Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Jam Belajar Masyarakat Menumbuhkan Budaya Belajar di Kelurahan

Jam Belajar Masyarakat Menumbuhkan Budaya Belajar di Kelurahan
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Belajar bersama, bukan hanya setelah sekolah

Jam Belajar Masyarakat (JBM) adalah program pendampingan belajar berbasis kelurahan yang menyatukan sekolah, keluarga, pemerintah, dan warga untuk mendukung pendidikan anak di luar jam sekolah. Kekuatan gagasannya terletak pada perubahan lingkungan sehari-hari menjadi bagian dari proses belajar, bukan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada guru atau orang tua saja. Pada Kamis malam, 30 Oktober 2026, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meninjau pelaksanaan JBM di Kantor Kelurahan Sorosutan dan berdialog dengan anak-anak, guru pendamping, serta orang tua. Kunjungan itu menyoroti kebutuhan yang lebih luas daripada tambahan pelajaran: anak memerlukan ruang dan kebiasaan yang membuat belajar terasa wajar. Karena itu, JBM patut dinilai bukan semata dari kegiatan belajar yang terselenggara, tetapi juga dari kemampuannya membangun budaya belajar positif di lingkungan tempat tinggal.

Jam Belajar Masyarakat Menumbuhkan Budaya Belajar di Kelurahan

Kelurahan menjadi ruang belajar bersama

JBM Sorosutan telah berjalan sejak awal September 2026, empat hari dalam sepekan. Anak-anak dibagi ke dalam dua kelompok, kelas 1–3 dan kelas 4–6, dengan rata-rata 50 peserta per kelompok. Sekitar 24 guru dari Dinas Pendidikan ditugaskan mendampingi kegiatan tahap awal di empat kelurahan: Sorosutan, Tegalrejo, Bumijo, dan Tahunan. Skala ini menunjukkan bahwa program berbasis kelurahan bisa menjangkau banyak anak, tetapi sekaligus menegaskan perlunya pendamping yang cukup agar perhatian tidak terpecah. Materi mencakup kemampuan dasar, literasi, numerasi, matematika, Pendidikan Pancasila, Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, serta Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial. Permainan dan kerja kelompok membuat anak membaca, mencari informasi, menganalisis, lalu menuliskan jawaban. Pendekatan ini lebih menjanjikan daripada menjadikan sesi tambahan sebagai tumpukan pekerjaan rumah.

Jam Belajar Masyarakat Menumbuhkan Budaya Belajar di Kelurahan

Dukungan warga membuat kebiasaan bertahan

Kolaborasi sekolah tidak akan kuat jika berhenti di ruang kelas. Dalam JBM, pemerintah kota, kelurahan, pengurus RT dan RW, guru, orang tua, serta masyarakat setempat ikut menopang kegiatan. Susunan ini penting karena kebiasaan belajar anak dibentuk pula oleh apa yang terjadi di rumah dan lingkungan sekitar. Salah satu orang tua peserta, Tutik, mengatakan program tersebut membantu karena anaknya lebih bersemangat belajar bersama teman-teman, sementara mendampingi di rumah sering sulit. Ia juga melihat perubahan rutinitas: setelah salat Isya, anak-anak yang sebelumnya biasa bermain kini lebih terarah mengikuti kegiatan belajar di kantor kelurahan. Manfaat seperti ini membuat JBM terasa nyata bagi keluarga. Namun, kebiasaan positif itu hanya akan berumur panjang jika warga ikut menjaga dukungan, bukan menganggap belajar sebagai urusan sekolah atau program pemerintah semata.

Jam Belajar Masyarakat Menumbuhkan Budaya Belajar di Kelurahan

Pertumbuhan program perlu menjaga keseimbangan

Langkah berikutnya harus memperluas pendampingan tanpa mengorbankan waktu istirahat anak. Hasto mendorong penambahan guru pendamping dan penyesuaian jadwal agar kegiatan dapat dimulai lebih awal serta selesai lebih cepat. Ia juga mengusulkan keterlibatan mahasiswa sebagai relawan, sementara pemerintah kota merencanakan penguatan peran mahasiswa dan kalangan profesional melalui kelas inspirasi. Usulan itu masuk akal: jumlah peserta yang besar membutuhkan lebih banyak perhatian, dan kehadiran pendamping baru dapat memberi anak pengalaman serta motivasi yang beragam. Tetapi keberhasilan JBM tidak semestinya diukur dari seberapa lama anak belajar. Jadwal yang tertata, metode yang menarik, dan koordinasi yang konsisten antara sekolah serta warga sama pentingnya. Jika unsur-unsur tersebut dijaga, JBM dapat tumbuh menjadi kebiasaan bersama, bukan kegiatan tambahan yang membebani anak.

Jam Belajar Masyarakat Menumbuhkan Budaya Belajar di Kelurahan

Pendidikan anak adalah tanggung jawab lingkungan

JBM menawarkan pelajaran penting: pendidikan anak akan lebih kuat ketika dukungan belajar hadir dekat dengan rumah dan melibatkan orang-orang yang ditemui anak setiap hari. Sekolah membawa pengalaman mengajar, pemerintah membantu mengatur dan menyediakan pendamping, sedangkan keluarga serta warga membentuk suasana yang mendorong anak untuk terus belajar. Tidak satu pihak pun dapat menggantikan peran pihak lain. Tantangannya adalah menjaga mutu pendampingan, mengatur waktu secara manusiawi, dan memastikan kolaborasi sekolah benar-benar berjalan dalam praktik. Dengan perhatian pada hal-hal itu, budaya belajar berbasis kelurahan dapat tumbuh dari rutinitas sederhana menjadi komitmen bersama. JBM layak terus dikembangkan karena keberhasilannya bukan hanya soal anak menyelesaikan tugas, melainkan tentang lingkungan yang ikut membuat belajar menjadi bagian wajar dari kehidupan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!