Literasi maritim sekolah: dari rak buku ke kesadaran laut
Literasi maritim sekolah adalah upaya sistematis menanamkan pemahaman tentang dunia laut, mulai dari ekosistem, pelabuhan, kapal, hingga distribusi energi dan komoditas, melalui bahan bacaan dan kegiatan belajar terstruktur di perpustakaan dan ruang kelas agar pelajar melihat laut sebagai ruang hidup dan ruang ekonomi yang saling terhubung.
Di sinilah langkah PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) menjadi menarik: perusahaan jasa maritim ini memilih perpustakaan sebagai medan utama untuk menanamkan kesadaran laut. PTK merevitalisasi perpustakaan di 57 sekolah dengan menghadirkan fasilitas baru dan buku edukasi bertema maritim melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL). Alih-alih berhenti pada kegiatan donasi simbolik, program ini menyasar inti proses belajar, yaitu bagaimana anak membaca, membayangkan, dan memaknai laut sejak usia sekolah dasar dan menengah. Ini pendekatan strategis: merebut imajinasi generasi muda sebelum laut hanya dipersepsikan sebagai latar wisata atau ancaman bencana.
Perpustakaan sebagai pintu masuk kesadaran ekonomi laut
Revitalisasi perpustakaan Indonesia di 57 sekolah bukan sekadar mengecat tembok dan mengganti rak buku; ini adalah intervensi pada cara sekolah membangun narasi tentang laut. Dengan buku-buku bertema maritim, perpustakaan berubah menjadi ruang yang mengenalkan pelajar pada rantai panjang ekonomi laut: dari pelabuhan, kapal, hingga distribusi energi dan komoditas. Anak-anak di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pekalongan, termasuk yang berkebutuhan khusus, tampak antusias menyebut nama-nama binatang laut sambil menikmati perpustakaan yang baru.
Dampaknya terasa langsung: koordinator literasi dan kepala sekolah melaporkan suasana baru yang membuat anak betah membaca dan mengikuti kegiatan literasi. Jika perpustakaan selama ini identik dengan ruang sunyi yang membosankan, program Pertamina pendidikan ini mengubahnya menjadi pusat cerita tentang laut, logistik, dan energi. Itu artinya, kesadaran ekonomi laut mulai dibangun dari rak buku, bukan dari ruang rapat kementerian.
Menghubungkan kelas dengan pelabuhan: ketika logistik biodiesel masuk buku pelajaran
Pertanyaan pentingnya: mengapa perusahaan yang sibuk distribusi biodiesel peduli pada literasi maritim sekolah? Jawabannya ada pada peran PTK dalam ekosistem biodiesel. PTK menegaskan komitmennya mendukung distribusi biodiesel ke seluruh wilayah melalui layanan maritim yang aman, andal, dan terintegrasi, sebagaimana disampaikan dalam forum Palm Biodiesel Conference di Nusa Dua. Sejak awal mandatori B2,5 pada 2008, PTK terlibat dalam konektivitas maritim melalui vessel support, marine services, dan operasi kapal serta terminal.
Operasional kelautan yang terintegrasi diakui sebagai kunci menjaga pasokan energi antarpulau dan pertumbuhan ekosistem biodiesel. Dalam konteks ini, literasi maritim bukan tema abstrak, melainkan cermin dari pekerjaan sehari-hari PTK. Ketika anak membaca buku tentang kapal, pelabuhan, atau distribusi energi, mereka sedang disentuh oleh realitas ekonomi laut yang sesungguhnya: energi tidak mengalir begitu saja, ada jaringan logistik maritim yang rumit di baliknya. Menghubungkan pelabuhan dengan kelas berarti menggeser laut dari ruang mitos ke ruang karier dan pengetahuan.
TJSL yang relevan: dari perpustakaan hingga kelompok rentan
Program tanggung jawab sosial perusahaan PTK mengambil posisi yang relatif berbeda dari pola CSR seremonial. Revitalisasi perpustakaan diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan budaya literasi generasi muda, lengkap dengan pembenahan fasilitas dan penambahan buku edukasi maritim. Program ini dibentangkan di berbagai wilayah operasional seperti Jakarta, Jawa Tengah, Batam, Balikpapan, Sorong, Morowali, dan Maluku, dimulai bertepatan dengan HUT PTK pada 9 September dan berlanjut hingga akhir tahun melalui tahapan di berbagai daerah.
Di luar perpustakaan, PTK juga menyalurkan santunan bagi anak yatim, duafa, lansia, dan penyandang disabilitas di sekitar wilayah operasional. Perusahaan menyesuaikan program sosial dengan karakter kebutuhan tiap daerah, alih-alih memaksakan satu paket kegiatan untuk semua wilayah. Ini patut dicatat: TJSL yang relevan adalah TJSL yang mengerti konteks lokal, menempatkan literasi maritim sebagai bagian dari ekosistem sosial—bukan proyek yang berdiri di ruang hampa.
Mengapa program Pertamina pendidikan ini perlu dijaga konsistensinya
Pelaksanaan revitalisasi perpustakaan yang berkelanjutan sampai akhir tahun menunjukkan bahwa ini bukan kegiatan satu hari untuk foto bersama. Di sisi lain, PTK menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan berbagai pihak seiring peningkatan komponen nabati pada program biodiesel nasional dan kebutuhan logistik maritim yang lebih fleksibel di masa depan. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa ruang sinergi antara sektor pendidikan dan maritim masih akan melebar.
Kesimpulannya, literasi maritim sekolah adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh berhenti pada 57 perpustakaan. Jika laut adalah nadi distribusi energi dan komoditas, maka perpustakaan adalah nadi distribusi gagasan tentang laut. Program Pertamina pendidikan lewat revitalisasi perpustakaan Indonesia membuka jalan, tetapi tantangan berikutnya adalah menjaga buku tetap hidup lewat kurikulum, kegiatan guru, dan kolaborasi komunitas. Tanpa itu, rak buku bertema maritim hanya akan menjadi dekorasi, bukan gerbang menuju kesadaran ekonomi laut yang matang.






