Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Proyek PSEL Pengolahan Sampah Berlomba Kejar Deadline

Tiga Proyek PSEL Pengolahan Sampah Berlomba Kejar Deadline
Minat|Asia Tenggara

PSEL: Dari Tumpukan Sampah ke Infrastruktur Listrik Sampah

Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) adalah fasilitas yang mengubah sampah kota menjadi listrik melalui teknologi termal atau biologis, dirancang untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir, mengganti pola open dumping, dan membangun infrastruktur listrik sampah yang menyuplai energi bagi rumah tangga dan industri perkotaan.

Inti persoalan hari ini: tiga proyek PSEL pengolahan sampah di Serang Raya, Medan Raya, dan Kayu Manis Bogor melaju dengan ambisi besar, tetapi bergantung pada sistem perizinan yang lambat dan infrastruktur pendukung yang belum siap. Di atas kertas, proyek ini adalah jawaban atas krisis persampahan dan kebutuhan energi terbarukan. Di lapangan, ketiganya sedang berpacu dengan tenggat waktu 2026–2029 yang kian dekat dan resiko molor yang sangat nyata.

Pemerintah menjadikan PSEL bagian dari kebijakan nasional penanganan sampah perkotaan dan menargetkan pengelolaan sampah nasional 100 persen pada 2029. Ambisi ini patut diapresiasi, tetapi tanpa disiplin regulasi dan kesiapan infrastruktur, target itu berisiko tinggal sebagai slogan. Tiga proyek ini adalah barometer: jika mereka gagal tepat waktu, komitmen terhadap energi terbarukan dan pengelolaan limbah perkotaan ikut dipertanyakan.

Tiga Proyek PSEL Pengolahan Sampah Berlomba Kejar Deadline

Serang Raya: Desain Siap, Lahan Menentukan Kecepatan

Di Serang Raya, pemerintah provinsi memastikan pembangunan PSEL pengolahan sampah akan dimulai pada akhir 2026. Fasilitas ini akan dibangun di TPAS Cilowong, Kota Serang, dengan kapasitas pengolahan 1.161 ton sampah per hari yang dikirim dari Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. PSEL Serang Raya ditargetkan mulai beroperasi pada 2028–2029, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan terbuka atau open dumping.

Saat ini proyek memasuki tahap desain teknis, sementara pembebasan lahan masih berjalan dan pematangan lahan melibatkan beberapa pemerintah daerah. Di sinilah titik rawan: desain boleh matang, tetapi tanpa kepastian lahan, semua jadwal bisa runtuh. "Pembangunan PSEL diharapkan menjadi langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan terbuka atau open dumping". Namun, lambatnya urusan lintas daerah sering kali menjadi batu sandungan utama proyek strategis.

Jika persiapan lintas daerah berhasil diselesaikan tepat waktu, Serang Raya berpotensi menjadi contoh baik bagaimana infrastruktur listrik sampah bisa mengurangi beban TPA dan menghasilkan energi dari masalah lingkungan yang sudah menahun. Namun bila tidak, proyek ini hanya akan menambah daftar panjang proyek tertunda yang kalah oleh tarik-menarik kepentingan lokal.

Medan Raya: Proyek Strategis Nasional yang Berpacu hingga Desember

Di Medan Raya, proyek PSEL masuk kategori proyek strategis nasional. Wakil Gubernur menyatakan peletakan batu pertama ditargetkan pada Desember 2026. Proyek ini dirancang mengolah sekitar 1.700 ton sampah per hari dari Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang, dengan pasokan yang harus dijamin selama 30 tahun. Targetnya, fasilitas ini sudah beroperasi pada Desember 2028 setelah masa konstruksi sekitar dua tahun.

