Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga PSEL Baru: Dari Krisis Sampah ke Energi Terbarukan?

Tiga PSEL Baru: Dari Krisis Sampah ke Energi Terbarukan?
Minat|Asia Tenggara

PSEL: Jawaban Cepat atas Krisis Sampah atau Sekadar Simbol?

Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) adalah sistem waste to energy Indonesia yang membakar atau mengolah sampah perkotaan untuk mengurangi timbunan di TPA sekaligus menghasilkan listrik sebagai energi terbarukan sampah, sehingga sampah tidak lagi hanya menjadi beban lingkungan tetapi juga sumber daya energi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Pemerintah daerah tengah menjadikan PSEL pengolahan sampah sebagai ujung tombak menghadapi krisis sampah nasional setelah ratusan TPA ditutup dan timbulan sampah terus naik. Pertanyaannya: apakah gelombang pembangunan fasilitas PSEL 2026 ini cukup cepat dan terkelola baik, atau hanya menunda bencana di tempat lain—dari gunungan sampah menjadi emisi dan beban biaya jangka panjang? Artikel ini berpihak pada satu hal: PSEL hanya masuk akal bila diperlakukan sebagai bagian dari ekosistem pengelolaan sampah yang menyeluruh, bukan proyek tunggal yang diagung-agungkan.

Bogor Raya 1, Serang Raya, Semarang Raya: Tiga Groundbreaking, Satu Agenda Nasional

Gelombang fasilitas PSEL 2026 dimulai dari Bogor Raya 1, yang dijadwalkan groundbreaking pada 17 September sebagai langkah strategis mengatasi sampah lintas Kota dan Kabupaten Bogor sambil menghasilkan listrik. Menyusul, PSEL Serang Raya di TPAS Cilowong akan mulai dibangun akhir tahun dengan kapasitas 1.161 ton sampah per hari dan ditargetkan beroperasi 2028–2029. Di Semarang Raya, fasilitas PSEL di TPA Jatibarang diproyeksikan mengolah 1.000 ton sampah baru per hari dari Kota Semarang dan Kabupaten Kendal, dengan pembangunan dimulai Desember dan operasi pada 2028. Deret proyek ini jelas bukan kebetulan; ini implementasi konkret Perpres penanganan sampah perkotaan dan bagian dari program menuju pengelolaan 100 persen sampah nasional serta target zero sampah 2029 di beberapa provinsi.

Tiga PSEL Baru: Dari Krisis Sampah ke Energi Terbarukan?

Krisis Sampah Nasional: PSEL Penting, Tapi Jauh dari Cukup

Latar belakang pembangunan fasilitas PSEL 2026 sangat gamblang: krisis sampah nasional menguat setelah 343 TPA ditutup dan banyak daerah masih mengandalkan open dumping, yang memperparah pencemaran dan konflik sosial. Di sisi lain, pemerintah pusat mendorong program Indonesia ASRI dan target pengelolaan 100 persen sampah serta zero sampah 2029. Namun kapasitas semua proyek PSEL yang digarap konsorsium Danantara baru diperkirakan 25.000–38.000 ton per hari, jauh dari timbulan sampah sekitar 140.000 ton per hari secara nasional. "Set up tata kelola PSEL yang dilakukan saat ini lamban, ala kadar, tidak holistic" kata Ahmad Safrudin, memperingatkan risiko menggeser masalah dari sampah padat menjadi pencemaran udara dan gas rumah kaca. Artinya, PSEL adalah bagian solusi, bukan tongkat sihir yang menyelesaikan krisis sendirian.

Dari Tempat Buang ke Pusat Energi: Manfaat Nyata bagi Warga

Ketika berfungsi, PSEL pengolahan sampah mengurangi volume sampah yang ditimbun di landfill sambil menghasilkan listrik, menjadikannya bentuk energi terbarukan sampah yang berkontribusi pada ketahanan energi baru terbarukan. Di Bogor, pemerintah kota berharap fasilitas Bogor Raya 1 bukan hanya mengatasi penumpukan sampah, tapi juga mendukung ekonomi sirkular dan lingkungan yang lebih bersih bagi warga. Serang Raya menargetkan peralihan dari open dumping menuju fasilitas modern yang melayani beberapa kota sekaligus, sejalan dengan program Indonesia ASRI. Semarang Raya bahkan menggabungkan PSEL (waste to energy Indonesia) dengan rencana waste to fuel dan model RDF dalam peta jalan pengelolaan sampah provinsi, plus Satgas Penuntasan Sampah dan gerakan sosial Jawa Tengah ASRI. Bagi warga, ini berarti potensi berkurangnya bau TPA, risiko longsor, dan kesempatan akses energi yang lebih andal.

Lambat dan Berisiko: Tanpa Percepatan Tata Kelola, PSEL Bisa Gagal Misi

Meski pembangunan fasilitas PSEL 2026 terlihat menjanjikan, kecepatan dan kualitas tata kelola masih tanda tanya besar. Kritik bahwa set up tata kelola PSEL saat ini lamban dan tidak holistik menunjukkan adanya celah serius di hulu dan hilir—mulai pemilahan, rantai pasok sampah, hingga model bisnis operasi jangka panjang. Di sisi lain, kepala daerah seperti Wali Kota Bogor menekankan pentingnya kolaborasi erat pemerintah pusat–daerah–investor agar proyek tidak mandek di tengah jalan. Serang dan Semarang sudah merapikan detail seperti pembebasan lahan, pasokan air, dan jaminan suplai sampah harian. Namun, tanpa strategi percepatan yang jelas dan partisipasi pemangku kepentingan—termasuk pemulung, sektor informal, dan masyarakat sekitar TPA—fasilitas PSEL berisiko menjadi monumen mahal yang mengolah sampah jauh di bawah kapasitasnya dan gagal mendukung target zero sampah 2029.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!