Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Borneo International Fashion Festival Angkat 224 Koleksi Wastra Lokal ke Panggung Global

Borneo International Fashion Festival Angkat 224 Koleksi Wastra Lokal ke Panggung Global
Minat|Industri Fashion

BIFF sebagai gerbang global bagi wastra Kalimantan Timur

Borneo International Fashion Festival adalah sebuah fashion festival internasional yang digelar di Samarinda sebagai platform kurasi wastra Kalimantan Timur, kriya, dan desain batik modern agar terkoneksi dengan ekosistem kreatif, pelaku UMKM, dan buyer sehingga koleksi lokal yang terpilih dapat melangkah ke pasar nasional sekaligus merintis akses ke panggung global. Dari awal, arah BIFF sudah jelas: ini bukan sekadar peragaan busana, melainkan pernyataan bahwa karya dari Borneo layak hadir dalam percakapan mode dunia. Dengan melibatkan 28 desainer, 36 model, dan menghadirkan 224 koleksi, festival ini mengirim pesan tegas bahwa warisan tekstil bukan benda museum yang statis, melainkan sumber gagasan komersial yang hidup dan terus berkembang. Sikap berani inilah yang menjadikan BIFF relevan—ia memaksa publik untuk melihat wastra bukan sebagai souvenir, melainkan sebagai identitas yang siap ditransaksikan di pasar global.

Dari lokal ke global: strategi kurasi dan ekosistem bisnis

Keputusan menjadikan Borneo International Fashion Festival sebagai wadah promosi wastra, kriya, dan fashion daerah ke pasar nasional hingga internasional adalah langkah strategis yang menolak pola lama: pameran tanpa arah bisnis. Di sini, fashion show hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya, ada UMKM Expo, pameran wastra, pertunjukan budaya, business matching, dan fashion talk yang sengaja dirangkai untuk mempertemukan pelaku kreatif daerah dengan buyer dan mitra internasional. Kutipan Yulia Hadi terasa seperti manifesto: “Mendunia bukan berarti meninggalkan identitas kita. Identitas kita adalah kekuatan kita.” Artinya, BIFF menolak pendekatan imitasi tren luar dan memilih menjadikan kekhasan lokal sebagai daya jual. Relevansinya meluas, bukan hanya untuk desainer, tetapi juga artisan, UMKM, dan generasi muda yang membawa cerita budaya ke produk mereka. Tanpa ekosistem seperti ini, wastra Kalimantan Timur akan terus berputar di lingkar pasar yang sama dan sulit menembus jaringan internasional.

Kembang Perawan: contoh konkret desain batik modern yang berpijak pada wastra

Koleksi “Kembang Perawan” karya Ida Syachruni adalah argumen paling kuat bahwa wastra Kalimantan Timur siap masuk percakapan desain batik modern. Dalam delapan busana yang disiapkan selama sekitar dua bulan, Ida menggabungkan batik, ulap doyo, dan motif tikar lampit dalam satu tampilan tanpa kehilangan kejelasan identitas. Tantangan utamanya: menyatukan berbagai unsur khas Kalimantan agar tidak membuat busana terasa terlalu berat dan rumit. Di sinilah pendekatan modern bekerja—motif tikar lampit yang selama ini lekat dengan anyaman domestik diterjemahkan menjadi detail busana, sementara ulap doyo diberi ruang berdialog dengan batik dalam siluet yang lembut, mudah dikenakan, namun tetap berpihak pada akar tradisi. Pemilihan warna merah, kuning, biru, hitam, dan cokelat yang terkait identitas budaya Dayak membuat koleksi ini bukan sekadar “cantik”, tetapi juga komunikatif: ia bercerita tentang tanah asal sekaligus bernegosiasi dengan selera pasar muda yang mencari fashion festival internasional dengan narasi kuat.

Kekuatan dan tantangan: menjadikan wastra sebagai produk yang bisa dijual

Mengangkat wastra ke ranah bisnis global bukan pekerjaan tanpa risiko. BIFF menunjukkan sisi terang sekaligus bayangan. Di satu sisi, penyatuan wastra dengan desain kontemporer mengubah benda dan motif yang dekat dengan kehidupan masyarakat menjadi elemen desain bernilai komersial. Ini membuka kesempatan bagi artisan dan UMKM untuk naik kelas. Di sisi lain, proses kreatif seperti yang dialami Ida menegaskan bahwa integrasi berbagai unsur lokal menuntut kecermatan; ia harus mencari cara agar unsur khas Kalimantan menyatu tanpa membuat busana terlalu berat, baik secara visual maupun teknis. Pandangan pejabat yang menekankan pentingnya kualitas produk sebelum masuk pasar ekspor mengingatkan bahwa identitas tidak cukup; standar produksi harus mengikuti pasar global. Tanpa kedisiplinan pada kualitas, wastra hanya akan berhenti sebagai wacana budaya yang indah, bukan sebagai barang yang dibeli dan dipakai.

BIFF dan masa depan wastra Kalimantan Timur di pasar internasional

Pada akhirnya, Borneo International Fashion Festival menegaskan satu hal: warisan tekstil bukan sesuatu yang perlu disimpan diam-diam di lemari, melainkan aset yang patut dinegosiasikan di pasar internasional. Dengan 224 koleksi dari 28 desainer yang naik ke panggung di Samarinda, festival ini memposisikan wastra Kalimantan Timur sebagai materi kreatif yang layak diuji di hadapan buyer dan mitra luar negeri. Upaya sebelumnya melalui brand Pandawi yang membuka koneksi ke pasar Australia menjadi pembuka jalan, tetapi BIFF adalah loncatan berikutnya: ia memperluas jejaring, menghadirkan panggung, dan membangun narasi “dari lokal ke global, dari warisan ke masa depan”. Jika ekosistem yang dimulai di sini dijaga, disempurnakan, dan tidak sekadar berhenti di euforia festival, maka generasi desainer berikutnya akan tumbuh dengan satu keyakinan baru: berkarier dari wastra lokal bukan kompromi, melainkan strategi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!