Ziarah yang Berakar pada Kehidupan Setempat
Camino de Flores adalah jalur ziarah jalan kaki yang menghubungkan situs keagamaan, desa adat, warisan budaya, dan bentang alam Flores dalam perjalanan yang ditujukan untuk mempertemukan iman dengan pembangunan masyarakat setempat. Nilai utamanya bukan pada jarak yang ditempuh, melainkan pada kesempatan untuk berhenti, merenung, dan berjumpa dengan kehidupan warga. Perjalanan percontohan pada 23–27 Oktober 2026 menempuh sekitar 70 kilometer dari Bajawa, melalui Boawae, hingga Ende. Jalur ini juga diperkenalkan kepada publik pada 13 Oktober oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. Gagasan tersebut memberi arah yang lebih luas bagi ziarah Katolik Flores: wisatawan tidak hanya mendatangi tempat suci, tetapi juga mengenali tradisi, alam, dan tantangan masyarakat di sepanjang rute. Dengan begitu, perjalanan fisik dapat menjadi pengalaman yang mengubah cara pengunjung memahami pulau ini.
Rute ini terinspirasi oleh Camino de Santiago, tetapi maknanya harus tumbuh dari konteks Flores sendiri. Penggagasnya, Mari Elka Pangestu, menginginkan perjalanan yang memperdalam refleksi batin sekaligus membawa peserta lebih dekat kepada alam dan kehidupan setempat. Itu penting karena ziarah berisiko kehilangan makna jika desa hanya diperlakukan sebagai latar foto atau tempat singgah. Perjumpaan yang menghormati ritual, tradisi, dan nilai warga harus menjadi bagian inti pengalaman, bukan tambahan setelah urusan wisata selesai. Pandangan ini juga menuntut persiapan dari para peziarah: datang dengan rasa ingin tahu, tetapi tanpa menganggap budaya lokal sebagai tontonan. Jika prinsip itu dijaga, Camino de Flores berpeluang menawarkan wisata religi Flores yang lebih berisi daripada sekadar daftar destinasi.

Festival Wolobobo Menambah Lapisan Budaya
Festival Wolobobo memperkuat jalur ziarah dengan menghadirkan budaya dan kreativitas Ngada sebagai bagian dari perjalanan, bukan sekadar acara terpisah. Wolobobo Ngada Festival 2026 dibuka di Art Centre, Bajawa, pada 22 Oktober dan berlangsung hingga 25 Oktober dengan tema “Harmoni Alam, Budaya, dan Kreativitas Ngada Mendukung Ekonomi Lokal”. Pagelaran seni, lomba tari dan lagu daerah, lomba konten kreator, serta pameran UMKM memberi pengunjung cara konkret untuk mengenal ekspresi masyarakat setempat. Festival dan Camino de Flores sama-sama diarahkan untuk merawat seni budaya, mendorong kreativitas generasi muda, mempromosikan produk daerah, dan memperkuat spiritualitas warga. Perpaduan ini membuat wisata religi Flores lebih kaya: pengalaman iman berlangsung berdampingan dengan perayaan budaya yang hidup.
Skala keterlibatan lokal memberi festival ini bobot yang nyata: ada 40 UMKM, empat BUMN atau BUMD, tujuh sekolah, tiga badan usaha, dan lima paguyuban yang ikut serta. Kopi Bajawa, tenun ikat, dan kerajinan bambu menjadi contoh produk lokal yang dapat dikenal pengunjung melalui rangkaian promosi tersebut. Angka dan produk itu bukan jaminan bahwa semua warga akan memperoleh manfaat, tetapi menunjukkan adanya ruang bagi pelaku lokal untuk mengambil bagian. Di sinilah Festival Wolobobo dapat melengkapi ziarah: festival menarik perhatian, sementara rute jalan kaki memberi waktu dan alasan untuk mengunjungi desa-desa. Hubungan keduanya akan lebih kuat jika pengunjung membeli dan menggunakan jasa secara bertanggung jawab, serta memberi ruang bagi warga untuk menjelaskan makna produk dan tradisinya.
Manfaat Pariwisata Harus Sampai ke Desa
Alasan terpenting mengembangkan Camino de Flores adalah memperluas manfaat pariwisata, yang selama ini banyak berpusat di Labuan Bajo, ke Ngada, Nagekeo, Ende, dan wilayah lain. Perjalanan yang membuat wisatawan tinggal lebih lama dapat membuka peluang bagi usaha kecil, kerajinan lokal, pekerjaan, dan pelestarian tradisi. Namun, keberhasilan tidak semestinya dihitung dari jumlah peserta atau ramainya kunjungan saja. Masyarakat pedesaan, kaum muda, perempuan, dan kelompok rentan perlu ikut menentukan arah pengembangan jalur serta menikmati hasilnya. Ini bukan tuntutan tambahan, melainkan syarat agar pariwisata menjadi pembangunan, bukan sekadar arus pengunjung yang melintas. Terlebih, sejumlah wilayah Flores masih menghadapi kemiskinan dan dampak gempa bumi. Menghubungkan peziarah dengan kenyataan tersebut dapat menumbuhkan solidaritas, asalkan warga diperlakukan sebagai mitra dan bukan bahan cerita.
Risikonya juga jelas: jika kepentingan ekonomi mengambil alih, perjalanan suci dapat kehilangan karakter dan tradisi setempat berpotensi dikemas hanya demi konsumsi wisata. Karena itu, pengelolaan jalur perlu menyeimbangkan kebutuhan pengunjung dengan penghormatan terhadap situs keagamaan, budaya, dan lingkungan. Pemerintah berharap program percontohan ini menjadi model berkelanjutan bagi jalur ziarah berikutnya, termasuk rute barat Labuan Bajo–Ruteng dan rute timur Maumere–Larantuka. Arah itu menjanjikan, tetapi ekspansi sebaiknya mengikuti kesiapan warga dan perlindungan warisan setempat, bukan mendahuluinya. Camino de Flores dan Festival Wolobobo dapat memperkuat wisata religi Flores dengan cara yang khas: mengundang orang berjalan lebih jauh, memahami lebih banyak, dan meninggalkan manfaat yang terasa. Ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa indah perjalanan itu bagi peziarah, melainkan juga seberapa baik perjalanan tersebut melayani masyarakat.







