Rekor Nasional yang Lahir dari Investasi pada Talenta Muda
Rekor nasional angkat besi adalah capaian tertinggi yang diakui secara resmi di tingkat nasional untuk suatu nomor angkatan, yang mencerminkan kombinasi bakat, latihan jangka panjang, dukungan pelatih, fasilitas, dan ekosistem pembinaan yang memungkinkan seorang atlet mendorong batas kemampuan fisiknya melampaui standar generasi sebelumnya. Di Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, dua atlet beasiswa BCA, Liquor Harrison Andoko dan Samuel Maxson Septionus, menunjukkan bahwa rekor bukan hanya soal angka, tetapi juga soal siapa yang berdiri di belakang mereka.
Keduanya adalah atlet beasiswa BCA yang tampil di cabang renang dan berhasil menorehkan rekor nasional bersama tim. Fakta bahwa rekor ini lahir di panggung sebesar Asian Games 2026 menegaskan satu hal: ketika korporasi berani berinvestasi serius pada generasi muda berprestasi, hasilnya bisa langsung terasa di level tertinggi kompetisi. Ini bukan sekadar cerita dua nama yang bersinar, melainkan contoh konkret bagaimana skema dukungan terstruktur dapat mengangkat standar olahraga nasional.
Harrison Andoko: Rekor 200m dan Estafet yang Mengubah Peta
Liquor Harrison Andoko menjadi wajah paling jelas dari dampak program beasiswa Bakti BCA pada Asian Games 2026. Di nomor 200m freestyle putra, ia mencatat waktu 1:49,89 dan mematahkan rekor nasional lama 1:50,35 milik Joe Aditya Kurniawan yang tercipta di PON 2024. Untuk sebuah cabang yang selama ini sering tertinggal di level Asia, pemangkasan waktu lebih dari setengah detik adalah lompatan signifikan, bukan sekadar perbaikan kosmetik.
Harrison tidak berhenti di nomor individu. Bersama tim estafet, ia ikut memecahkan rekor nasional 4×100m freestyle relay putra di babak final dengan waktu 3:20,84, menggantikan rekor yang ironisnya baru saja mereka ciptakan sendiri di babak kualifikasi dengan 3:21,48. Kutipan resmi menyebut, “BCA bangga atas capaian Liquor dan Maxson yang berhasil menorehkan rekor nasional di ajang sebesar Asian Games 2026,” ujar Hera F. Haryn, EVP Corporate Communications & Social Responsibility. Pernyataan ini penting: korporasi tidak hanya menempel nama di jersey, tetapi mengakui rekor sebagai buah dari komitmen jangka panjang.
Samuel Maxson Septionus: Motor Estafet dan Simbol Regenerasi
Jika Harrison adalah mesin di nomor individu, Samuel Maxson Septionus adalah penggerak di nomor estafet. Sebagai bagian dari tim 4×100m freestyle relay putra, Maxson ikut mengantar tim memecahkan rekor nasional di babak final dengan catatan 3:20,84. Di luar estafet, ia juga turun di 50m freestyle, 50m butterfly, dan 100m freestyle putra, menunjukkan bahwa ia bukan spesialis sempit, melainkan sprinter serba bisa yang siap mengisi banyak celah di tim nasional.
Yang menarik, Maxson menegaskan bahwa rekor ini baru permulaan. Ia menyebut pengalaman di Asian Games sebagai langkah penting dalam perjalanan kariernya dan berjanji akan berlatih lebih keras untuk membuat negaranya bangga di ajang-ajang berikutnya. Sikap ini mengirim pesan yang lebih besar dari sekadar angka di papan skor: generasi baru atlet beasiswa BCA melihat diri mereka bukan sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai pelaku utama regenerasi olahraga. Rekor nasional menjadi batu loncatan, bukan garis akhir.
Bakti BCA: Beasiswa yang Menghubungkan Kampus dan Podium
Kisah Harrison Andoko dan Samuel Septionus tidak bisa dipisahkan dari desain program Bakti BCA. Melalui skema beasiswa student athlete, keduanya dapat menempuh pendidikan di University of Indianapolis, Amerika Serikat, sambil tetap menekuni karier sebagai atlet renang. Ini penting karena selama bertahun-tahun, banyak atlet muda terjebak pada pilihan biner: kuliah atau mengejar prestasi. Program ini membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan jika ada institusi yang mau menanggung risiko dan biaya pembinaan jangka panjang.
BCA juga berkolaborasi dengan PB Akuatik Indonesia untuk memastikan program ini bukan proyek sesaat, melainkan bagian dari komitmen berkelanjutan terhadap peningkatan mutu pendidikan, sejalan dengan prioritas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di bidang pendidikan berkualitas. Di sini terlihat pergeseran peran korporasi: dari sponsor yang hadir hanya saat event besar, menjadi mitra ekosistem yang ikut membangun jalur karier atlet sejak bangku kuliah hingga ke panggung Asia.
Dari Rekor ke Strategi: Mengapa Model Beasiswa Korporat Perlu Diperbanyak
Prestasi Harrison Andoko dan Samuel Septionus di Asian Games 2026 menunjukkan bahwa model atlet beasiswa BCA bukan sekadar program CSR yang manis di atas kertas, tetapi strategi pembinaan yang menghasilkan rekor nasional nyata. Rekor di nomor 200m freestyle dan 4×100m freestyle relay putra membuktikan bahwa ketika atlet mendapat kepastian pendidikan, dukungan finansial, dan lingkungan latihan yang baik, mereka mampu bersaing di level Asia meski tanpa pulang membawa medali kali ini.
Ke depan, tantangannya adalah memperluas model ini: lebih banyak cabang olahraga, lebih banyak kampus, dan lebih banyak perusahaan yang berani mengikat diri dalam komitmen jangka panjang. BCA sendiri berharap Harrison dan Maxson terus menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi besar dan berprestasi di panggung dunia. Jika rekor nasional hari ini lahir dari dua atlet beasiswa, bayangkan skala lompatan prestasi bila puluhan atau ratusan atlet mendapat kesempatan serupa. Rekor akan terus tumbang, dan itu bukan kebetulan, melainkan hasil desain.






