Keselamatan Perlintasan Kereta: Dari Masalah Menjadi Agenda Utama
Keselamatan perlintasan kereta adalah serangkaian kebijakan, infrastruktur, dan perilaku pengguna jalan yang dirancang untuk mencegah tabrakan antara kereta api, kendaraan, dan pejalan kaki di titik pertemuan jalur rel dengan jalan raya, yang sering disebut perlintasan sebidang. Di Sumatera, isu ini bukan sekadar urusan teknis, tetapi soal nyawa sehari-hari. Data insiden menunjukkan bahwa setiap keterlambatan penguatan sistem keselamatan berarti mempertaruhkan pengguna jalan yang melintas tanpa perlindungan memadai. Karena itu, langkah terbaru KAI lewat pembangunan pos jaga KAI Sumatera dan strategi safety at scale transportasi tidak boleh dilihat sebagai proyek rutin, melainkan koreksi atas warisan perlintasan sebidang Indonesia yang terlalu lama dibiarkan apa adanya.
Divre I Sumut: 12 Pos Jaga Bukan Sekadar Bangunan, Tapi Sinyal Serius
PT KAI Divre I Sumatera Utara memilih jalan yang lebih tegas: membangun 12 pos jaga perlintasan sebidang di titik-titik rawan untuk memperkuat keselamatan perjalanan kereta dan pengguna jalan. Ini bukan angka kecil jika diingat bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari program nasional pembangunan 190 pos jaga perlintasan. Pos jaga baru itu tersebar di Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, dan Deli Serdang, termasuk jalur logistik padat di Jalan Raya Pelabuhan Belawan yang dilalui kendaraan berat dan truk angkutan barang.
Anwar Yuli Prastyo menjelaskan bahwa tiap pos akan dioperasikan 24 jam oleh empat petugas, yang direkrut dan dibekali materi dasar perkeretaapian sebelum disertifikasi sebagai Penjaga Jalur Lintasan (PJL). Penempatan 180 petugas ekstra di 101 perlintasan sebidang yang belum terjaga menegaskan bahwa keselamatan perlintasan kereta sedang diangkat menjadi prioritas harian, bukan slogan musiman. Dengan 636 perlintasan sebidang di Sumut dan 485 di antaranya belum terjaga, kebijakan ini adalah pilihan realistis: jika seluruh perlintasan belum bisa dihilangkan, maka tiap titik rawan minimal harus dijaga manusia.
Divre II Sumbar: Safety at Scale di Tengah Lonjakan Penumpang
Di Sumbar, logika yang dipakai KAI Divre II lebih strategis: keselamatan harus mengikuti skala mobilitas. Lonjakan pelanggan kereta lokal hingga 1.607.214 orang pada Januari–Agustus dengan kenaikan 19,52% dibanding tahun sebelumnya memaksa pendekatan baru terhadap risiko. Perlintasan sebidang Indonesia di wilayah ini terdiri dari 121 perlintasan resmi dan 140 perlintasan tidak resmi, sebuah kombinasi yang jika dibiarkan menjadi undangan terbuka bagi kecelakaan.
Program safety at scale transportasi diterjemahkan ke langkah konkret: penutupan 30 perlintasan liar hingga September, pembangunan gardu, pemasangan rambu, dan pelatihan penjaga perlintasan. Sosialisasi keselamatan dilakukan di 128 titik pada tahun sebelumnya dan telah menyentuh 56 titik pada tahun berjalan, termasuk sekolah dan lokasi masyarakat lainnya. Pesan Reza Shahab jelas: infrastruktur hanyalah lapisan pertama; tanpa kepatuhan pengguna jalan yang berhenti, melihat, dan mendengar sebelum melintas, lapisan perlindungan itu akan selalu bocor.
Strategi Terintegrasi: Dari Pos Jaga hingga Budaya Taat di Perlintasan
Yang menarik dari langkah KAI di Sumut dan Sumbar adalah koordinasi arah kebijakan. Pembangunan pos jaga, penugasan petugas ekstra, dan penyediaan fasilitas keselamatan di satu sisi, serta penutupan perlintasan liar dan program sosialisasi di sisi lain, menunjukkan bahwa dua divisi regional ini bergerak dalam kerangka keselamatan terintegrasi. Program KAI pun selaras dengan kebijakan Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan keselamatan di 190 titik perlintasan melalui penataan kawasan dan penambahan rambu.
Namun pendekatan ini juga menegaskan satu hal: keselamatan perlintasan kereta tidak bisa di-outsourcing hanya kepada KAI. Petugas jaga mungkin mampu menutup palang, tetapi mereka tidak bisa menghentikan pengemudi yang nekat. Program tanggung jawab sosial dan lingkungan di 30 lokasi, yang menggandeng masyarakat sekitar jalur rel, memperlihatkan bahwa KAI mulai memahami pentingnya kolaborasi akar rumput untuk mengurangi kebiasaan menerobos dan beraktivitas di jalur rel.
Kesimpulan: Mengawal Komitmen, Menguji Kedisiplinan
Inti dari semua langkah ini sederhana: KAI menempatkan keselamatan perjalanan kereta api dan pejalan kaki sebagai komitmen utama, tetapi hasil akhirnya akan sangat bergantung pada kedisiplinan pengguna jalan. Dengan 33 insiden perlintasan pada Januari–September yang hampir menyamai 39 insiden sepanjang tahun sebelumnya, data sudah cukup menjadi alarm bahwa status quo tidak dapat dipertahankan.
Pembangunan pos jaga KAI Sumatera, penyiapan petugas bersertifikat, penutupan perlintasan liar, dan evaluasi berkelanjutan terhadap mitigasi risiko menunjukkan bahwa standar keselamatan sedang dinaikkan untuk menyongsong pertumbuhan mobilitas yang terus membesar. Pada akhirnya, keselamatan perlintasan sebidang bukan hanya soal palang yang tertutup, tetapi seberapa besar kita rela mengubah kebiasaan demi memastikan setiap perjalanan kereta berakhir tanpa korban.






