Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Wastra Aceh dan Tanö Niha Mengubah Panggung Fashion

Wastra Aceh dan Tanö Niha Mengubah Panggung Fashion
Minat|Pertunjukan Busana

Fashion sebagai Ruang Perlawanan dan Perayaan Warisan Budaya

Wastra Aceh fashion dan inspirasi tekstil tradisional lokal dari Pulau Nias menunjukkan bagaimana panggung mode dapat menjadi ruang perlawanan terhadap pelupaan budaya sekaligus perayaan identitas, ketika desainer warisan budaya memilih menjadikan kisah, simbol, dan teknik tradisional sebagai pusat kreativitas, bukan sekadar ornamen dekoratif yang ditempel di tren sesaat. Di sini, fashion berhenti menjadi konsumsi visual belaka dan berubah menjadi narasi yang menuntut kita untuk peduli pada akar, bukan hanya pada tampilan. Dua momen penting menggarisbawahi perubahan itu: kehadiran Marlina Usman sebagai muse modest fashion Indonesia di ajang IN2MOTIONFEST x Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 di Hall A JICC, Jakarta, Jumat 16 Oktober 2026, dan koleksi Tanö Niha karya Mel Ahyar yang membuka peragaan Fashion Nation di Senayan City, Jakarta, Jumat 18 September 2026 sebagai bagian ulang tahun ke-20 pusat perbelanjaan tersebut. Keduanya menempatkan wastra Aceh dan budaya Nias bukan di pinggir, melainkan di tengah sorotan.

Wastra Aceh dan Tanö Niha Mengubah Panggung Fashion

Marlina Usman dan Wastra Aceh: Modest Fashion yang Punya Sikap

Kehadiran Marlina Usman, istri Gubernur Aceh, sebagai muse di JMFW 2026 bukan sekadar penampilan seremonial; ini adalah pernyataan politik budaya tentang pentingnya wastra Aceh fashion dalam lanskap modest fashion Indonesia. Membawakan koleksi jenama lokal Salsabila Ocha di peragaan busana muslim, Marlina meminjam tubuh dan posisinya untuk menegaskan bahwa karya desainer lokal layak berdiri sejajar dengan label besar, bukan menjadi pengisi sela acara belaka. Melalui unggahan pribadinya, ia menulis bahwa kesempatan tampil di panggung bukan hanya soal sorotan, tetapi dukungan nyata terhadap kreativitas desainer dan pelaku industri fesyen agar “semakin dikenal luas”. Pernyataan ini patut dikutip karena menggeser fokus dari figur ke ekosistem: “Semoga karya-karya anak bangsa, termasuk kekayaan wastra dan kreativitas dari Aceh, terus berkembang, menginspirasi, dan mampu bersaing di panggung nasional maupun internasional”. Di tengah arus tren global, sikap seperti ini adalah tameng penting agar wastra Aceh tidak direduksi menjadi motif eksotis tanpa konteks.

Tanö Niha Mel Ahyar: Ketika Nias Tanpa Wastra Menjadi Pusat Mode

Di Fashion Nation 2026, Mel Ahyar mengambil keputusan berani: menjadikan Pulau Nias, yang bahkan tidak memiliki wastra, sebagai sumber ilham utama koleksinya. Alih-alih memaksa hadirnya kain tradisional yang tidak ada, ia memilih jujur pada realitas budaya Nias dengan mengangkat teknik bordir dan relief kayu-batu sebagai bahasa visual koleksi Tanö Niha atau Tanah Nias. Motif bordirnya terinspirasi relief di rumah raja yang ia datangi, meneruskan cara masyarakat Nias nirleka hingga abad ke-19 mengomunikasikan kepercayaan dan tradisi melalui ukiran di batu dan kayu. Siluet resor yang santai—kulot 7/8 melengkung menyerupai barrel pants, kemeja relaxed fit dengan bahu dan lengan gembung, hingga set jas uniseks—membuktikan bahwa tekstil tradisional lokal tidak harus tampil kaku atau formal untuk terasa berkelas. Mel juga bermain dengan katun, denim, dan lapisan sifon melambai yang melembutkan kesan streetwear. Di sini, budaya Nias tidak dipajang sebagai kostum, melainkan diintegrasikan ke dalam gaya hidup sehari-hari.

Kondom Bordir dan Harga yang Dibayar untuk Keindahan yang Fana

Gaun penutup Tanö Niha berbahan kondom bordir menjadi metafora paling tajam tentang hubungan fashion dan kefanaan. Dari jauh, lapisan luar transparan mengkilapnya membuat banyak wartawan mengira itu taplak plastik, tetapi bahan tersebut adalah kertas atau filamen transparan yang biasanya dipakai sebagai alas bordir agar kain stabil dan tidak bergeser saat disulam. Dalam praktik biasa, kondom bordir akan larut saat pencucian, menyisakan bordiran di atas kain; Mel justru mempertahankan lapisan itu sebagai bagian estetika gaun. Konsekuensinya ekstrem: pemakai gaun ini tidak boleh kehujanan atau ketumpahan minuman karena kreasi bernilai jutaan rupiah itu bisa meleleh. Keputusan mempertahankan material yang “seharusnya hilang” adalah kritik halus terhadap cara kita memandang karya budaya. Menurut Mel, proses membuat koleksi ini sama indahnya dengan hasil akhir dan direpresentasikan oleh gaun kondom bordir. Keindahan yang rapuh dan berisiko mahal mengingatkan bahwa merawat warisan budaya juga menuntut biaya emosional dan material—tidak bisa dilakukan setengah hati.

Desainer Warisan Budaya dan Tanggung Jawab Merawat Memori Kolektif

Baik Marlina Usman di JMFW maupun Mel Ahyar di Fashion Nation memperlihatkan bahwa desainer warisan budaya memikul tanggung jawab lebih dari sekadar mencipta tren. Mel, yang juga pengurus Dewan Kerajinan Nasional, secara terang menyebut bahwa jenama Mel Ahyar Archipelago lahir dengan tujuan menampilkan wastra dan kriya Nusantara. Ia terbang ke Nias setelah menerima rompi kulit kayu baru olohu yang jarumnya bahkan tak mampu ditembus, lalu mempelajari bagaimana masyarakat Nias menulis kisah mereka dalam relief batu dan kayu karena nirleka hingga abad ke-19. Di sisi lain, Marlina menggunakan panggung modest fashion Indonesia sebagai medium advokasi, mengajak publik untuk “terus mendukung karya lokal dan bangga mengenakan karya anak bangsa”. Relevansi gerakan ini jelas: bagi desainer muda, wastra Aceh fashion dan tekstil tradisional lokal bukan lagi beban tradisi, melainkan sumber ide yang sah untuk dieksplorasi secara kontemporer. Jika panggung-panggung besar terus memberi ruang pada narasi seperti ini, fashion akan tumbuh sebagai arsip hidup memori kolektif, bukan sekadar katalog musim yang mudah dilupakan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!