TKA perlu dibaca sebagai bekal, bukan sekadar ujian
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah ujian yang mengukur kemampuan akademik siswa dan dapat membantu mereka mengenali potensi sebagai bekal merencanakan pendidikan lanjutan. Karena itu, persiapan TKA SMA yang baik semestinya tidak berhenti pada latihan soal: siswa juga perlu memahami tujuan ujian dan mendapat dukungan yang membuat mereka mampu menunjukkan kemampuan secara optimal. Dua sekolah, SMA Batik 1 Surakarta dan SMAN 15 Palembang, menggelar TKA kelas 12 dalam dua gelombang dengan penekanan berbeda. Di Surakarta, perhatian sekolah tampak pada pendampingan siswa secara menyeluruh; di Palembang, ujian diposisikan sebagai alat untuk mengukur sekaligus memetakan potensi akademik. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ujian yang tertib memang penting, tetapi nilai persiapannya lebih besar ketika hasil dan pengalaman siswa ikut menjadi perhatian.
Surakarta menguatkan kesiapan akademik dan mental
SMA Batik 1 Surakarta memberi dukungan kepada seluruh siswa kelas XII melalui pendalaman materi, pemadatan jadwal pembelajaran, pendampingan spiritual dan psikologis, serta pemeriksaan fasilitas ujian. TKA dibagi menjadi dua gelombang: 26–29 Oktober 2026 dan 2–5 November 2026. Ujian berlangsung di Laboratorium Komputer 1 dan 2, dengan sekolah memeriksa komputer, perangkat pendukung, jaringan internet, serta kesiapan ruang. Pendekatan ini patut diapresiasi karena kesiapan menghadapi ujian bukan hanya soal penguasaan materi. Doa bersama dan salat lail juga menjadi bagian dari ikhtiar sekolah untuk membangun ketenangan dan optimisme. Siswa kelas XII-3 Andhika Pratama menyebut pendampingan dan fasilitas tersebut membuat siswa merasa lebih siap, tenang, dan bersemangat. Dukungan semacam ini membantu mengurangi hambatan yang dapat mengalihkan perhatian siswa dari pengerjaan soal.

Palembang memakai ujian untuk membaca potensi
SMAN 15 Palembang menyelenggarakan Tes Kemampuan Akademik bagi siswa kelas XII Tahun Ajaran 2026/2027, dengan peserta dibagi ke dalam dua gelombang agar ujian berlangsung tertib dan kondusif. Jadwalnya sama dengan pelaksanaan di Surakarta: gelombang pertama pada 26–29 Oktober 2026 dan gelombang kedua pada 2–5 November 2026. Namun, penekanan yang disampaikan sekolah ini adalah fungsi TKA untuk mengukur kemampuan sekaligus memetakan potensi akademik siswa sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kepala sekolah Bambang Andi Irawan menyebut TKA bukan sekadar rutinitas ujian, melainkan jembatan agar siswa dapat mengenali potensi diri. Perspektif itu penting: hasil tes akan lebih berguna bila membantu siswa mengambil langkah pendidikan berikutnya, bukan hanya menjadi angka untuk dinilai.

Persiapan yang baik menghubungkan proses dan langkah berikutnya
Kedua sekolah memperlihatkan dua sisi persiapan yang saling melengkapi. Surakarta menaruh perhatian pada kondisi siswa dan kesiapan teknis, sedangkan Palembang menegaskan manfaat pemetaan kemampuan untuk merencanakan pendidikan tinggi. Pembagian ujian dalam dua gelombang di kedua tempat juga memberi struktur pelaksanaan yang jelas, tetapi pengaturan jadwal saja tidak cukup untuk menjadikan TKA pengalaman yang bermanfaat. Sekolah perlu memastikan siswa memahami tujuan tes, memperoleh ruang belajar yang memadai, dan dapat menggunakan hasilnya sebagai bahan pertimbangan setelah ujian. Bagi siswa, TKA kelas 12 sebaiknya diperlakukan sebagai satu bagian dari proses belajar, bukan penentu tunggal masa depan. Dengan dukungan yang tepat, ujian dapat menjadi kesempatan untuk menunjukkan hasil usaha sekaligus mengenali area yang masih perlu diperkuat. Kesimpulannya, persiapan paling bernilai menggabungkan pendalaman akademik, ketenangan siswa, dan arah tindak lanjut yang jelas.






