Pengetahuan yang luput dari internet
Pelestarian kearifan lokal dengan dukungan kecerdasan buatan adalah upaya merekam pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat agar dapat dicari, dipahami, dan diteruskan tanpa melepaskannya dari konteks asalnya. Gagasan ini penting karena teknologi hanya dapat membantu jika pengetahuan yang relevan tersedia dalam bentuk yang bisa diakses. Dalam pertanian bawang merah, sebagian panduan hidup bukan di buku atau laman daring, melainkan dalam kemampuan petani membaca kondisi lahan, mengenali kesehatan tanaman dari warna daun, memilih waktu tanam, dan menyesuaikan tindakan terhadap cuaca. Informasi pertanian bawang merah memang belum sepenuhnya tersedia melalui internet, sementara keputusan tersebut terbentuk dari pengalaman empiris petani. Akibatnya, pengetahuan yang tidak tercatat berisiko tak terbaca oleh sistem digital, termasuk perangkat AI yang mengandalkan data daring. Tantangannya bukan mengganti penilaian petani dengan algoritma, melainkan memastikan pengalaman itu tidak hilang dan dapat menjadi sumber pembelajaran.
Tegalsiwalan mengubah pengalaman menjadi dokumentasi
Contoh konkretnya hadir melalui AICOM 2026, program pengabdian masyarakat kolaboratif yang didanai Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga. Kegiatan berlangsung di Desa Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, pada 16–19 Oktober 2026, dengan dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam bekerja bersama masyarakat, terutama petani bawang merah. Tim tidak hanya mengumpulkan petunjuk teknis budidaya, tetapi juga menggali bagaimana petani membaca tanah, mengenali tanda pada tanaman, menentukan waktu tanam, dan mengambil keputusan ketika keadaan berubah. Hasilnya, Portal Pengetahuan Lokal Desa Tegalsiwalan diserahkan kepada pemerintah desa beserta panduan penggunaannya. Portal yang dapat diakses melalui tegalsiwalan.web.id itu menjadi wadah dokumentasi pengetahuan pertanian yang sebelumnya tersimpan dalam ingatan dan praktik harian petani. Inilah pertanian tradisional digital dalam bentuk yang paling berguna: pengalaman lokal dicatat dan dibagikan, bukan diperlakukan sebagai informasi pinggiran.
AI sebaiknya menjadi jembatan, bukan pengganti
Penting untuk membedakan dokumentasi digital dari penerapan AI. Informasi yang tersedia tentang AICOM menjelaskan portal pengetahuan lokal, tetapi tidak menyatakan bahwa portal tersebut telah mengintegrasikan AI. Karena itu, klaim bahwa algoritma sudah membantu petani Tegalsiwalan mengambil keputusan akan melampaui bukti. Meski begitu, dokumentasi pengetahuan lokal menyediakan bahan penting agar teknologi kelak dapat bekerja dengan konteks yang lebih dekat pada kebutuhan masyarakat. Kearifan lokal dan AI akan lebih bermanfaat jika petani turut menentukan cara pengetahuan mereka dicatat, diakses, dan digunakan. Nilainya bukan semata menjaga warisan budaya: informasi yang tersusun juga berpotensi mendukung daya saing dan membuka jalan menuju akses pasar yang lebih luas, meski hasil ekonomi tidak otomatis terjamin. Pada 21 Oktober 2026, Kepala BPSDM Komdigi Boni Pudjianto menjelaskan di Bali Tech Week bahwa AI Talent Factory melibatkan mahasiswa dalam proyek nyata untuk menjembatani kesenjangan kompetensi dan kebutuhan kerja. Pesan yang patut dibawa ke desa pun serupa: teknologi pertanian berkelanjutan harus menjawab persoalan nyata, dengan pengetahuan petani sebagai landasan.






