Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

PLN Goes to School dan Transformasi Edukasi Keselamatan Listrik

PLN Goes to School dan Transformasi Edukasi Keselamatan Listrik
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Edukasi Keselamatan Listrik: Dari Kampanye Musiman ke Budaya Sekolah

Edukasi keselamatan listrik adalah upaya sistematis untuk membekali pelajar dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan agar mampu mengenali bahaya kelistrikan, menggunakan listrik secara aman, serta menyebarkan budaya peduli keselamatan di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar mereka. Dalam konteks sekolah, inisiatif ini tidak boleh berhenti sebagai sosialisasi satu kali, tetapi perlu terintegrasi ke kurikulum dan aktivitas belajar sehari-hari. Itulah inti penting dari program kelistrikan sekolah seperti PLN Goes to School, yang mulai menggeser pendekatan dari sekadar kampanye ke pembentukan budaya. Memperingati Hari Pelanggan Nasional, misalnya, dijadikan pintu masuk untuk mengadakan sesi edukasi K3 di SMKN 5 Semarang, bukan hanya seremoni simbolik semata. Perspektif yang memandang keselamatan sebagai budaya, bukan kewajiban administratif, adalah lompatan cara pikir yang patut diapresiasi dan dijaga keberlanjutannya.

PLN Goes to School: Industri Masuk Kelas, Bukan Sekadar Sosialisasi

Program PLN Goes to School secara terang-terangan menunjukkan bahwa edukasi keselamatan listrik paling kuat ketika industri hadir langsung di kelas. Di SMK Negeri 5 Semarang, kegiatan ini digelar oleh PLN ULP Semarang Tengah bersama PLN UP2D Jawa Tengah dengan tema Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sekaligus pengenalan layanan digital PLN Mobile. Di SMK Garnesia Cipanas, UP3 Cianjur dan ULP Cipanas membawa materi tentang potensi ketenagalistrikan, budaya keselamatan listrik, pemanfaatan energi bersih, aturan pemakaian tenaga listrik, serta sosialisasi aplikasi PLN Mobile. Sementara di SMA Negeri 1 Banjar, UP3 Tasikmalaya melalui ULP Banjar memanfaatkan momentum Hari Kesaktian Pancasila untuk menekankan pengetahuan keselamatan kelistrikan dan kemudahan layanan digital lewat PLN Mobile. Program kelistrikan sekolah ini memperlakukan siswa bukan sebagai objek sosialisasi, melainkan calon pekerja dan pelanggan yang harus paham risiko, prosedur aman, dan kanal layanan resmi listrik.

PLN Goes to School dan Transformasi Edukasi Keselamatan Listrik

Kolaborasi Industri–Pendidikan: Menghubungkan Teori, Standar, dan Lapangan

Kekuatan utama PLN Goes to School justru terletak pada kolaborasi industri pendidikan, bukan pada materi slide yang dibagikan. Di SMKN 5 Semarang, materi teknis mengenai cara kerja arus listrik, sistem kelistrikan, dan prosedur kerja aman di lapangan disampaikan langsung oleh Team Leader K3L dan KAM PLN UP2D. Kepala sekolah mengakui bahwa kegiatan ini memberi wawasan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri dan mendorong siswa lebih serius memahami aspek keselamatan kerja. Di SMK Garnesia Cipanas, pihak sekolah menyambut baik sinergi dengan PLN dan berharap kerja sama ini berlanjut untuk memotivasi siswa menyiapkan diri masuk dunia kerja teknik dan energi. Program kelistrikan sekolah yang menghadirkan praktisi ke ruang kelas secara nyata menghubungkan teori di buku dengan standar industri dan realitas lapangan. Jika pola ini konsisten, sekolah kejuruan berhenti sekadar "mengajar materi" dan mulai menyiapkan tenaga kerja yang kompeten sekaligus berbudaya keselamatan.

Dimulai dari SD: Menanam Kepedulian Sebelum Kompetensi

Yang sering diabaikan dalam diskusi keselamatan listrik adalah titik awalnya: anak usia SD yang sehari-hari berhadapan dengan stop kontak dan kabel di rumah. PLN Pusmanpro melalui UPMK V mengajak 28 siswa kelas 6 UPT SD Negeri 3 Bangkala di Jeneponto mewaspadai risiko kelistrikan, mulai dari penggunaan stop kontak berlebihan, kabel rusak, hingga potensi korsleting. Mereka juga diajak mengenali tanda gangguan listrik seperti bau hangus dan percikan api, serta diberi imbauan tidak bermain layang-layang di dekat jaringan listrik atau bermain air di sekitar peralatan listrik. Sikap ini jujur: sebelum bicara kompetensi industri di SMK, budaya peduli dan waspada mesti ditanam di tingkat dasar. Ridwan Harjono menegaskan bahwa edukasi keselamatan ketenagalistrikan adalah budaya yang perlu ditanam sejak usia dini dan berharap anak-anak menjadi pelopor keselamatan di sekolah, keluarga, dan tempat bermain.

PLN Goes to School dan Transformasi Edukasi Keselamatan Listrik

Dari Pengetahuan ke Tanggung Jawab Sosial dan Literasi Digital

Jika program seperti PLN Goes to School berhenti di penambahan pengetahuan, maka ia gagal menyentuh inti persoalan: tanggung jawab sosial. Di SMA Negeri 1 Banjar, edukasi diarahkan agar siswa peduli terhadap keselamatan listrik di sekolah dan di rumah, sekaligus memaknai momentum Hari Kesaktian Pancasila sebagai kesempatan menanam nilai peduli dan tanggung jawab. Elashinta menekankan bahwa pengetahuan sederhana tentang keselamatan harus diterapkan dan disebarluaskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Di sisi lain, pengenalan PLN Mobile bukan hanya promosi aplikasi; melalui platform ini pelanggan dapat membeli token, membayar tagihan, mengajukan pengaduan gangguan, dan mengakses layanan kelistrikan lain secara mudah. Literasi digital kelistrikan ini membuat siswa mampu mengambil peran aktif ketika menemukan potensi bahaya atau gangguan. Kesimpulannya, inisiatif edukasi keselamatan listrik yang menyatu dengan kurikulum dan budaya sekolah adalah investasi sosial jangka panjang: melahirkan generasi yang tidak hanya paham listrik, tetapi juga merasa bertanggung jawab atas keselamatan bersama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!