Proyek ini bukan lagi tahap gagasan; persiapan diklaim sudah berjalan sejak 2023 dan kini fokus pada eksekusi lapangan. Namun, pemerintah daerah masih harus memastikan ketersediaan lahan dan kepastian pasokan sampah, yang sering kali menjadi titik negosiasi politik dan sosial paling rumit. Menurut keterangan direktur investasi, PSEL Medan Raya diperkirakan memiliki kapasitas sekitar 35–40 megawatt dan dapat membuka lapangan kerja pada masa konstruksi maupun operasional.

Dampak bagi warga cukup konkret: PSEL ini diproyeksikan mampu menerangi sekitar 110 ribu rumah tangga dan mengurangi emisi dari sektor persampahan. Namun label proyek strategis nasional tidak otomatis menjamin bebas hambatan. Selama lahan dan pasokan sampah belum terkunci, Desember hanya menjadi tanggal optimistis, bukan deadline yang pasti.

Kayu Manis Bogor: AMDAL Tertinggal, Infrastruktur Dikebut

Berbeda dengan dua proyek lain, PSEL Kayu Manis di Kota Bogor disorot karena perizinan lingkungan tertinggal dari pembangunan fisik. Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) masih dalam tahap penyesuaian, dengan sejumlah persyaratan teknis yang belum terpenuhi. Wali kota menyebut masih ada catatan terkait buffer zone, ketersediaan air, dan kesiapan infrastruktur kelistrikan seperti gardu atau trafo PLN.

Kontrasnya, di lapangan infrastruktur pendukung terus dibangun: pembukaan dan betonisasi akses jalan utama, pembangunan bronjong sungai, hingga penyiapan lahan menuju lokasi PSEL. Target groundbreaking dipasang paling cepat pada November 2026, sehingga pemerintah kota memilih mempercepat fisik sambil menuntaskan regulasi. Proyek ini akan dikerjakan konsorsium Xevia dan dirancang mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari menjadi energi listrik.

Pendekatan "bangun dulu, izin menyusul" seperti ini berbahaya. Di satu sisi, publik ingin solusi cepat atas timbunan sampah; di sisi lain, mengabaikan urutan perizinan memperbesar risiko gugatan dan penolakan warga. Pembangunan PSEL Kayu Manis memang diharapkan menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah di kota tersebut, tetapi solusi yang tergesa tanpa kepastian lingkungan akan meninggalkan masalah baru bagi generasi berikutnya.

Transisi Energi Terbarukan Butuh Tata Aturan yang Tegas

Ketiga proyek PSEL pengolahan sampah ini memperlihatkan komitmen pemerintah terhadap pengelolaan limbah perkotaan dan pengembangan energi terbarukan. PSEL Serang Raya menjadi bagian kebijakan nasional penanganan sampah perkotaan; PSEL Medan Raya dimasukkan ke dalam program strategis nasional; PSEL Kayu Manis diharapkan menjadi solusi lokal untuk sampah Kota Bogor. Secara politis, pesan yang disampaikan jelas: sampah bukan lagi beban, melainkan sumber energi.

Namun tiga proyek ini juga mengungkap kelemahan klasik: tumpang tindih kewenangan lahan, ketidakpastian pasokan sampah, AMDAL yang lambat, dan kesiapan infrastruktur listrik sampah yang belum seragam. Tanpa perbaikan tata aturan dan disiplin perizinan, proyek strategis nasional pun bisa tersandera oleh prosedur yang setengah hati. Target 2028–2029 akan bergeser menjadi angka kosong di dokumen perencanaan.

Jika pemerintah serius menjadikan PSEL sebagai tulang punggung energi terbarukan dan pengelolaan limbah, tiga hal harus dijadikan pelajaran: lahan harus bersih sengketa sebelum groundbreaking, AMDAL wajib tuntas sebelum konstruksi masif, dan infrastruktur kelistrikan harus direncanakan sedari awal, bukan sekadar tambahan di belakang. Tanpa itu, PSEL hanya akan menjadi monumen mahal yang sulit beroperasi, bukan solusi nyata untuk kota yang kehabisan ruang TPA.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!