Foto yang Berangkat dari Kepekaan
Shutterace 2026 adalah kompetisi fotografi langsung yang mengajak peserta menuntaskan sembilan misi pemotretan di delapan lokasi Jakarta sambil menanggapi isu lingkungan dan perubahan ruang kota. Format ini terasa lebih bermakna daripada lomba yang hanya mengejar gambar indah: fotografer harus mengamati keadaan, menemukan cerita, lalu menyampaikan sudut pandangnya melalui foto. Digelar Hayomoto pada 6–8 November 2026 di Roemah Umara Veteran, Jakarta Selatan, acara ini menjadi puncak perayaan sembilan tahun komunitas tersebut. Tema “Earth: Under Construction” dan semangat “From Image to Impact” menempatkan fotografi lingkungan sebagai cara untuk mengundang perhatian, bukan sekadar menghasilkan dokumentasi.
Pilihan pendekatan itu penting karena isu lingkungan kerap terasa jauh ketika hanya disampaikan sebagai angka atau wacana. Foto yang dibuat di tengah situasi nyata dapat memperlihatkan bagaimana pembangunan, perubahan fungsi ruang, dan kehidupan sehari-hari saling bersinggungan. Shutterace memberi peserta ruang untuk membaca hubungan tersebut dengan mata mereka sendiri.

Sembilan Misi, Delapan Lokasi
Shutterace berbeda dari kompetisi yang memberi fotografer waktu panjang untuk merencanakan satu karya. Peserta harus merespons tema dan situasi secara langsung, menyelesaikan sembilan misi di delapan lokasi, lalu menyunting dan mengumpulkan hasil sebelum penjurian. Pemenang dijadwalkan diumumkan pada Minggu, 8 November 2026. Ritme ini membuat tantangan fotografi bukan semata soal kecepatan membidik. Peserta juga perlu memilih detail yang relevan, memahami konteks, dan menentukan cara paling jelas untuk menyampaikan cerita.
Tema tahun ini mendorong peserta mengamati persoalan lingkungan, pembangunan, dan perubahan ruang kota melalui karya mereka. Karena lokasi dan kondisi pemotretan menjadi bagian dari pengalaman, foto yang kuat semestinya lahir dari pengamatan, bukan hanya dari penguasaan kamera. Format tersebut memberi nilai pada kepekaan visual sekaligus kemampuan menghubungkan sebuah objek dengan persoalan yang lebih luas.
Dari Gambar Menuju Kepedulian
Martha Suherman, pendiri Hayomoto, memandang Shutterace sebagai ruang belajar melihat lebih dalam, bukan sekadar ajang membuat foto menarik. Menurutnya, fotografer perlu peka terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat, sebab gambar dapat menjadi awal tumbuhnya perhatian terhadap persoalan di sekeliling. Harapan itu merangkum gagasan utama acara: fotografi tidak otomatis mengubah keadaan, tetapi dapat membuat orang berhenti sejenak, memperhatikan, lalu mempertimbangkan responsnya.
Martha menyatakan, “Kalau sebuah foto bisa membuat orang berhenti, melihat, berpikir, lalu mulai peduli, di situlah fotografi mulai punya impact”. Pernyataan itu memberi ukuran yang lebih berarti daripada sekadar daya tarik visual. Dalam konteks Shutterace, keberhasilan karya juga terletak pada kemampuannya menyampaikan persoalan lingkungan secara nyata dan mendorong audiens untuk peduli.
Komunitas sebagai Ruang Tumbuh
Shutterace merupakan bagian dari perayaan Hayomoto yang juga mencakup diskusi fotografi, lokakarya, pertemuan komunitas, pasar kamera dan produk kreatif, serta Fashion Show Challenge. Rangkaian ini menunjukkan bahwa acara tidak membatasi fotografi pada kompetisi: peserta dan pengunjung juga dapat bertukar pengalaman, belajar, dan bertemu pelaku dari berbagai bidang kreatif.
Hayomoto memiliki lebih dari 600 anggota aktif dan sekitar 19.400 pengikut Instagram. Komunitas ini terbuka bagi fotografer profesional maupun penghobi, tanpa membedakan merek kamera, genre, atau tingkat pengalaman. Keterbukaan itu sejalan dengan tujuan Shutterace: mendorong lebih banyak orang menggunakan fotografi untuk memperhatikan lingkungan dan kehidupan kota. Pada akhirnya, tantangan di delapan lokasi ini paling kuat ketika foto tidak berhenti sebagai hasil lomba, melainkan menjadi ajakan untuk melihat dan memikirkan kembali ruang bersama.






