Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Destinasi Wisata Lokal Berkembang Pesat Berkat Kawasan Kreatif

Destinasi Wisata Lokal Berkembang Pesat Berkat Kawasan Kreatif
Minat|Destinasi Luar Negeri

Destinasi wisata lokal sebagai mesin baru ekonomi regional

Destinasi wisata lokal adalah kawasan wisata di luar kota-kota utama yang dikembangkan berbasis potensi setempat—mulai dari budaya, kreativitas warga, hingga kekayaan alam—dan diarahkan bukan hanya untuk menarik wisatawan, tetapi juga untuk menggerakkan ekonomi wisata regional, menciptakan lapangan kerja, serta mempromosikan pariwisata berkelanjutan melalui tatakelola yang melibatkan pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha secara bersama. Di tengah perlambatan ekonomi dan persaingan antarkota, pendekatan ini bukan tambahan, melainkan strategi bertahan hidup. Kota-kota regional yang berani menjadikan wisata sebagai prioritas, seperti Bandung dan Kuningan, terlihat lebih siap menghadapi perubahan. Mereka tidak menunggu wisatawan datang, tetapi merancang kawasan wisata kreatif yang sengaja ditata untuk menjadi lokomotif ekonomi kawasan.

Kuncinya: pemerintah daerah berhenti melihat pariwisata sebatas objek foto dan mulai menganggapnya sebagai ekosistem ekonomi yang membutuhkan infrastruktur, regulasi, dan ruang usaha. Tanpa keberpihakan kebijakan—mulai dari jalan, penerangan, hingga pengelolaan ruang publik—destinasi wisata lokal hanya akan menjadi tren sesaat, bukan fondasi ekonomi jangka panjang.

Bandung: Kawasan Wisata Kreatif mengubah PAD jadi ekosistem kreatif

Bandung mengambil langkah berani dengan mengembangkan delapan kawasan wisata kreatif (KWK) berbasis potensi lokal untuk memperkuat kontribusi pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa menegaskan bahwa sektor pariwisata kini menyumbang sekitar 34 persen PAD per tahun, terutama dari pajak hotel, restoran, kafe, dan hiburan. Ini angka yang menunjukkan bahwa wisata bukan pelengkap, melainkan tulang punggung pendapatan kota. Namun yang menarik, KWK tidak dirancang hanya sebagai etalase wisata, melainkan ruang hidup untuk produk kreatif, seni budaya, dan aktivitas ekonomi warga di masing-masing kawasan.

KWK Cigadung, Braga, Rajut Binong, Terpadu Gedebage, Literasi Cinambo, Kawasan Tekstil Cigondewah, Pasirkunci, dan Cibaduyut, masing-masing digarap sesuai karakter lokal—dari sejarah dan tekstil, hingga literasi dan kerajinan rajut. Ini pendekatan tepat: kota tidak memaksakan satu tema besar, tetapi menumbuhkan banyak destinasi wisata lokal dengan identitas kuat. Tantangannya, seperti diakui Adi, pengembangan KWK tidak bisa diserahkan ke satu dinas saja; infrastruktur jalan, penerangan, pengelolaan ruang publik, dan kelancaran lalu lintas mensyaratkan kolaborasi lintas sektor. Jika koordinasi lemah, konsep kawasan wisata kreatif berisiko berhenti di spanduk dan festival, tanpa perubahan nyata di lapangan.

