Peninjauan untuk memastikan pekerjaan bergerak
Arena MTQ Abdya adalah kawasan yang disiapkan untuk mendukung Musabaqah Tilawatil Quran ke-XXXVIII sekaligus menyediakan sarana dan prasarana bagi kegiatan masyarakat. Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin, meninjau sejumlah proyek strategis Abdya pada Selasa, 27 Oktober 2026, termasuk arena MTQ di Desa Guhang, Kecamatan Blangpidie. Peninjauan ini bukan sekadar agenda lapangan: menjelang musim hujan, pemerintah perlu mengetahui apakah pekerjaan masih sesuai target dan hambatan apa yang bisa mengganggu penyelesaian. Safaruddin tinjau proyek bersama Sekda Amrizal, Kepala Dinas Syariat Islam Muhammad Rasyid, serta jajaran teknis Dinas PUPR. Kehadiran pejabat teknis penting, sebab percepatan hanya berarti jika keputusan di lokasi segera diterjemahkan menjadi pekerjaan yang terukur.
Fokus pemeriksaan mencakup pematangan lahan arena utama, fasilitas pendukung, dan akses jalan menuju lokasi acara. Ketiganya menentukan apakah kawasan dapat digunakan dengan baik, bukan hanya tampak siap dari kejauhan. Safaruddin meminta pimpinan daerah, dinas teknis, dan pelaksana bekerja maksimal serta profesional. Namun, dorongan mengejar jadwal tidak boleh mengorbankan standar teknis dan mutu. Itulah ukuran yang semestinya dipakai warga untuk menilai kemajuan pembangunan Desa Guhang: apakah fasilitas benar-benar fungsional, akses memadai, dan pekerjaan selesai sesuai spesifikasi. Peninjauan dapat membantu membuka kendala, tetapi manfaatnya bergantung pada tindak lanjut yang konsisten.

Arena MTQ sebagai investasi yang lebih luas
Persiapan kawasan ini penting karena perhelatan MTQ ke-XXXVIII bukan hanya acara sementara. Pemerintah Abdya merencanakan kawasan venue sebagai fasilitas yang dapat mencakup stadion dan sarana penunjang lain, sehingga investasi publik berpotensi memberi manfaat setelah kegiatan selesai. Sarana tersebut juga diharapkan memperkuat kesiapan daerah jika kelak mendapat kesempatan menjadi tuan rumah kegiatan olahraga tingkat provinsi, termasuk Pekan Olahraga Aceh. Karena itu, arena MTQ Abdya sebaiknya dibangun dengan pandangan jangka panjang, bukan sekadar memenuhi kebutuhan penyelenggaraan satu acara. Akses yang tertata dan fasilitas yang dapat digunakan kembali akan menjadi tolok ukur nyata dari nilai proyek bagi masyarakat.
Untuk 2026, pekerjaan kawasan MTQ berfokus pada pembangunan jalan, musala, sumur bor, dan penataan area dengan anggaran sekitar Rp3 miliar. Pemerintah merencanakan anggaran sekitar Rp17 miliar pada 2027 untuk pembangunan venue, taman, tugu, dan fasilitas pendukung lainnya; kawasan juga direncanakan memiliki pagar keliling. Rencana itu menunjukkan skala pekerjaan masih berlanjut setelah peninjauan. Karena itu, keterbukaan mengenai prioritas, tahapan, dan mutu pekerjaan akan sama pentingnya dengan percepatan. Warga perlu melihat fasilitas yang dijanjikan berfungsi, bukan hanya deretan proyek yang selesai secara administratif.
Kejar jadwal tanpa melepas kendali mutu
Tekanan waktu bukan alasan untuk mengabaikan kualitas. Safaruddin menyoroti peningkatan curah hujan yang berpotensi menghambat pekerjaan konstruksi, sementara pemerintah ingin memastikan proyek berjalan sesuai target menjelang akhir Oktober. Dalam kondisi seperti ini, percepatan perlu disertai pemantauan rutin, identifikasi kendala, dan keputusan teknis yang cepat. Pemerintah daerah menyatakan peninjauan langsung diharapkan membantu mengatasi hambatan agar fasilitas pendukung MTQ selesai sesuai jadwal. Harapan itu perlu diikuti laporan kemajuan yang jelas: bagian mana yang sudah rampung, apa yang tertunda, dan bagaimana mutu dijaga. Tanpa tindak lanjut seperti itu, kunjungan lapangan berisiko berhenti sebagai simbol perhatian.
Arena MTQ bukan satu-satunya proyek dalam agenda Safaruddin. Ia juga meninjau Mal Pelayanan Publik, yang progresnya disebut telah melampaui 80 persen dan ditargetkan berfungsi pada 2027, serta renovasi Masjid Agung Baitul Ghafur. MPP direncanakan berkembang menjadi pusat pelayanan sekaligus ruang bagi pelaku seni dan UMKM. Perbandingan ini menegaskan bahwa proyek strategis Abdya memiliki dampak berbeda bagi warga, tetapi semuanya membutuhkan pengawasan yang berujung pada manfaat nyata. Untuk arena di Guhang, prioritas paling mendesak adalah memastikan akses, fasilitas dasar, dan arena utama siap tepat waktu dengan mutu yang layak.
Kesimpulannya, peninjauan Safaruddin memberi perhatian yang diperlukan pada percepatan pembangunan Desa Guhang, tetapi keberhasilan tidak ditentukan oleh kunjungan itu sendiri. Ukurannya adalah penyelesaian pekerjaan sesuai jadwal, ketepatan mutu, serta fasilitas yang dapat digunakan setelah MTQ berakhir. Dengan musim hujan sebagai tantangan dan rencana pembangunan yang berlanjut pada 2027, pemerintah perlu menjaga pengawasan tetap ketat dan menjelaskan progres secara terbuka. Arena MTQ akan menjadi proyek yang berarti bagi Abdya jika percepatan menghasilkan kawasan yang aman, tertata, dan bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.






