Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kabel Laut Bukan Ancaman: Konektivitas sebagai Kepentingan Bersama

Kabel Laut Bukan Ancaman: Konektivitas sebagai Kepentingan Bersama
Minat|Asia Tenggara

Kabel laut mengikat, bukan menundukkan

Kabel laut internet adalah jaringan serat optik di dasar laut yang membawa data antarnegara dan menjadi penopang layanan digital lintas batas. Karena jalurnya melintasi wilayah perairan dan melayani banyak pasar, kabel ini lebih tepat dipahami sebagai infrastruktur bersama daripada alat dominasi satu negara. Perdebatan terbaru menunjukkan mengapa sudut pandang itu penting. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menanggapi unggahan mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, yang menyinggung pemotongan akses internet Indonesia dan menyebut ketergantungan pada Singapura. Meutya mengingatkan bahwa sebagian besar jalur Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang terhubung ke Singapura melewati perairan Indonesia. Artinya, kisah ketergantungan konektivitas tidak bisa dibaca sebagai hubungan satu arah. Infrastruktur yang menguntungkan satu pusat jaringan juga bergantung pada jalur, pasar, dan stabilitas di sekitarnya.

Kabel Laut Bukan Ancaman: Konektivitas sebagai Kepentingan Bersama

Angka yang perlu dibaca dengan cermat

Meutya menyatakan bahwa bila kabel-kabel tersebut terganggu atau terputus, sekitar 80 persen kapasitas konektivitas Singapura berpotensi terdampak. Angka itu menegaskan besarnya peran jalur yang melintasi perairan Indonesia, tetapi bukan alasan untuk mengubah konektivitas menjadi adu ancaman. Sebaliknya, besarnya konsekuensi bagi kedua pihak memperlihatkan betapa mahalnya gangguan terhadap jaringan bersama. Di sisi lain, infografis yang dibagikan Calvin pada Minggu, 25 Oktober, mengklaim sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia terhubung melalui Singapura. Itu adalah klaim dalam infografis, bukan gambaran lengkap seluruh konektivitas. Calvin menyertakan pertanyaan “Potong?” lalu mengklarifikasi bahwa negaranya tidak akan melakukan pemutusan dan menyebut kepatuhan pada hukum. Meutya juga menyoroti besarnya basis pengguna digital Indonesia: ia menyebut penduduknya 47 kali jumlah penduduk Singapura dan 267 juta masyarakat telah terhubung ke internet.

Dari retorika ancaman ke kepentingan bersama

Respons Meutya muncul di tengah sorotan atas kebijakan pemerintah Indonesia yang membatasi pasokan gas alam ke Singapura. Dalam suasana seperti itu, unggahan tentang pemutusan jaringan mudah dibaca sebagai ancaman politik. Namun, menyederhanakan peta konektivitas menjadi siapa yang bisa menekan siapa justru menyesatkan: jalur fisik, pusat layanan, pengguna, dan investasi digital terhubung dalam ekosistem yang sama. Meutya menyebut pasar digital Indonesia penting bagi perusahaan teknologi global, dengan 267 juta masyarakat terhubung ke internet. Besarnya pasar tersebut memberi Indonesia peran yang tak bisa diabaikan, sementara posisi Singapura sebagai simpul konektivitas juga memiliki arti bagi layanan lintas negara. Jadi, SKKL bukan aset milik satu pihak yang dapat dipakai sebagai kartu tawar tanpa akibat. Ketika salah satu mata rantai terganggu, konsekuensinya dapat menjangkau pengguna dan kegiatan digital di kedua negara. Cara pandang yang lebih seimbang bukan menyangkal ketergantungan, melainkan mengakuinya sebagai interdependensi.

Melindungi jaringan demi kestabilan ekonomi

Bagi pengguna biasa, kabel bawah laut bukan urusan abstrak: gangguan pada jaringan dapat merembet ke layanan digital dan konektivitas kawasan, bahkan berdampak hingga tingkat global. Ketika layanan lintas batas terganggu, kegiatan yang mengandalkan akses internet ikut menghadapi risiko. Karena itu, perlindungan infrastruktur digital regional semestinya menjadi prioritas bersama, bukan bahan untuk saling menguji daya tekan. Keamanan jaringan menuntut sikap yang tenang sekaligus tegas: menolak ancaman terhadap infrastruktur, menjaga jalur kabel, dan mengakui bahwa stabilitas koneksi mendukung kegiatan ekonomi di seluruh kawasan. Pernyataan Meutya bahwa infrastruktur digital perlu dijaga bersama demi konektivitas global merangkum prinsip yang seharusnya memandu kebijakan. Kepentingan nasional tetap penting, tetapi perlindungan jaringan tidak akan berhasil jika dibangun di atas anggapan bahwa keuntungan satu negara selalu berarti kerugian negara lain. Kesimpulannya, kabel laut bukan ancaman dengan sendirinya; menjadikannya sasaran atau alat tekananlah yang membahayakan semua pihak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!