Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sumpah Pemuda di Sekolah: Persatuan lewat Teladan Nyata

Sumpah Pemuda di Sekolah: Persatuan lewat Teladan Nyata
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Dari ikrar menuju tindakan

Pendidikan karakter siswa adalah proses membentuk sikap dan kebiasaan melalui pembelajaran serta pengalaman langsung, agar nilai kebangsaan tampak dalam tindakan sehari-hari. Gagasan itu terasa nyata dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Sekolah Rakyat, Desa Racitengah, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution memimpin upacara yang diikuti ratusan siswa, pendidik, dan unsur pemerintahan setempat. Ia mengajak pelajar meneladani semangat Sumpah Pemuda dengan memperkuat persatuan, patriotisme, dan karakter untuk membangun masa depan bangsa. Pesannya tepat: sejarah kehilangan daya jika hanya diulang dalam seremoni. Sekolah perlu membantu siswa menerjemahkan ikrar itu menjadi cara belajar, bekerja sama, dan memperlakukan orang lain.

Ramadhan mengingatkan bahwa nilai persatuan dan kebangsaan dari ikrar 1928 harus hadir dalam keseharian siswa, bukan berhenti sebagai ingatan tahunan. Dalam amanatnya, ia mengajak generasi muda untuk patriotik dalam pengabdian, gigih dalam perjuangan, dan berempati dalam kemanusiaan. Empat nilai—persatuan, patriotisme, kegigihan, dan empati—saling melengkapi. Patriotisme pelajar bukan hanya kebanggaan pada simbol, melainkan kesediaan belajar dengan tekun dan berbuat bagi sesama. Kegigihan membantu siswa bertahan menghadapi tantangan; empati memastikan pencapaian tidak diraih dengan mengabaikan orang lain. Jika prinsip-prinsip ini hadir dalam interaksi sehari-hari, peringatan Sumpah Pemuda memberi arah yang lebih berarti bagi pembentukan karakter.

Siswa bukan sekadar peserta upacara

Peringatan di Makassar memperlihatkan bentuk keterlibatan siswa yang lebih aktif. Dalam acara Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, dua siswa Sekolah Rakyat, Linggar Ardiansyah dari SRMA 9 Jakarta dan Muhammad Yusuf dari SRMA 27 Takalar, memimpin pembacaan ikrar di hadapan peserta. Suara mereka diikuti ribuan orang yang hadir, sementara siswa lain menyampaikan penampilan drama teatrikal, puisi, dan lagu. Peran seperti ini penting karena pelajar tidak hanya mendengarkan pesan tentang persatuan: mereka mengambil bagian dalam menyampaikannya. Pengalaman tampil, memimpin, dan berkarya memberi ruang untuk berlatih tanggung jawab sekaligus menghargai kontribusi teman.

Makna kegiatan sekolah tidak semestinya diukur dari rapinya susunan acara saja. Ketika siswa diberi peran nyata, pendidikan karakter berlangsung melalui pengalaman: berlatih bersama, mendukung teman, dan membawa pesan bersama kepada khalayak. Inilah cara yang lebih kuat untuk merawat persatuan di sekolah daripada mengandalkan slogan. Upacara di Sidayu dan keterlibatan siswa di Makassar sama-sama menunjukkan bahwa peringatan dapat menjadi ruang belajar yang melibatkan pelajar secara langsung. Sekolah dapat menghubungkan sejarah dengan tindakan sederhana—mendengarkan, bekerja sama, tekun menjalankan tanggung jawab, dan peduli pada orang lain. Dari kebiasaan semacam itu, nilai patriotisme menjadi bagian dari perilaku, bukan hanya tema peringatan.

Karakter dibangun bersama

Pesan Kapolres Gresik bahwa masa depan bangsa sedang dibangun bersama menempatkan tanggung jawab pada lebih dari satu pihak. Siswa perlu berusaha dan saling menghormati; pendidik perlu menyediakan kesempatan agar mereka dapat memimpin, berkarya, dan bekerja sama. Dukungan keluarga serta lingkungan sekolah juga membuat nilai yang dibicarakan dalam upacara lebih mudah dipraktikkan. Karena itu, kegiatan peringatan sebaiknya tidak berakhir ketika peserta meninggalkan lapangan. Nilainya dapat dibawa ke ruang kelas dan kehidupan sehari-hari: menyatukan teman yang berbeda, menyelesaikan tugas dengan gigih, dan menunjukkan empati ketika orang lain membutuhkan dukungan.

Peringatan Sumpah Pemuda di Sekolah Rakyat mengingatkan bahwa persatuan dan patriotisme tumbuh melalui teladan serta partisipasi, bukan hafalan semata. Ajakan Ramadhan di Gresik dan kepemimpinan siswa dalam ikrar di Makassar memberi gambaran konkret tentang bagaimana sekolah dapat menghidupkan semangat tersebut. Kesimpulannya, kegiatan sekolah akan paling bermakna ketika pelajar mendapat kesempatan untuk menjalankan nilai yang diperingati. Dengan begitu, pendidikan karakter siswa membentuk kebiasaan yang bertahan setelah upacara usai: belajar dengan tekun, menghargai perbedaan, dan peduli terhadap sesama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!