Dari Komodo ke Kampung: Pergeseran Strategi Wisata Flores
Wisata daratan Flores adalah strategi pengembangan pariwisata yang menggeser fokus kunjungan dari dominasi wisata bahari ke eksplorasi desa, situs religi, lanskap pegunungan, dan kehidupan budaya sehari-hari masyarakat Flores, dengan tujuan memperpanjang masa tinggal wisatawan, menyebarkan manfaat ekonomi ke lebih banyak kabupaten, dan menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih utuh dan bermakna. Kemenpar dan BPOLBF tidak lagi puas menjual Labuan Bajo sebagai destinasi tunggal; mereka mulai mendorong pola perjalanan yang menghubungkan laut dan darat dalam satu rangkaian. Melalui famtrip, rute wisata daratan Flores diperkenalkan kepada agen perjalanan, operator tur, media, dan kreator konten sebagai bahan menyusun paket perjalanan baru yang tidak berhenti di Taman Nasional Komodo. Ini langkah berani: mengurangi ketergantungan pada satu ikon dan menguji apakah wisatawan siap diajak menyusuri Flores lebih dalam.
Camino de Flores NTT: Wisata Religi yang Menyentuh Dompet dan Nurani
Camino de Flores NTT adalah kartu truf baru Kemenpar dan BPOLBF untuk masuk ke segmen paket wisata religi bernilai tinggi. Program ini dirancang sebagai perjalanan jalan kaki yang menghubungkan situs religi Katolik, desa wisata, lanskap alam, dan tradisi budaya di daratan Flores, sambil memasukkan aksi karitatif dalam setiap etape. Pada pilot project Etape Tengah, sekitar 70 peserta komunitas karitatif akan menempuh rute Bajawa–Nagekeo–Ende sejauh kurang lebih 70 kilometer pada 23–27 Oktober 2026. Ini bukan sekadar ziarah; ini wisata yang menuntut refleksi spiritual, penelusuran sejarah, dan interaksi sosial langsung dengan warga lokal. Dengan menggabungkan spiritualitas, budaya, dan kepedulian sosial, Camino de Flores berpotensi menjadi magnet baru bagi wisatawan religi yang mencari pengalaman lebih mendalam ketimbang foto di spot ikonik.
Menghubungkan Etape Barat–Tengah–Timur: Flores sebagai Satu Jalur Perjalanan
Kekuatan Camino de Flores bukan hanya pada narasi sakralnya, tetapi pada desainnya sebagai jaringan perjalanan lintas kabupaten. Setelah Etape Tengah, rute ini direncanakan meluas ke Etape Barat (Labuan Bajo–Ruteng) dan Etape Timur (Maumere–Larantuka). Artinya, wisata daratan Flores diposisikan sebagai satu koridor yang mengikat berbagai daya tarik: dari Samana Santa, Festival Golo Koe, hingga ritual ziarah dan prosesi budaya lain yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Strategi ini menjawab masalah klasik: kunjungan yang menumpuk di Labuan Bajo destinasi, sementara wilayah lain hanya kebagian remah. Dengan pola jalur terintegrasi, wisatawan didorong tinggal lebih lama dan menjelajah lebih banyak wilayah, sementara desa-desa di sepanjang rute berpeluang mengembangkan homestay, kuliner, dan kerajinan sebagai sumber pendapatan baru.
Famtrip: Laboratorium Paket Wisata Daratan Flores
Famtrip 12–16 Oktober yang diikuti enam peserta adalah uji coba penting untuk membuktikan bahwa wisata budaya Flores dan alam daratan cukup menarik untuk dijual bersama laut. Peserta diajak ke Parapuar, Wae Rebo, Todo, Lingko Cara Cancar, De Lawa Coffee, Wae Lolos, hingga Warloka Pesisir, lengkap dengan aktivitas yoga senja, pendakian, pengamatan bintang, hingga penanaman mangrove. Di sela perjalanan, ada pertemuan bisnis dengan pelaku industri lokal untuk menyusun paket yang menggabungkan wisata bahari dengan pengalaman wisata daratan Flores. Hasilnya, lahir rekomendasi paket perjalanan alternatif di luar kawasan Taman Nasional Komodo yang secara eksplisit ditujukan untuk memperpanjang masa kunjungan dan meningkatkan belanja wisatawan di Labuan Bajo dan sekitarnya. Inilah cara paling konkret mengubah narasi promosi menjadi produk tur yang bisa dijual.
Mengapa Strategi Ini Penting bagi Warga Flores, Bukan Hanya Wisatawan
Inti dari pergeseran ke wisata daratan Flores adalah pemerataan manfaat, bukan sekadar variasi brosur. Selama ini, arus wisata terkonsentrasi di Manggarai Barat, terutama Labuan Bajo destinasi, sehingga desa-desa di daratan lain tertinggal dalam akses pasar wisata. Melalui Camino de Flores dan famtrip, Kemenpar dan BPOLBF mencoba menghubungkan pengalaman bahari dan daratan agar wisatawan mendapat perjalanan yang lebih utuh dan terdorong tinggal lebih lama. Deputi Bidang Pemasaran menegaskan bahwa pengembangan wisata daratan membuka kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal tradisi, cita rasa lokal, dan kehidupan masyarakat Flores lebih dekat. Jika konsisten, strategi ini bisa mengubah pariwisata dari sekadar panggung foto menjadi ekosistem yang menghidupi petani kopi, perajin wastra, pengelola desa wisata, hingga komunitas keagamaan. Tantangannya kini: menjaga agar pertumbuhan tetap inklusif dan berkelanjutan, bukan sekadar memindahkan keramaian dari laut ke darat.






