Belajar di luar sekolah perlu menjadi urusan bersama
Belajar berbasis komunitas adalah dukungan pendidikan di luar sekolah yang dibangun oleh warga, keluarga, pendidik, dan pemerintah agar anak memperoleh ruang, pendampingan, serta kebiasaan belajar yang lebih luas. Gagasan ini penting karena kebutuhan anak tidak berhenti saat bel sekolah berbunyi, sementara biaya, jarak, dan keterbatasan fasilitas bisa menghalangi akses bimbingan tambahan. Di Mulyodadi, Rumah Belajar Abyasa menyediakan ruang belajar alternatif gratis; di Sorosutan, Program Jam Belajar Masyarakat (JBM) mengajak sekolah dan warga membangun budaya belajar di tingkat kelurahan. Keduanya menunjukkan bahwa dukungan komunitas bukan pengganti sekolah, melainkan jembatan antara pelajaran di kelas dan kehidupan sehari-hari. Perbedaannya terletak pada bentuk: satu menawarkan tempat dan ragam kegiatan, yang lain mengatur pendampingan kolektif di lingkungan warga.

Abyasa: ruang belajar gratis dengan banyak pintu masuk
Rumah Belajar Abyasa hadir di Kalurahan Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul, sebagai ruang belajar alternatif gratis, terutama bagi anak dari keluarga prasejahtera. Kegiatannya mencakup bimbingan akademik, literasi, menulis kreatif, perpustakaan mini, pojok baca, persiapan ujian, bahasa Inggris, serta pelatihan keterampilan seperti berpikir kritis dan berbicara di depan umum. Ragam ini membuat dukungannya lebih luas daripada mengejar nilai atau menuntaskan pekerjaan rumah. Rumah belajar tersebut menggunakan kios milik kalurahan, dengan dukungan pemerintah kalurahan dan Dana Keistimewaan untuk program, kapasitas pengajar, serta sarana belajar. Seorang pengajar, Risma, menyebut kegiatan ini membantu keluarga prasejahtera memperoleh akses pendidikan tambahan di luar sekolah. Pendekatan Abyasa tepat untuk mengatasi hambatan akses: anak mendapat ruang dan pendampingan tanpa biaya tambahan bagi keluarga.

JBM: membangun kebiasaan belajar di lingkungan warga
JBM mengambil jalur berbeda: bukan hanya menyediakan tempat belajar, tetapi mengorganisasi kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, pengurus RT/RW, dan masyarakat. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meninjau kegiatan di Kantor Kelurahan Sorosutan pada 30 Oktober 2026. Program ini memberi pendampingan untuk kemampuan dasar, literasi, numerasi, serta ilmu pengetahuan alam dan sosial dengan metode interaktif. Sekitar 24 guru dari Dinas Pendidikan ditugaskan mendampingi kegiatan di empat kelurahan sebagai tahap awal. Di Sorosutan, JBM telah berlangsung sejak awal September 2026, empat hari sepekan; peserta dibagi dalam kelompok kelas 1–3 dan 4–6, rata-rata 50 anak per kelompok. Skala ini memperlihatkan daya jangkau model kelurahan, tetapi juga menuntut cukup pendamping dan jadwal yang tidak mengorbankan waktu istirahat anak.

Saling melengkapi, bukan memilih salah satu
Abyasa menawarkan kesinambungan ruang dan program yang beragam; JBM mengandalkan koordinasi warga dan sekolah untuk menumbuhkan budaya belajar bersama. Karena itu, keduanya memberi pelajaran yang berbeda bagi pendidikan anak desa: akses gratis perlu disertai lingkungan yang mendorong anak hadir dan terus belajar. Seorang orang tua peserta JBM mengatakan anak-anaknya lebih bersemangat belajar bersama teman daripada saat belajar di rumah. Kesaksian itu mengingatkan bahwa dukungan sosial dapat mengubah kegiatan belajar dari beban menjadi kebiasaan. Namun, antusiasme saja tidak cukup. Hasto mendorong penambahan guru pendamping dan penyesuaian waktu agar anak tetap cukup beristirahat. Ke depan, JBM juga akan memperkuat keterlibatan mahasiswa dan profesional melalui kelas inspirasi, sementara pengelola Abyasa berharap ekosistem belajarnya terus tumbuh secara berkelanjutan dan partisipatif.
Kesimpulannya, ruang belajar gratis dan jam belajar masyarakat bukan dua jawaban yang saling meniadakan. Ruang seperti Abyasa memperluas akses terhadap materi, fasilitas, dan pengembangan diri; program seperti JBM menggerakkan sekolah, keluarga, dan tetangga untuk ikut menjaga ritme belajar. Dukungan terbaik muncul ketika keduanya bertemu: ada tempat yang mudah dijangkau, pendamping yang memadai, kegiatan yang relevan, dan jadwal yang menghormati kebutuhan anak. Komunitas tidak mengambil alih tanggung jawab sekolah atau keluarga, tetapi dapat memastikan bahwa dukungan belajar tidak berhenti di gerbang sekolah.







