukkan produk tidak dicantumkan dalam daftar wilayah, bukan harga yang dapat diasumsikan.
Harga nonsubsidi mengikuti pasar
Tidak adanya kenaikan pada 1 November bukan jaminan tarif nonsubsidi akan terus tetap. Pemerintah menjelaskan harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar dan dapat disesuaikan seiring pergerakan harga acuan; penyesuaian pun tidak harus terjadi pada hari yang sama dengan perubahan harga minyak. Sebaliknya, pemerintah memastikan Pertalite tidak naik sampai 31 Desember 2026 sebagai bagian dari perlindungan masyarakat. Ini membuat perbedaan antara kategori subsidi dan nonsubsidi terasa langsung bagi konsumen: harga produk subsidi mendapat kepastian kebijakan untuk periode yang disebutkan, sedangkan tarif nonsubsidi tetap terpapar perubahan acuan. Kesimpulannya, daftar harga per 1 November memberi patokan yang berguna, tetapi pengecekan wilayah dan jenis BBM tetap penting setiap kali mengisi.