Talaga Cicerem: wisata alam lokal yang naik kelas ke panggung mancanegara

Berbeda dari Bandung yang bertumpu pada ekonomi kreatif, Kuningan menunjukkan kekuatan destinasi wisata lokal berbasis alam. Talaga Cicerem di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, tumbuh menjadi destinasi wisata unggulan wilayah utara Kuningan berkat air yang jernih, udara sejuk, dan lingkungan yang relatif terjaga. Di sini terlihat bahwa wisata alam bisa naik kelas bila didukung tatakelola yang serius. Pengelolaan oleh BUMDes Arya Kamuning dipuji Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar karena mampu menggabungkan pengembangan pariwisata dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Popularitas Talaga Cicerem tidak berhenti di wisatawan domestik; destinasi ini mulai dilirik wisatawan mancanegara, yang mendorong kunjungan dan perputaran ekonomi semakin besar. Dampaknya terasa langsung: aktivitas pariwisata membuka peluang tenaga kerja produktif dan menggerakkan ekonomi warga sekitar, dari jasa parkir, kuliner, hingga pemandu wisata. Ini contoh jelas bagaimana pariwisata berkelanjutan bekerja: alam dijaga, warga diberdayakan, dan desa menjadi pintu masuk wisatawan dunia tanpa kehilangan identitasnya. Jika pola BUMDes ini dikopi tempel tanpa rasa, hasilnya bisa gersang; karena kuncinya bukan sekadar tiket dan wahana, melainkan kesediaan desa memegang kendali atas nasib destinasi mereka sendiri.

Multiplier effect: dari jalan dan lampu hingga dompet warga

Baik Bandung dengan kawasan wisata kreatif maupun Talaga Cicerem di Kuningan memperlihatkan satu hal yang sama: pariwisata lokal yang direncanakan dengan serius selalu memicu multiplier effect bagi ekonomi wisata regional. Perbaikan jalan ke kawasan wisata, penerangan yang layak, dan pengelolaan ruang publik bukan sekadar urusan kenyamanan wisatawan; itu langsung menaikkan nilai ekonomi bagi pelaku usaha kecil di sekitarnya. Setiap warung, pengrajin, seniman, dan pemilik homestay menikmati limpahan manfaat ketika akses menuju destinasi membaik dan arus pengunjung stabil. Di Talaga Cicerem, peningkatan kunjungan sampai taraf mancanegara ikut membuka peluang kerja baru dan menggerakkan ekonomi warga sekitar.

Yang sering dilupakan pemerintah daerah adalah bahwa multiplier effect ini bukan datang otomatis. Ia baru muncul ketika pengelolaan destinasi wisata lokal dirancang untuk melibatkan komunitas, BUMDes, pelaku usaha, seniman, dan budayawan sebagai bagian dari rantai nilai wisata, bukan sekadar penyedia hiburan pinggiran. Bandung mulai ke arah sana dengan mendorong pelaku KWK memanfaatkan ruang publik dan pusat keramaian sebagai etalase produk kreatif dan seni budaya. Kuningan pun melakukan hal serupa dengan memberi ruang bagi BUMDes mengatur kawasan wisata alamnya sendiri.

Kesimpulan: wisata lokal bukan bonus, melainkan strategi pembangunan

Jika ada pelajaran utama dari Bandung dan Kuningan, itu adalah bahwa destinasi wisata lokal harus pindah status dari “bonus” menjadi strategi inti pembangunan daerah. Ketika pariwisata menyumbang sekitar sepertiga PAD Bandung dan mampu menggerakkan ekonomi desa di sekitar Talaga Cicerem, menganggap wisata sebagai sektor sampingan adalah kelalaian kebijakan. Kawasan wisata kreatif dan pariwisata berkelanjutan bukan jargon manis; keduanya adalah cara konkret untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terpusat di kota besar saja.

Ke depan, pemerintah daerah yang serius mengembangkan ekonomi wisata regional perlu berani menetapkan tiga komitmen: pertama, menjadikan infrastruktur menuju destinasi wisata sebagai prioritas anggaran, bukan sisa proyek lain; kedua, menguatkan pengelolaan berbasis komunitas dan BUMDes agar manfaat wisata tidak bocor ke luar daerah; ketiga, merawat identitas lokal sebagai daya tarik utama, bukan menggantinya dengan konsep wisata generik. Tanpa itu, destinasi wisata lokal akan terus berputar di lingkaran promosi sesaat—ramai saat liburan, sepi ketika dana kampanye habis. Dengan itu, wisata bisa benar-benar menjadi jalan sunyi menuju kemandirian ekonomi daerah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!