Mengapa Cegah Stunting Harus Dimulai Sejak Pranikah
Cegah stunting pranikah adalah upaya sadar pasangan calon suami-istri untuk mempersiapkan kesehatan, gizi, dan perencanaan keluarga sebelum menikah agar anak yang kelak lahir terhindar dari gangguan tumbuh kembang, baik fisik maupun kognitif, melalui edukasi terstruktur, pendampingan, dan perubahan pola hidup sejak masa calon pengantin.
Jika selama ini stunting dianggap mulai ketika ibu hamil, pendekatan baru menegaskan bahwa masalah ini harus dicegah sejak pasangan masih berstatus calon pengantin. Penyuluh BKKBN Titin Lusiany menekankan bahwa pencegahan stunting adalah langkah “dari hulu”, dimulai melalui edukasi calon pengantin sebelum memasuki kehidupan berumah tangga di KUA Curup Utara pada Kamis (10/9). Upaya ini bukan formalitas. Ini adalah investasi kesehatan keluarga muda yang menentukan kualitas generasi berikutnya.
Melalui bimbingan pranikah, calon pengantin diarahkan memahami bahwa kesehatan, perencanaan keluarga, pola pengasuhan, dan kesiapan menjadi ayah serta ibu adalah satu paket, bukan urusan nanti setelah anak lahir. Tanpa kesiapan ini, risiko stunting akan terus berulang di tingkat keluarga.

Program 4T Stunting: Dari Larangan ke Rencana Keluarga yang Cerdas
Program 4T stunting sering disalahpahami sebagai sekadar aturan melarang kehamilan. Padahal, 4T adalah alat bantu berpikir bagi pasangan muda untuk menata masa depan keluarga secara realistis, aman, dan terukur, sehingga setiap kehamilan terjadi pada waktu, jarak, dan frekuensi yang paling sehat bagi ibu dan anak.
Dalam penyuluhan kepada calon pengantin di KUA Curup Utara, Titin Lusiany menjelaskan 4T: terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kehamilan, dan terlalu banyak jumlah anak. Di sesi lain, ia merinci bahwa 4T berarti terlalu muda usia kehamilan, terlalu dekat jarak kehamilan, terlalu banyak jumlah kehamilan, dan terlalu tua usia kehamilan. Kedua penjelasan ini memberi pesan jelas: rencana kehamilan ceroboh akan membahayakan kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak.
Melalui edukasi calon pengantin, 4T tidak sekadar dihafal, tetapi dipakai sebagai panduan menyusun jarak kehamilan, menentukan jumlah anak, dan menimbang kesiapan fisik serta mental. Inilah fondasi nyata cegah stunting pranikah: bukan menakut-nakuti, melainkan memampukan pasangan muda membuat keputusan yang matang.
Peran Ayah dalam Pencegahan: Dari “Pencari Nafkah” Menjadi Mitra Tumbuh Kembang
Peran ayah pencegahan stunting sering direduksi menjadi urusan bekerja dan menyediakan uang. Cara pandang ini usang. Ayah yang hanya hadir sebagai dompet, tetapi absen dalam perencanaan dan pengasuhan, ikut menyuburkan risiko stunting di rumah.
Dalam bimbingan di KUA Curup Utara, peran ayah sengaja disorot. Titin Lusiany menegaskan bahwa ayah tidak hanya bertanggung jawab pada kebutuhan ekonomi, tetapi juga mendampingi istri, memberi perhatian kepada anak, ikut dalam pengasuhan, dan menciptakan lingkungan keluarga yang sehat dan harmonis. Keterlibatan ayah sejak masa kehamilan hingga tumbuh kembang anak dinilai sebagai bagian penting membangun keluarga berkualitas.
Saat calon ayah ikut dalam edukasi calon pengantin, pesan menjadi jelas: kesehatan keluarga adalah tanggung jawab bersama, bukan beban ibu seorang diri. Ayah yang terlibat sejak perencanaan keluarga hingga pengasuhan memperkuat efektivitas program stunting di tingkat keluarga, karena keputusan tentang gizi, pola hidup sehat, dan jarak kehamilan diambil bersama, bukan sepihak.
Edukasi Calon Pengantin: Membangun Kesiapan Mental, Gizi, dan Gaya Hidup Sehat
Program cegah stunting pranikah yang berlangsung di KUA Curup Utara menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan calon pengantin harus menyentuh lebih dari sekadar teori dan nilai ujian. Tujuannya adalah membentuk pola pikir baru: menikah berarti siap menjadi orang tua yang cerdas dan bertanggung jawab.
Dalam sesi pada Kamis (17/9), para calon pengantin diajak menjadikan masa pranikah sebagai momentum mempersiapkan keluarga secara menyeluruh, termasuk stop stunting. Mereka diberi pemahaman bahwa pencegahan stunting dimulai sebelum kehamilan, melalui kondisi kesehatan yang baik, pemenuhan gizi, dan perencanaan keluarga yang matang. Edukasi ini bersifat praktis: membahas tantangan nyata kehidupan rumah tangga dan bagaimana menjaga kesehatan keluarga muda sejak awal.
Calon pengantin juga dibekali pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, perencanaan kehamilan, pemenuhan gizi, serta pola pengasuhan anak agar dapat membangun keluarga yang sehat dan berkualitas. Suasana bimbingan yang interaktif membantu menumbuhkan kesadaran bahwa pernikahan adalah awal tanggung jawab baru untuk menyiapkan generasi sehat dan tangguh.
Pendekatan Holistik: 4T, Nutrisi, dan Sinergi Ayah-Ibu sebagai Satu Paket
Cegah stunting pranikah tidak akan berhasil jika hanya bertumpu pada satu aspek, misalnya umur menikah atau jenis makanan. Yang dibutuhkan adalah pendekatan holistik: menggabungkan program 4T stunting, pengetahuan nutrisi, kesehatan reproduksi, dan pola hidup sehat dalam satu paket pembinaan pasangan muda.
Edukasi di KUA Curup Utara memperlihatkan model ini. Melalui kolaborasi dengan BKKBN, pembinaan calon pengantin tidak lagi sebatas kesiapan administrasi menikah, tetapi diperluas menjadi kesiapan menjadi orang tua, mencegah stunting, merencanakan keluarga, dan menjalankan peran ayah serta ibu secara bertanggung jawab. Calon pengantin diajak memahami bahwa pencegahan stunting perlu dipersiapkan sejak sebelum kehamilan, dengan kondisi kesehatan baik, pemenuhan gizi, dan perencanaan keluarga yang matang.
Kesimpulannya jelas: kesehatan keluarga muda adalah hasil dari keputusan pranikah yang bijak. Pasangan yang memahami 4T, sadar gizi, menghindari kehamilan berisiko, dan saling berbagi peran ayah-ibu sejak awal, memiliki peluang lebih besar melahirkan anak yang sehat, serta keluarga yang sakinah, sehat, harmonis, dan berkualitas.






