Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Target Bedah Rumah Melonjak, Perluasan Hunian Layak Jadi Ujian

Target Bedah Rumah Melonjak, Perluasan Hunian Layak Jadi Ujian
Minat|Panduan Renovasi

Lonjakan besar, tanggung jawab pelaksanaan ikut membesar

Program bedah rumah adalah upaya pemerintah memperbaiki rumah yang kondisinya tidak memadai agar lebih aman dan layak dihuni, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak. Kenaikan targetnya kini membuat program ini jauh lebih besar, tetapi hasil nyata akan ditentukan oleh ketepatan penerima dan mutu pengerjaan.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyampaikan perubahan target setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kantor Presiden, Jakarta, pada Senin malam, 26 Oktober 2026. Pemerintah menaikkan target bedah rumah dari 45 ribu unit pada 2025 menjadi 400 ribu unit pada 2026. Artinya, skala penanganan hampir sepuluh kali lipat. Prabowo mengarahkan perluasan jumlah rumah yang diperbaiki sebagai salah satu prioritas sektor perumahan, sehingga lonjakan ini bukan sekadar penyesuaian angka, melainkan tuntutan agar program menjangkau lebih banyak keluarga.

Target Bedah Rumah Melonjak, Perluasan Hunian Layak Jadi Ujian

Hunian layak perlu ditopang ketepatan sasaran

Perluasan program bedah rumah patut disambut karena perbaikan rumah dapat memberi manfaat langsung kepada penghuni yang membutuhkan. Namun, jumlah besar bukan ukuran keberhasilan yang cukup. Pemerintah perlu memastikan rumah yang paling membutuhkan masuk daftar penerima, pengerjaan memenuhi standar, dan perbaikan benar-benar membuat tempat tinggal lebih layak, bukan sekadar menyelesaikan kuota.

Target 400 ribu unit pada 2026 diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak. Pemerintah juga memperluas jalur kepemilikan rumah melalui rumah subsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), yang ditujukan membantu masyarakat memperoleh rumah dengan pembiayaan terjangkau. Kedua pendekatan ini menjawab kebutuhan yang berbeda: bedah rumah memperbaiki hunian yang sudah dimiliki atau ditempati, sementara rumah subsidi membuka jalan menuju kepemilikan. Agar perluasan itu bermakna, pelaksanaan harus transparan dan menjangkau warga yang selama ini sulit mengakses dukungan perumahan.

Target Bedah Rumah Melonjak, Perluasan Hunian Layak Jadi Ujian

Belanja perumahan bisa menggerakkan UMKM lokal

Ada alasan lain untuk mengaitkan program perumahan dengan ekonomi daerah: bahan bangunan yang dibeli untuk perbaikan dapat membuka pasar bagi produsen setempat. Maruarar melaporkan bahwa 34 UMKM di Kabupaten Majalengka telah lolos sertifikasi SNI dan menyiapkan 2,4 juta genteng tanah liat untuk mendukung kebutuhan bahan bangunan. Angka ini memberi gambaran bahwa perluasan pengerjaan rumah berpotensi menciptakan permintaan yang berarti bagi pemasok lokal.

Pemerintah mendorong penggunaan produk bahan bangunan lokal sesuai potensi tiap daerah dan menyatakan ingin memberdayakan UMKM lokal. Maruarar juga menyebut rencana menjajaki daerah atau produk lain setelah genteng. Arah ini masuk akal, asalkan mutu dan ketersediaan bahan tetap dijaga. Sertifikasi dan kapasitas produksi perlu berjalan seiring dengan jadwal perbaikan; jika tidak, UMKM hanya menjadi pelengkap narasi, bukan penerima manfaat. Menghubungkan program bedah rumah dengan pemasok setempat dapat membuat belanja publik memberi dampak lebih luas daripada perbaikan fisik semata.

Ukuran keberhasilan ada pada rumah yang benar-benar membaik

Kenaikan target dari 45 ribu menjadi 400 ribu unit adalah langkah besar yang menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kebutuhan perumahan. Namun, lonjakan jumlah saja belum menjamin akses yang lebih adil. Keberhasilan perlu terlihat pada rumah yang benar-benar diperbaiki, keluarga yang tepat menerima bantuan, mutu bangunan yang terjaga, serta manfaat yang sampai kepada UMKM lokal.

Karena itu, pemerintah perlu menempatkan kualitas pelaksanaan setara dengan kecepatan mengejar target. Bedah rumah dan rumah subsidi dapat saling melengkapi, sementara penggunaan produk daerah dapat menambah manfaat ekonomi jika prosesnya terukur. Kesimpulannya, target 400 ribu unit layak dipandang sebagai peluang besar, bukan keberhasilan yang sudah tercapai. Penilaian akhirnya harus bertumpu pada perubahan nyata: semakin banyak warga tinggal di hunian layak dan semakin kuat keterlibatan usaha lokal dalam mewujudkannya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!