Sekolah Rakyat: Infrastruktur Pendidikan Gratis yang Menarget Anak Paling Rentan
Sekolah Rakyat adalah program pembangunan fasilitas pendidikan gratis anak miskin yang dirancang sebagai sekolah dengan asrama dan dukungan penuh pemerintah pusat, menargetkan anak dari keluarga desil 1 dan 2 serta kelompok paling rentan dengan tujuan memperluas akses pendidikan inklusif dan memutus mata rantai kemiskinan melalui layanan pendidikan yang terstruktur dan terarah. Program Sekolah Rakyat pembangunan di Batang, Mojokerto, dan Bogor tidak sekadar menambah gedung baru, tetapi mengubah cara negara memandang pendidikan sebagai intervensi sosial yang agresif. Ketiga kota ini menjadi laboratorium kebijakan: pemerintah daerah menyediakan lahan, pemerintah pusat menanggung fisik dan operasional, sementara sasaran siswa difokuskan secara tajam pada keluarga prasejahtera. Pendekatan ini pantas dibaca sebagai koreksi terhadap gagasan lama bahwa anak miskin cukup "dibantu"; kini, mereka ditempatkan sebagai prioritas utama yang harus dijamin akses pendidikan inklusif sejak awal.
Batang: Menyasar Desil 1 dan 2, Bukan Sekadar Menambah Sekolah
Kabupaten Batang memilih strategi yang paling jujur: mengakui bahwa anak dari keluarga desil 1 dan 2 adalah kelompok yang paling sering tertinggal, lalu menjadikannya sasaran utama penerima manfaat Sekolah Rakyat. Persiapan Sekolah Rakyat pembangunan di Batang ditekankan pada penyediaan lahan oleh pemkab, sementara seluruh anggaran fisik dan tenaga pendidik ditanggung pusat. Ini langkah penting: daerah tidak berhenti pada keluhan anggaran, tetapi menata tata ruang agar pendidikan gratis anak miskin bisa tumbuh. Proses rekrutmen siswa memakai aplikasi Setara milik Kementerian Sosial, ditopang pendataan PKH, TKSK, camat, hingga lurah. Target awal 90 anak per jenjang SD, SMP, SMA menunjukkan pendekatan bertahap namun terencana. Pembangunan infrastruktur dikebut mulai Oktober, dengan target rampung dan pendaftaran selesai pertengahan Juni sebelum MPLS digelar. Jika konsisten, Batang sedang menulis contoh serius bahwa kebijakan berbasis data sosial bisa menggerakkan sekolah inklusif, bukan hanya slogan.
Mojokerto: 4,5 Hektare untuk 1.080 Siswa, Mengubah Fungsi Lahan Menjadi Peluang Sosial
Kota Mojokerto mengambil langkah berani dengan menukar potensi ekonomi lahan selatan kota menjadi investasi sosial jangka panjang: 4,5 hektare atau 45.754 meter persegi disediakan untuk fasilitas Sekolah Rakyat pembangunan di Kelurahan Pulorejo. Lahan seluas ini ditargetkan menampung 1.080 calon siswa yang membutuhkan akses pendidikan layak. Fokusnya tegas: anak putus sekolah, anak jalanan, dan warga desil 1 serta 2. Pernyataan wali kota bahwa Sekolah Rakyat tidak akan mengurangi kuota di sekolah umum menunjukkan satu hal: pemerintah daerah mengakui adanya dua realitas pendidikan—formal arus utama dan layanan khusus bagi yang paling tertinggal—dan memilih memperluas keduanya, bukan mempertentangkan. Pembangunan fisik digarap Kementerian PU, operasional oleh Kementerian Sosial, sementara pemkot menyiapkan lahan dan kewenangan daerah. Ini sinyal penting bahwa pendidikan gratis anak miskin tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi hasil sinergi antar kementerian yang wajib dicontoh kota lain.

Bogor: Sekolah dengan Asrama, Memutus Kemiskinan Lewat Ruang Hidup Baru
Di Bogor, gagasan Sekolah Rakyat naik satu level: bukan hanya kelas, tetapi juga ruang hidup. Lahan lima hektare di Rancamaya disiapkan, didanai APBN melalui kolaborasi Pemkot, Kementerian Sosial, dan Kementerian Pekerjaan Umum. Wali kota menegaskan bahwa fasilitas pendidikan gratis ini menyasar warga prasejahtera dan dirancang khusus untuk memutus rantai kemiskinan melalui kualitas pendidikan yang memadai. Kutipan ini menggambarkan logika barunya: "Kalau mereka bisa bersekolah di sini, akan ada asrama. Kemudian mendapatkan pendidikan yang baik dengan lokasi yang baik, tentu ke depan akan bisa mengubah nasib keluarga mereka". Sekolah dengan asrama mengubah pola hari-hari anak miskin: mereka tidak lagi pulang ke lingkungan yang menekan, tetapi tinggal di ekosistem belajar yang lebih aman dan terarah. Pendekatan ini berani, karena mengakui bahwa akses pendidikan inklusif perlu mengubah ruang fisik dan sosial sekaligus, bukan hanya menambah jam pelajaran.
Kesimpulan: Dari Bangunan ke Mobilitas Sosial, Saatnya Menjaga Konsistensi
Ekspansi Sekolah Rakyat ke Batang, Mojokerto, dan Bogor adalah perubahan cara negara memaknai sekolah: bukan lagi sekadar layanan publik, melainkan alat mobilitas sosial yang tajam sasaran. Batang memperkuat akses pendidikan inklusif dengan fokus pada keluarga desil 1 dan 2. Mojokerto memutar fungsi lahan 4,5 hektare menjadi peluang bagi 1.080 siswa yang selama ini tercecer dari sistem formal. Bogor menambahkan dimensi sekolah dengan asrama sebagai strategi memutus kemiskinan lewat perubahan lingkungan hidup. Program ini jelas dirancang untuk memperluas akses pendidikan inklusif dan memutus mata rantai kemiskinan, bukan sekadar menambah angka partisipasi sekolah. Tantangan selanjutnya bukan lagi soal konsep, melainkan konsistensi: menjaga seleksi tetap fokus pada yang paling rentan, memastikan mutu pengajaran, serta melindungi asrama dari praktik diskriminatif. Jika itu mampu dijaga, Sekolah Rakyat berpotensi menjadi salah satu intervensi sosial paling bermakna dalam satu generasi.






