Fashion Week Bukan Sekadar Panggung, Tapi Mesin Cerita Wastra
IN2MOTIONFEST x Jakarta Muslim Fashion Week adalah ajang modest fashion berskala internasional yang menghubungkan desainer, wastra tradisional, dan pelaku industri kreatif dalam satu ekosistem, menjadikannya ruang strategis bagi desainer Indonesia internasional untuk mengubah koleksi fashion lokal global menjadi narasi budaya yang relevan dengan pasar dunia sekaligus memperkuat posisi wastra tradisional di kancah fashion week modern. Di sini, kain tenun, songket, dan wastra daerah tidak lagi berhenti sebagai produk kerajinan, tetapi naik kelas menjadi bahasa visual yang dipahami buyer, kurator, dan penonton lintas negara. Ajang ini mengangkat tema “Indonesia’s Integrated Modest Fashion Ecosystem: Transforming Modest Fashion Brands into Global Business”, sebuah pernyataan tegas bahwa tujuan utama bukan hanya peragaan busana, melainkan ekspansi pasar dan penguatan ekosistem bisnis fashion muslim agar mampu bersaing secara global.
Erina Ichwan: Dari Ruang Redaksi NTB ke Runway IN2MOTIONFEST
Perjalanan Erina Ichwan membuktikan bahwa kepekaan jurnalis terhadap cerita bisa bertransformasi menjadi kekuatan brand fashion. Berangkat dari pengalaman sebagai presenter TVRI Mataram, redaktur media, dan pengurus Ikatan Penulis dan Jurnalis di NTB, ia kini membawa label ERINA GALLERY 5 ke PARADE 6 IN2MOTIONFEST 2026 di Hall A JICC Senayan pada Kamis, 15 Oktober, pukul 14.30–16.00 WIB. Pilihannya jelas: wastra NTB seperti Tenun Sasambo dan songket Sukarara tidak cukup hanya dipuji sebagai warisan, tetapi harus hadir sebagai koleksi fashion lokal global yang punya daya tawar ekonomi. Kutipannya tajam dan layak diingat: “Wastra harus punya otoritas cerita.” Di runway, prinsip itu terlihat ketika motif dan tekstur tradisional disusun dalam siluet modest fashion kontemporer, menjembatani identitas lokal dengan selera pasar internasional tanpa kehilangan marwah budaya.

Marlina Usman: Muse Aceh yang Menjadikan Wastra Sebagai Sikap
Jika Erina datang sebagai desainer, Marlina Usman hadir sebagai wajah yang menghidupkan karya. Istri Gubernur Aceh yang akrab disapa Kak Na tampil sebagai muse dalam peragaan busana muslim di IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 di Hall A JICC Jakarta pada Jumat, 16 Oktober, membawakan koleksi jenama lokal Salsabila Ocha. Pilihan tampil sebagai muse bukan sekadar momen glamor; Marlina memposisikan dirinya sebagai jembatan antara desainer lokal dan publik yang lebih luas, sembari menegaskan pentingnya wastra tradisional fashion week sebagai ruang promosi fesyen Aceh. Ia menyatakan harapan agar karya desainer Indonesia, termasuk kekayaan wastra dan kreativitas dari Aceh, mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Sikap ini penting: ketika figur publik memakai dan merayakan wastra daerah di panggung internasional, mereka mengirim pesan bahwa kebanggaan lokal adalah bagian dari gaya hidup modern, bukan sekadar nostalgia.

Festival Internasional Sebagai Laboratorium Ekspansi dan Kolaborasi Wastra
IN2MOTIONFEST x JMFW tidak berhenti pada catwalk; ia berfungsi sebagai laboratorium bisnis bagi desainer Indonesia internasional. Lebih dari 300 desainer, merek fashion, UMKM, dan anggota IKRA terlibat, bersama desainer tamu dari India, Malaysia, Turki, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, Taiwan, Korea, dan Filipina. Kehadiran program seperti Wastra Business Matching, pameran perdagangan, dan pemetaan tren fashion 2027–2028 menunjukkan bahwa wastra tradisional diperlakukan sebagai aset ekonomi yang serius, bukan dekorasi eksotis. Bagi ERINA GALLERY, ini menjadi momentum untuk memperluas pengenalan produk berbasis budaya lokal dan membuka peluang kerja sama lintas daerah dan mancanegara. Di titik ini, kolaborasi antara desainer dan warisan tekstil tradisional menciptakan narasi unik di panggung dunia: kain daerah hadir bukan hanya sebagai motif, tetapi sebagai cerita yang siap dinegosiasikan dalam bahasa kontrak, distribusi, dan strategi pasar.
Dari Cerita Lokal ke Identitas Global: Apa Langkah Selanjutnya?
Kisah Erina dari NTB dan Marlina dari Aceh memperlihatkan pola yang sama: ketika wastra tradisional dipadukan dengan manajemen brand, jejaring, dan keberanian tampil di festival internasional, ia berubah dari simbol lokal menjadi identitas global. Ajang yang terhubung dengan Indonesia Sharia Economic Festival ini secara terang-terangan mengajak desainer, UMKM, dan pengusaha fashion untuk memandang runway sebagai pintu ekspansi pasar, bukan sekadar panggung estetika. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah wastra siap ke pasar dunia, melainkan apakah para pelakunya siap mengelola cerita, kualitas, dan kontinuitas produksi. Jawabannya ada pada langkah konkret: memperkuat kolaborasi dengan perajin, memanfaatkan forum bisnis, dan menjadikan setiap penampilan di fashion week sebagai bab baru dalam narasi koleksi fashion lokal global yang berkelanjutan.






