Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Belajar Budaya Dunia Lewat Pengalaman di Sekolah

Belajar Budaya Dunia Lewat Pengalaman di Sekolah
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Budaya lebih mudah dipahami saat dialami

Pembelajaran lintas budaya adalah proses mengenalkan siswa pada kebiasaan, bahasa, dan cara hidup masyarakat lain melalui perjumpaan serta pengalaman yang dapat mereka ikuti secara langsung. Pendekatan ini lebih berkesan daripada sekadar menghafal nama negara karena siswa bisa bertanya, mendengar cerita, dan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sehari-hari. Dua kegiatan sekolah memperlihatkan bentuknya: kunjungan Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, ke MI Khoirul Huda Pabean melalui program ConGen Goes to School, serta kegiatan Cross Culture Understanding di SDII Al Abidin Yogyakarta pada 28–29 Oktober 2026. Keduanya menjadikan ruang kelas tempat perjumpaan dengan dunia luar. Perbedaannya terletak pada skala: satu kunjungan berfokus pada Australia, sementara kegiatan lainnya membuka jendela ke sejumlah negara sekaligus. Namun, keduanya menempatkan interaksi sebagai inti pembelajaran.

Satu kunjungan, budaya Australia dan bahasa Inggris

Di MI Khoirul Huda, kedatangan Glen Askew menggabungkan pengenalan budaya Australia dengan latihan bahasa Inggris siswa. Melalui cerita dan interaksi langsung, siswa berkenalan dengan Negeri Kanguru dalam suasana santai; mereka juga menerima suvenir dan mencicipi camilan populer Australia, TimTam dan Milo. Unsur-unsur kecil itu bukan hiasan belaka: benda dan rasa dapat menjadi pemantik percakapan yang membuat budaya terasa dekat. Guru International Class Program, Kurrotul Ainiyah, menyebut kunjungan itu memberi pengalaman belajar sekaligus motivasi. Siswa Mevlana Zidan pun mengaku lebih bersemangat belajar bahasa Inggris setelah bertemu langsung dengan konsul jenderal. Model ini kuat karena fokusnya jelas dan mudah diingat, tetapi satu negara saja tentu belum menggambarkan luasnya keberagaman dunia. Meski demikian, budaya Australia di sekolah hadir sebagai pengalaman nyata, bukan sekadar bahan bacaan.

Belajar Budaya Dunia Lewat Pengalaman di Sekolah

Empat pengajar, lebih banyak sudut pandang

SDII Al Abidin Yogyakarta memilih format yang lebih majemuk melalui Cross Culture Understanding, bagian dari Cambridge Class Program. Kegiatan pada 28–29 Oktober 2026 itu menghadirkan empat pengajar tamu: Madu dari Pakistan, Oisha dari Tajikistan, Momoka dari Jepang, dan Fahmida dari Bangladesh. Siswa tidak hanya menyimak, tetapi juga berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dibanding kunjungan yang berpusat pada satu tamu dan satu negara, format ini mempertemukan anak dengan beberapa latar budaya dalam rentang kegiatan yang sama. Kepala sekolah Kartika Desi Purwanti menyatakan bahwa interaksi tersebut diharapkan memperluas wawasan, meningkatkan kepercayaan diri, dan menumbuhkan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai tambahnya bukan sekadar jumlah negara: percakapan langsung memberi siswa kesempatan berlatih mendengar dan menanggapi perspektif yang berbeda.

Pertukaran budaya perlu menjadi pengalaman, bukan seremoni

Kedua pendekatan menunjukkan bahwa pertukaran budaya sekolah tidak harus menunggu perjalanan ke luar negeri. Tamu yang datang ke sekolah dapat membawa cerita, kebiasaan, bahasa, dan pengalaman yang membuka percakapan lintas batas. Kunjungan MI Khoirul Huda menautkan budaya Australia dengan dorongan belajar bahasa Inggris; kegiatan SDII Al Abidin memperluas cakrawala melalui empat pengajar dari latar berbeda dan komunikasi aktif. Keduanya juga mengingatkan bahwa bahasa berfungsi sebagai jembatan, bukan tujuan tunggal. Pengalaman seperti ini berpotensi menumbuhkan rasa ingin tahu, toleransi, dan keterbukaan sejak dini—asal siswa diberi ruang untuk bertanya dan terlibat, bukan hanya menjadi penonton. Sekolah tidak perlu memilih satu format sebagai pemenang: kunjungan terarah dan kelas lintas budaya saling melengkapi. Kesimpulannya, pendidikan budaya paling kuat ketika keberagaman hadir sebagai perjumpaan yang dapat didengar, dibicarakan, dan dialami siswa.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!